Kristus sebagai Hikmat Tertinggi: Dasar Iman Kristen

Kristus sebagai Hikmat Tertinggi adalah Dasar Iman Kristen

Bagi orang Yahudi hikmat dalam pemahaman khokhma. Bagi orang Yunani hikmat ini dalam pemahaman sofia (= logos). Berita mengenai Yesus direinterpretasi sesuai konteks. Yesus Kristus diperkenalkan sebagai hikmat, terutama dalam konteks Atena,  filsafat sangat berkembang. Aliran-aliran filsafat kala itu sangat bersaing untuk mengklaim kebenaran-kebenaran filsafatnya sebagai filsafat yang membuka misteri kehidupan. Paulus menggunakan konteks tersebut untuk memperkenalkan Yesus Kristus. Paulus mengklaim bahwa pencarian yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya, berada dalam diri Yesus Kristus. Agama populer dan dalam diskusi filsafat, dari jiwa terdalam manusia telah lama mencari-cari hikmat, mencoba memahami Allah, dapat ditemukan dalam diri Yesus Kristus. (Davidson, 1998:148). Hikmat yang dicari-cari manusia dapat ditemukan dalam diri Yesus Kristus. Bagi orang Yahudi, khokhma dalam Perjanjan Lama itu telah dinyatakan dalam diri Yesus Kristus. Bagi orang Yunani, sofia yang dicari-cari itu berada dalam diri Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah khokhma dalam pengertian hikmat Israel. Setiap orang Yahudi menghendaki kehidupan yang berhikmat, dan acuan mereka selalu pada Kitab Suci (Perjanjian Lama). Kini khokhma itu bukan lagi hanya tulisan. Khokhma itu telah menjadi manusia Yesus. Namun Yesus Kristus bukan sekedar personafikasi metafora hikmat. Ia hikmat tertinggi yang melampaui hikmat dalam kitab Sirakh (24:19-22), di mana orang yang datang dalam perjamuan akan kembali haus dan lapar. Hikmat tertinggi akan membuat orang tidak lapar lagi (Yoh 6:35); dalam perjamuan Yesus Kristus sebagai Hikmat Tertinggi, orang “tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14).

Yesus Kristus adalah sofia dalam pengertian hikmat Yunani. Setiap orang Yunani mencari-cari hikmat yang berhubungan dengan yang ilahi. Kini yang ilahi itu mewujud manusia Yesus Kristus. Bagi orang Yahudi, orang Yunani, dan bagi seluruh manusia yang menghendaki hidup bijaksana dan mengetahui rahasia ilahi, Yesus kristuslah sumbernya. Yesuslah sumber hikmat bagi kita dalam menata kehidupan yang bijaksana dan mengenal misteri ilahi dari Sang Pencipta. Yesus Kristus sumber hikmat untuk dapat hidup bermutu secara horisontal, maupun secara vertikal.

Hikmat ini yang menjadi pegangan kita untuk terus beriman. Pada masa kini, banyak orang mulai kembali memiliki semangat Yahudi yang menghendaki suatu tanda keajaiban untuk dapat percaya. Peristiwa Meko, yang sangat terkenal karena adanya mujizat kesembuhan, di Toraja dengan adanya penampakan ajaib, sering menjadi diskusi yang memberi kesan bahwa kepercayaan itu menjadi kuat karena adanya tanda. Hal ini menyebabkan prilaku rohani beberapa “alumni Meko” (demikian orang-orang yang pernah ke Meko menyebut diri) tiba-tiba terlihat begitu saleh. Tentu saja ini positif bagi aktifitas gereja dan kesaksian religius kekristenan. Namun bagaimana dengan orang yang tidak merasakan tanda itu terjadi? Dari pandangan orang luar, segera akan dihakimi bahwa itu terjadi karena yang bersangkutan berdosa atau tidak sungguh-sungguh. Sedangkan pada diri yang bersangkutan, akan timbul akar pahit secara rohani.

Konteks kontemporer kita, yang terlalu sekuler oleh pengaruh global informatika dan teknologi, menggiring kita pada rasionalitas sentris. Segala-galanya mulai kita rasionalisasikan. Perkara ini terjadi dalam masa Korintus. Pencarian kepandaian secara intelektualitas menjadi halangan sebagian orang untuk dapat menerima perkara-perkara rohani. Dalam konteks kontemporer semacam ini, Kristologi hikmat akan sangat bermanfaat untuk terus menyegarkan keyakinan kita akan perkara-perkara rohani maupun perkara sekuler. Karena Kristologi hikmat, tidak hanya berurusan dengan Allah secara vertikal, namun juga berurusan dengan kebijaksaan hidup secara praktis dalam kehidupan ini. Yesus Kristus sebagai Hikmat Tertinggi menjadi dasar kepercayaan yang tangguh, melampaui suatu tanda dan kecerdasan intelektual yang banyak dicari manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s