Mujizat dan Cerita Mujizat

Mujizat (Ibrani: tAa /oth, Yunani: shmei/on /semeion)

Perbandingkan Beek & Fuller[1]

Oleh: Paulus Masarrang Tangke

A van de Beek: Mujizat dan Cerita-cerita Mujizat

Beek menyatakan bahwa mujizat selalu mempunyai peranan penting dalam berbagai diskusi. Ia membahas hal-hal yang memberi petunjuk bagaimana kita dapat memahami cerita-cerita mujizat dalam Alkitab, apa makna mujizat dalam pengalaman dan penhayatan sebagai manusia. Bagian pertama yang dibahas Beek adalah menggambarkan situasi budaya sejak masa Pencerahan, yang didalamnya tidak ada tempat untuk mujizat; juga situasi teologis yang mungkin terjadi sekiranya situasi budaya itu diterapkan dengan ketat dan serius. Pada bagian kedua, ia membahas sejumlah cerita mujuzat yang terdapat dalam Alkitab dan disepanjang sejarah gereja, dan akhirnya, pada bagian ketiga ditawarkan suatu rancangan tematis tersendiri yang di dalamnya berbagai cerita tentang kebangkitan Yesus menjadi inti pemikiran Teologi kristiani yang berlaku sebagai instansi kritis yang terakhir.

1. Suatu Sketsa Situasi

Ada tiga hal utama yang dikemukakan: mujizat tidak akan terjadi (mujizat tidak lagi berlaku didunia, keajaiban tidak berdaya, kita tidak percaya akan mujizat, cerita mujizat yang religius), Mujizat dapat saja terjadi (Allah itu Mahakuasa, Alkitab memang benar, teori Kuantum—arah baru menuju mujizat), Teologi tanpa Mujizat (mujizat dan Teologi Kristen, menghilangkan mitos, dapatkah teologi berjalan tanpa sejarah?, pertanyaan-pertanyaan kunci, lebih jauh daripada Bultmann).

Pandangan pertama, mujizat tidak akan terjadi, disebabkan karena dianggap tidak ilmiah. Banyak orang merujuk pada laboratorium atau observatorium. Sekalipun ada hal yang terjadi yang disebut ‘keajaiban’, namun itu bukanlah mijizat. Keajaiban mungkin masih dapat berperan dan dibicarakan secara teoritis, tetapi dalam suatu penelitian yang sungguh-sungguh, manusia memiliki perhitungan sendiri. Mijizat, dalam pandangan ini, diartikan sebagai sebagai suatu kejadian yang dapat dibuktikan langsung asalnya dari kenyataan transenden”. Cerita mujizat yang religius merupakan suatu perkecualian. Namun cerita mujizat itu, tidaklah melampaui kepercayaan atau iman. Mujizat bukanlah dasar iman. Iman itulah mujizat satu-satunya dan yang benar, yang bertolak belakang dengan pengalaman apapun dan dimana pun juga.

Pandangan kedua, mujizat dapat saja terjadi, dipaparkan melalui tiga aliran. Aliran pertama, mendasarkan kepercayaan bahwa mujizat dapat saja terjadi pada pernyataan Allah itu Maha Kuasa. Allah Mahakuasa dan kemahakuasaan-Nya tidak terbatas, termasuk membuat mujizat. Kelemahan pandangan ini adalah bahwa mujizat akhirnya akan dipandang sebagai hal yang biasa saja, sehingga makna mujizat menjadi hilang/dirampas. Aliran kedua mendasarkan keyakinannya bahwa mujizat itu dapat saja terjadi, kepada penyataan Alkitab Memang Benar. Terhadap aliran kedua, telah banyak upaya orang untuk membuktikannya secara ilmiah. Namun kebenaran yang dibuktikan itu tidak lebih dari kebenaran empiris. Kebenaran empiris bukanlah kebenaran iman dan kasih yang mendengung dalam Alkitab, Firman Allah yang hidup, viva vox Dei. Kebenaran iman menjulang jauh di atas setiap pembuktian. Aliran ketika yang menggunakan teori Kuantum. Teori ini menyatakan bahwa kenyataan fisis terdiri dari bagian-bagian elementer yang secara menyeluruh merupakan kelipatan dari sejumlah energi. Materi-materi juga dapat dilihat sebagai kumpulan energi. Namun teori kuantum ini sama sekali tidak dapatmendasari sikap percaya pada mujizat. Jika kita mengartikan mujizat sebagai campur tangan ilahi atau kekuatan lain di luar alam semesta, setidaknya kita tidak akan berbicara terlalu pasti dibandingkan dengan cara yang dianut paham determinisme—yang dengan tegas mengatakan bahwa mujizat tidak dapat terjadi.

Selanjutnya, Beek membahas topik mengenai Teologi Tanpa Mujizat. Ia menyatakan bahwa ada dua alasan mengapa mujizat begitu besar peranannya dalam teologi Kristen.

Pertama, Teologi senantiasa mencari tanda atau simbol untuk menyatakan rahasia Allah. Mujizat merupakan bagian dari tanda atau simbol itu. Melalui tanda-tanda dan simbol itulah kita menemukan penyataan siapa Dia, dimana Dia, dan bahwa Dia ada. Mujizat menjadi jaminan untuk dapat berbicara tentang Allah, yang keberadaanNya sungguh lain dari dunia ini, tetapi yang masih juga menyatakan diri-Nya kepada dunia ini.

Kedua, Alkitab sangat kaya akan kisah-kisah mujizat yang sungguh besar artinya untuk tradisi kepercayaan kristiani, seperti tanda ajaib yang dibuat Yesus sendiri. Yesus bahkan menyembuhkan banyak penyakit dan membangkitkan orang mati. Jika naskah-naskah kanonik gerejawi melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru begitu sering membicarakan soal keajaiban, bahkan dalam pekabaran Injil yang paling dini tentang karya mesianis Yesus, selalu terungkap kembali betapa besar peranan karya mujizat itu.

Seorang pakar Perjanjian Baru berkebangsaan Jerman, Rudolf Bultmann (1884-1976), sangat mendalami hal-hal mengenai mujizat. Bultmann berpendapat bahwa sikap percaya pada mujizat sangat merugikan iman yang benar, karena sikap seperti itu bukan iman, karena itu merupakan dosa. Bultmann menolak pernyataan utama: (1) Perjanjian Baru sudah menjadi kuno, sehingga tidak lagi mengandung pesan masa kini. Teologi Kristen hendak mempertahankan sifat normatif Perjanjian Baru, dan sekaligus tetap berlaku pada masa kini. (2) ada kecenderungan untuk mengadakan seleksi antara apa yang masih dapat dan apa yang tidak dapat lagi dipercayai. Metode “Auswahl und Abstriche” (memilih dan mencoret). Perlu dilakukan Entmythologisierung (proses pembebasan dari mitos). Perjanjian Baru dianggap ada memiliki sifat mitos dan gambaran-gambaran yang bersifat mitis untuk suatu peristiwa. (3) pada abad ke-19 telah diupayakan untuk membuat mitos tidak terpaut pada Perjanjian Baru. Ada upaya mengamankan kerygma (pemberitaan Injil) dan serentak membuat mitos tidak berpaut.

Penafsiran eksistensialis karya Bultmann, berkisar pada dua hal inti. Pertama, bahwa berita Perjanjian Baru, untuk benar-benar menjadi berita bagi manusia masa kini, harus dikalimatkan dengan cara yang lain, bahwa manusia tidak percaya adanya kemungkinan untuk mengenal Allah melalui pengalaman. Allah tidak dapat dipahami secara empiris, tetapi secara eksistensial. Kedua, pandangan hidup adalah sesuatu yang berkaitan dengan nasib yang harus dialami manusia, yaitu bahwa kemungkinan untuk percaya atau tidak percaya akan mujizat adalah hakikat yang diberikan kepadanya bersamaan dengan keberadaannya di dunia.

2. Tanda-tanda Ajaib Dikisahkan

Ada enam bagian yang dibahas Beek: Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban (cerita-cerita aneh, tanda yang dibantah, menimbulkan kesan, berpikir tentang Allah), dibelah-Nya laut, diseberangkan-Nya mereka (Dia yang menguakkan Laut Teberau, sebuah cerita, fakta-fakta, para pelakunya, pengalaman), Kerajaan Allah telah datang kepadaMu (bukan mujizat, bukan tanda, tak seorangpun mampu membuat tanda bila Allah tidak beserta dengan dia, kuasa-kuasa, melalui kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat dan tanda-tanda, penuh keheranan), Dia yang berjalan diatas ombak Laut (keajaiban alam, suatu penampakan ilahi, cerita sebagai sarana pengakuan, suatu pengakuan ada asal usulnya, mereka melihat hantu), Yesus adalah pemenang (Blumhardt sebagai pemberita firman, penyembuhan penyakit, roh-roh jahat dihalau, aneh dan mengherankan), dosamu telah diampuni (untuk mengenang Markus, Firman, iman dan pengampunan, hidupmu telah sembuh dan dosamu telah diampuni, kembali ke Danau).

Berbagai tanda yang dinyatakan dalam pembahasan (Perjanjian Lama) tersebut disimpulkan bahwa tanda-tanda itu pada dasarnya tidak mengandung suatu tujuan, tetapi berfungsi untuk mengabsahkan/melegetimasi para nabi sebagai utusan Allah dan untuk menunjukkan kemahakuasaan Allah; Tanda-tanda itu menyatakan penunjukan kualitatif, bukan asal-asalan; dan tanda-tanda itu tak dapat ditampilkan tanpa kata-kata pengantar bahwa Allah Mahakuasa. Mujizat-mujizat di dalam Perjanjian Lama meminta perhatian kita dengan maksud agar melalui semua itu kita peka untuk mendengar panggilan nabi dan perintah Allah.

Dalam Perjanjian Baru, mujizat-mujizat yang terjadi, termasuk yang dilakukan oleh Yesus, merupakan karya Allah. Penampakan Yesus merupakan suatu penampakan dari Allah. Mujizat-mujizat yang terjadi atas alam dan keberadaan roh-roh, melampaui pemahaman kita terhadap keteraturan atau hukum alam kita. Mujizat yang terjadi melalui Yesus membawa kita pada pengakuan Allah Maha Kuasa, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Hal ini dirasakan oleh mereka yang tidak mundur setapak pun dalam imannya.

3. Titik Terang Menuju Masa Depan Allah

Ada dua bagian: Perumpamaan dalam Perbuatan (lebih banyak kesamaannya, Allah memerintah dunia melalui hukum dan janjiNya, untuk dapat memahami tanda-tanda-Mu, dapatkah anda memiliki yang tidak anda terima?), Akan Tetapi, Kini Kristus Sudah Bangkit (Mujizat dan hal mengaku Kristus, diberitakan bahwa Kristus sudah bangkit, bagaimana mereka memperoleh gagasan itu, hantu tidak ada daging dan tulangnya, terjadinya dalam konteks historis yang konkret, tubuh yang rohaniah, kubur yang kosong, mujizat di dalam terang kebangkitan).

Pada bagian pertama, Beek memaparkan pendapat orang-orang yang tidak percaya mujizat karena adanya Aufklarung (pencerahan). Ia menyatakan bahwa ada banyak alasan orang menolak adanya mujizat. Ada yang karena alasan berdasarkan fisika, ada juga yang berdasarkan ilmu psikologi dan ada pula yang memandang mujizat-mujizat sekedar karya sastra. Terhadap para pakar tersebut, Beek memberikan tiga gagasan/himbauan:

1) menyarankan kepada para ilmuan lainnya supaya lebih peka tehadap yang khusus dan terutama pada hal-hal yang luput dari sistematisasi. Kepada konservator disarankan untuk tidak lagi menginjak-injak kumbang-kumbang yang ia tidak berhasil menentukan klasifikasinya. Kepada para pakar botani supaya memperhatikan jenis-jenis tanaman yang terkena oleh sistem Linaeus. Kepada pakar sejarah dihimbau supaya matanya lebih terbuka untuk hal-hal yang lebih luas, yaitu terutama untuk perkara-perkara atau pribadi-pribadi yang di dalam ikhtisar sejarah yang terkenal tidak pernah mendapat tempat.

2) satu langkah lebih jauh ialah penunjukan kepada para ilmuan yang lain pula bahwa tidak semua perkara dapat disistematiskan. Tidak semuanya terletak pada satu garis. Kita harus waspada terutama terhadap orang-orang yang mengembangkan visi total dalam disiplin ilmu yang kompleks, seperti sejarah atau psikologi. Ia harus curiga terhadap teolog yang berhasil membangun sistemnya, sebab pada dasarnya telah mendarah daging pada para teolog yang menyangka bahwa mereka paling ahli dalam membangun suatu sistem menyeluruh yang tidak hanya dunia, tetapi juga Allah tercakup di dalamnya.

3) yang terpenting dalam hal seorang teolog dapat menarik minat orang lain ialah pengalaman bahwa segala sesuatu yang kita ketahui diberikan kepada kita. Kita menerimanya sebagai anugerah. Semuanya itu dinyatakan kepada kita. Segala sesuatu yang kita ketahui tentang Allah bukanlah ditemukan melalui penelitian yang rajin dan cermat, akan tetapi karena Dia memang ada. Kita tidak memanggil-Nya, akan tetapi kitalah yang Ia panggil. Ia mencari kita. Kita hidup dari apa yang telah kita terima.

Penegasan Beek, pada bagian kedua, adalah bahwa mujizat ditanggapi dalam suatu tradisi tertentu, yakni “ajaran menegaskan mujizat”. Ini berarti bahwa orang-orang Kristen menghayati dunia ini dalam konteks iman Kristen. Dalam berbagai perbedaan dan kepelbagaian diantara orang Kristen, Kristus merupakan tali pengikat yang mempersatukan. Hal ini berarti pula bahwa cara berpikir tentang mujizat, dalam tradisi kristiani, selalu dipahami dibalik terang Kristus.Teologi kristiani tidak pernah dapat digelar tanpa Kristus.

Acuan utama Beek dalam teorinya mengenai cerita Mujizat, didasarkannya pada Kebangkitan Yesus. Ia menyatakan bahwa ada tiga perkara yang terkadung dalam Kebangkitan Yesus. Pertama, pengakuan bahwa makna Yesus tidak terhenti pada kematian-Nya di kayu salib. Kedua, (dalam apokaliptik Yahudi) itu bersifat kristologis. Yesus itulah Mesias dari Allah yang kepada-Nya kuasa penghakiman diberikan. Dengan demikian, cerita kebangkitan mengambil bentuk lain dari pengungkapan melalui gelar-gelar yang bersifat kristologis, seperti “Yesus adalah Putra Allah”, Dia adalah Anak Manusia”, “Dialah Tuhan”. Kepada-Nya diberikan segala kuasa baik di sorga maupun di bumi dan Dialah yang duduk di sebelah kanan Allah untuk menghakimi yang hidup dan yang mati. Ketiga, cerita kebangkitan itu tidak saja berbicara tentang Yesus, tetapi juga tentang dunia. Bila kebangkitan orang mati telah terjadi, maka itulah tanda berakhirnya dunia yang lama.

Setelah membahas persoalan kebangkitan dan penampakan Yesus, kubur yang kosong dan keberadaan tubuh Yesus pasca-Kebangkitan, Beek menyimpulkan cara berpikir kita mengenai mujizat. Pertama, mujizat menyatakan sesuatu dari “sisi seberang” mengingat bahwa Paskah merupakan datangnya Kerajaan Allah. Kedua, mujizat menunjuk kepada Kristus yang bangkit, yang pada gilirannya membangkitkan suatu pemikiran yang tertuju kepada-Nya. Disini mujizat dipahami sebagai yang menerobos tatanan yang biasa dan menunjuk kepada Allah.

Fuller: Menafsirkan Mukjizat

Dalam tulisan bukunya ini, Fuller sebagai seorang pakar dalam Ilmu Tafsir Alkitab mencoba membahas beberapa segi hakiki dari mujizat, sebagaimana dapat dibaca dalam kitab-kitab Injil. Ia mencoba memadukan antara sikap kritis dengan amanat pokok yang terkandung dalam Warta Gembira Injil. Fuller membagi enam bagian dalam membahas hakikat mujizat.

1. Paham Alkitabiah tentang Mujizat

Mujizat dipahami secara beragam. Bagi orang awam, mujizat biasanya diartikan sebagai kejadian yang berlawanan dengan alam. Bagi Augustinus, teolog modern, mujizat diartikan sebagai suatu kejadian yang berlawanan dengan apa yang diketahui tentang alam. Teori Augustinus ini menyatakan bahwa bila kita mengetahui begitu banyak tentang alam, maka sebuah mujizat tidak akan mendapat tempat lagi. Bagi Alkitab, sejarah adalah arena dimana Tuhan secara khusus campur tangan sepanjang waktu, membantu manusia, memaksakan tuntutan-tuntutan atas mereka dan menghukum manusia yang tidak setia. Inilah campur tangan luar biasa yang biasanya disebut mujizat Alkitab. Mujizat sebagai peristiwa pokok adalah peristiwa Keluaran dan Kristus. Keduanya merupakan mujizat dasarumat Allah.

Paham alkitabiah tentang mujizatberlawanan dengan paham yang mengatakan bahwa mujizat merupakan suatu peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam, atau bertentangan dengan apa yang diketahui tentang alam. Mujizat juga bukanlah bukti-bukti atau tanda-tanda dari keilahian Tuhan, seperti dikemukakan William Paley (1794), berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, keilahian Tuhan bukan sekedar sebagai suatu ide abstrak, bukan pula suatu sifat adikodrati yang terbungkus dalam hakikat kemanusiaan-Nya. Keilahian lebih menunjuk kepada pembicaraan tentang kehadiran dan tindakan Allah dalam diri Yesus. Kedua, tidak dapat dibuktikan bahwa suatu peristiwa merupakan tindakan Allah. Hanya imanlah yang mengenalnya demikian. Iman bukanlah penerimaan psikologis tentang suatu pernyataan yang abstrak, misalnya bahwa Yesus itu ilahi. Iman adalah keterlibatan total kita pada tindakan Allah yang menyelamatkan. Mujizat bukan bukti, melainkan tantangan bagi iman. Mujizat itu adalah tindakan Allah.

Dalam Alkitab, kata-kata yang digunakan untuk mujizat adalah tAa oth (Kel.7:3) dan shmei/on semeion. Di dalam Injil Sinoptik, semeion mempunyai arti yang agak negatif. Secara kosisten Yesus menolak untuk memberikan suatu ‘semeion’, tanda yang bersifat melegetimasikan. Dalam Yohanes, semeion mengacu pada pengertian Perjanjian Lama tentang suatu tanda yang diberikan Allah yang menunjuk pada sesuatu dibalik tanda itu. Bagi Yohanes, semeion menunjuk pada mujizat agung, dalam hal ini salib dan kebangkitan. Selain kata semeion dan oth, kata yang juga menunjuk pada mujizat adalah du,namij dunamis (kuasa yang mengagumkan), ergon (kuasa), teras (takjub), thaumasia (hal-hal ajaib), paradoxa (hal-hal aneh), dan aretai (perbuatan-perbuatan menakjubkan).

2. Karya-karya yang Mengagungkan

Apakah Yesus membuat mujizat? Bagi Pembela Iman (apologis) yang konservatis menegaskan bahwa “Allah bisa melakukan mujizat: Yesus adalah inkarnasi Allah. Karena itu. Seharusnya Dia mampu melakukan mujizat, maka Dia melakukan mujizat”. Bagi kaum rasionalis, mujizat tidak bisa terjadi. Secara ilmiah, mujizat itu mustahil terjadi di jagat raya yang ditentukan oleh hukum sebab-akibat ini. Kaum rasionalis menyatakan bahwa Yesus tidak pernah melakukan mujizat apa pun.

Mujizat tidak hanya diceritakan dalam kitab Injil. Di luar Injil, ada tindakan mujizat yang diceritakan. Perbuatan ajaib dilakukan juga oleh Rasul Paulus (2Kor 12:12, Roma 15:18-19). Rasul Paulus juga menyatakan adanya karunia mengadakan mujizat (1Kor 12:10). Peristiwa tindakan mujizat juga terjadi dalam kita Kisah Para Rasul. Di luar Alkitab, ada tindakan mujizat yang dilakukan Rabbi Hanina bin Dosa yang menyembuhkan putra Rabbi Yohanan bin Zaccai di Palestina (70 Masehi). Demikian juga ada tulisan-tulisan mengenai tindakan mujizat yang ditemukan pada enam buah tiang di kota Epidaurus, Lourdesnya dunia kuno. Di dalam Tractate Sanhedrin 43a, tradisi Rabbi, disebutkan tentang “Yeshu” dari Nazareth yang mereka salibkan pada malam paskah, karena melakukan “praktek ilmu sihir”.

Kitab Injil dengan jelas mencatat bahwa Yesus melakukan mujizat, melakukan penyembuhan, dan mengusir roh jahat. Yesus menafsirkan mujizat-Nya sehubungan dengan pewartaan-Nya akan Kerajaan Allah yang mulai tampak. Iman sebagai keyakinan akan tindakan Allah yang menyelamatkan sering menyertai Mujizat. Mujizat Yesus merupakan tindakan yang berasal dari Allah.

3. Penafsiran Gereja Perdana tentang Mujizat

Gereja perdana menafsirkan Mujizat-mujizat sebagai karya-karya Mesias. Gereja perdana, yang kita ketahui melalui tradisi quelle, bahan Markus, dan bahan khusus Lukas, dengan mempergunakan kisah-kisah mujizat, hendak mewartakan bahwa Allah sedang berkarya bagi keselamatan manusia. Yesus Kristus melalui gereja, masih mengerjakan hal yang sama seperti ketika Yesus masih hidup di Galilea. Dia membebaskan manusia dari cengkeraman setan dan memberinya anugerah keselamatan.

4. Tafsiran Mujizat dalam Injil Sinoptik (lima kelompok mujizat dalam Markus, Rahasia Mesianis dalam Markus, sepuluh Mujizat dalam Matius, arti Mujizat menurut Lukas).

Injil Markus mencatat lima kelompok mujizat yang dilakukan Yesus. Melalui pemaparan Mujizat tersebut, Markus hendak menyatakan rahasia Mesianis. Markus ingin agar mujizat-mujizat dan penyingkap-penyingkap pribadi Yesus lainnya dalam pelayanan-Nya, dilihat oleh pembaca sebagai wahyu-wahyu tentang Yesus yang bangkit dan yang dialamatkan kepada para pembaca sendiri.

Injil Matius merupakan edisi yang diperbaharui dari Markus. Matius menambahkan bahan dari Quelle dan sumber khusus Matius. Matius mencatat sepuluh kisah mujizat yang dilakukan Yesus. Kisah mujizat tersebut digunakan Matius sebagai pewartaan Yesus sebagai Tuan dari Gereja-Nya yang sedang berjalan. Matius meneruskan tradisi yang didengarnya, dan meneruskan keyakinan bahwa Yesus yang sama itu adalah satu-satunya orang yang berkata: “Aku senantiasa menyertaimu hingga akhir zaman”.

Injil Lukas dicatat dengan menyesuaikannnya dengan Kisah Para`Rasul. Secara keseluruhan karyanya adalah sebuah sejarah Gereja Kristen dalam dua jilid: Lukas dan Kis. Dalam catatan Lukas, mujizat adalah kejadian sesaat yang menguatkan tugas para murid; mujizat adalah bukti mengenai tugas Yesus. Bagi Lukas, mujizat adalah bagian terpenting dari riwayat hidup Yesus sebelum penderitaan-Nya; mujizat sebagai kenyataan sejarah masa lampau; mujizat adalah sifat khas dari fase utama tindakan yang mahahebat dari penebus manusia; mujizat Yesus merupakan penggenapan ramalan Perjanjian Lama.

5. Mujizat di Mata Yohanes (buku tanda-tanda, penafsiran Yohanes)

Injil Yohanes ditulis dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat dimengerti orang-orang dari dunia Hellenis, sebagai pewartaan Gereja perdana. Yohanes banyak menggunakan bahannya dari buku “Buku Tanda-tanda”, yang berisi kumpulan mujizat yang dilakukan Yesus. Gaya dan bentuk kisah-kisah mujizat yang terdapat dalam smber yang dipakai Yohanes, serupa dengan kisah-kisah mujizat dalam tradisi lisan yang melatarbelakangi penulisan Injil-Injil sinoptik. Perbedaannya, Yohanes lebih menonjolkan segi keajaibannya. Bagi Yohanes, kisah mujizat itu adalah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dalam pelayanan Yesus. Keseluruhan pelayanan Yesus ditafsirkan sebagai tindakan pewahyuan diri dan tindakan Allah yang menyelamatkan dalam inkarnasi, kematian dan kebangkitan Anak. Mujizat-mujizat mengajarkan tindakan penebusan Allah yang menyeluruh dalam Kristus.

6. Mujizat dalam khotbah kita sekarang

Fuller menegaskan bahwa studi akademis mengenai Perjanjian Baru mesti senantiasa diarahkan kepada suatu pelayanan Gereja. Kita tidak bisa menghindari khotbah mengenai mujizat, karena kisah mujizat adalah bagian Injil yang khas dan mencolok. Mujizat dalam Injil bukan merupakan kisah mengenai apa yang telah terjadi jauh di Palestina dua ribu tahun yang lalu, melainkan pewartaan karya-karya Yesus dewasa ini. Peristiwa mujizat di Kana, kita bisa khotbahkan bahwa kekurangan, kehabisan anggur, kehabisan bahan, kehabisan akal untuk mengatasi kemalangan diri kita sendiri, Yesus memperlihatkan kemuliaan-Nya, yaitu tindakan dan kehadiran Allah yang menyelamatkan.

Komentar Perbandingan

Beek mengupas persoalan Mujizat dalam Injil berdasarkan “tema” yang hendak dibahasnya. Sedangkan Fuller, mengupas persoalan mujizat berdasarkan masing-masing kitab. Jadi, dari segi pembahasan secara mendalam, tulisan Fuller lebih meyakinkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari segi ruang cakupan tulisan mengenai mujizat, tulisan Beek lebih banyak memberikan wawasan.

Hal penting dari kedua penulis adalah menegaskan bahwa mujizat-mujizat dalam Perjanjian Baru, khususnya mujizat Yesus, benar-benar terjadi. Dan keduanya “sepakat” bahwa mujizat tersebut, yang dilakukan oleh Yesus, merupakan tindakan pembebasan atau tindakan penyelamatan Allah. Mujizat yang terjadi melalui Yesus membawa kita pada pengakuan bahwa Allah Maha Kuasa, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

Catatan: huruf Ibrani dan Yunani tidak akan jelas terbaca/tidak dikenali bila komputer anda belum terinstall huruf Ibrani/Yunani).


[1] Beek, A. van de (terj. S.L. Tobing-Kartohadiprojo), 1996. Mujizat dan Cerita-cerita Mujizat, Jakarta: BPK Gunung Mulia; Fuller, Reginald H., 1991, Menafsirkan Mujizat, Yoyakarta: Kanisius.