INKARNASI

Istilah ‘Inkarnasi’ berasal dari bahasa Latin “incarnatio; in” yang berarti “masuk ke dalam”, “caro/carnis” yang berarti “daging”. Inkarnasi dipahami sebagai masuknya Allah ke dalam manusia atau masuknya Kristus ke dalam daging manusia; misteri yang tidak bisa dicerna oleh akal. Kata ‘inkarnasi’ secara sederhana berarti “penjelmaan”. Kata “inkarnasi” ini tidak tidak ada dalam Alkitab. Namun ada beberapa bagian Alkitab Yunani yang berbicara mengenai en sarki yang dalam bahasa Latin disebut in carne sebagai padanan kata incarnatio. Misalnya, 1 Tim 3:16: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan. (kai. o`mologoume,nwj me,ga evsti.n to. th/j euvsebei,aj musth,rion\ }Oj evfanerw,qh evn sarki,( evdikaiw,qh evn pneu,mati( w;fqh avgge,loij( evkhru,cqh evn e;qnesin( evpisteu,qh evn ko,smw|( avnelh,mfqh evn do,xh|)Å Ungkapan “evn sarki, en sarki(“ (sarki, adalah kata benda datif feminim tunggal, dari kata dasar sarx sa,rx), yang dapat berarti “dalam daging, dalam badan phisik; dalam manusia alami, dalam jasmani”. (lihat juga 1 Yoh 4:2; 2 Yoh 7; Kol 1:22; 1 Ptr 3:18; 1 Ptr 4:1). Padanan kata Yunani sarx sa,rx, pada umumnya dalam Perjanjian Lama disebut “rf’B’ basar (269 kali disebut), Sye’er (6 Kali disebut), tivkha (3 kali disebut). Basar yang berarti daging, merupakan unsur utama tubuh atau badan manusia (Kej 40:19), juga binatang (Im 6:27). Jadi, kata sarx dan basar, yang berarti “daging” dipahami juga sebagai jasmani, yaitu bahan yang padat, yang bersama darah dan tulang merupakan organisme jasmani manusia atau binatang; atau dengan kata lain, dapat diartikan sebagai manusia seutuhnya (Roma 7:18); keseluruhan eksistensi seseorang (Kol 2:1). 2. Dasar Inkarnasi: Yoh 1:14 Kai. o` lo,goj sa.rx evge,neto kai. evskh,nwsen evn h`mi/n( kai. evqeasa,meqa th.n do,xan auvtou/( do,xan w`j monogenou/j para. patro,j( plh,rhj ca,ritoj kai. avlhqei,ajÅ Perkataan “kai ho logos sarx egeneto” Kai. o` lo,goj sa.rx evge,neto “berarti adapun itu sabda manusia (yang berdarah dan berdaging) telah menjadi”.

Ada dua hal yang perlu ditekankan mengenai bagian ini. Pertama, Inkarnasi bermaksud menyatakan bahwa Firman Allah telah menjadi daging, yakni bahwa Allah telah menjadi manusia di dalam Yesus orang Nazaret. Dlam berbagai agama dan kepercayaan zaman dahulu, cerita tentang ilah-ilah yang menampakkan diri sekali-kali dan hanya untuk sesaat saja. Para ilah-ilah tersebut tidak benar-benar menjadi manusia, hanya kelihatannya saja menjadi manusia. Tidaklah demikian halnya dengan Yesus Kristus. Ia benar-benar menjadi manusia, manusia seperti kita. Apabila di dalam bahasa Ibrani mau menegaskan bahwa manusia benar-benar manusia, maka untuk itu terdapat suatu ungkapan tetap, yaitu: lahir dari seorang perempuan (Ayub 14:1; 15:14). Yesus juga “lahir dari seorang perempuan” (Gal 4:4). Itu berarti bahwa Ia sungguh-sungguh manusia, dilahirkan, seperti manusia pada umumnya. Kedua, inkarnasi bermaksud menyatakan bahwa firman Allah telah menjadi daging, bahwa Allah telah menjadi manusia, bahwa di dalam Yesus orang Nazaret itu Allah sendiri datang kepada kita. Disekitar kelahiran Yesus Kristus, terdapat rahasia bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah, yang dari luar, dari atas, masuk kedalam dunia manusia.

Oknum yang berinkarnasi adalah Yesus, yang disebut sebagai anak Allah. Dalam Yohanes 1:1-8, disamakan Firman/logos yang kekal dan ilahi itu dengan Anak Allah pribadi, yaitu Yesus Kristus. Paulus berbicara tentang Anak sebagai “gambar atau citra Allah”, baik sesudah berinkarnasi (2 Kor 4:4) maupun dalam keadaan prainkarnasi (Kol 1:15) dan dalam Filipi 2:6 mengatakan bahwa pada prainkarnasi Yesus Kristus ada dalam rupa (morphe) Allah. Ibrani 1:3 menamakan Anak “cahaya kemuliaan Allah”, dan “gambar wujud Allah”. Penyataan tersebut dirumuskan dalam rangka monoteistis, yang tidak memberikan tempat bagi pemikiran adanya dua Allah. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Anak adalah pribadi ilahi, dan secara ontologis satu dengan Bapa; dan bahwa Anak mewujudkan secara sempurna segala sesuatu yang ada dalam Bapa.

Sifat Inkarnasi. Ketika Firman/logos menjadi manusia, keilahianNya tidak ditanggalkan dan tidak berhenti melaksanakan fungsi keilahianNya yang ada padaNya sebelumnay. Dia yang menopang segenap ciptaan dalam keteraturan, dan Dia yang memberikan serta memelihara segala hidup. Fungsi ini secara pasti tidak ditangguhkan pada kurun waktu Dia berada di dunia ini. Ketika Dia datang di dunia, Filipi 2:7, menyatakan bahwa Dia mengosongkan diriNya dari kemuliaan yang dapat kelihatan. Sebaliknya, Dia menjadi miskin, tetapi dalam hal ini sekali-kali tidak terkandung arti berkurang kekuasaanNya yang ilahi. Perjanjian Baru justrru dengan jelas menekankan bahwa keilahian Anak tidak berkurang karena inkarnasi. Paulus menyatakan hal itu dalam Kol 2:9: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”. Jadi inkarnasi bukanlah pengurangan keilahian, melainkan penerimaan kemanusiaan. Dia mengambil jiwa manusia dan tubuh manusia untuk diriNya, dan Dia masuk kedalam pengalaman hidup manusia secara rohani maupun hidup manusia secara jasmani.

Keadaan Inkarnasi. Ada tiga hal yang dapat dikemukakan berhubungan dengan keadaan inkarnasi. Pertama, keadaan inkarnasi adalah ketergantungan dan kepatuhan/ketaatan. Hal ini disebabkan karena inkarnasi tidak mengubah hubungan antara Anak dan Bapa. Bapa dan Anak tetap dan terus berada dalam persekutuan yang tidak pernah putus. Anak mengatakan dan melakukan apa yang diberikan Bapa untuk Anak katakan dan lakukan. Ketidaktahuan Anak tentang kapan waktu kedatangan-Nya yang kedua kali tentu harus diterangkan, bukan sebagai kepura-puraan dengan tujuan yang baik, maupun sebagai bukti bahwa Ia telah mengesampingkan pengetahuan-Nya yang ilahi demi dan selama inkarnasi. Tetapi hal itu untuk memperlihatkan bahwa Bapa tidak menghendaki Anak mengetahui waktu kedatanganNya yang kedua kali itu pada waktu itu. Sebagai Anak, Dia tidak menghendaki atau mencari-cari untuk mengetahui lebih daripada apa yang dikehendaki Bapa untuk diketahuiNya. Kedua, keadaan inkarnasi adalah tanpa dosa dan tanpa cela. Hal itu disebabkan inkarnasi sekali-kali tidak mengubah kodrat asasi dan watak Anak. Seluruh hidup Anak seutuhnya adalah tanpa dosa (2 Kor 5:21). Dia bebas tidak terhisab dan tidak tercemar aib dosa asli Adam, adalah nyata dari fakta bahwa Dia tidak terikat untuk harus mati akibat dosa sendiri, karena Dia tanpa dosa. Hal itu memungkinkan Dia justru dapat mati untuk dan mewakili orang lain. Artinya, yang benar mengambil tempat dari orang yang tidak benar (Roma 5:16). Dia tidak bercela, dan mustahil dapat berdosa adalah sebagai akibat dari fakta bahwa Dia tinggal tetap Allah Anak (Yoh 5:19). keilahianNya adalah jaminan bahwa dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, Dia akan mencapai ketidakberdosaan, ini suatu prasyarat mutlak jika Dia akan mati sebagai anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ketiga, keadaan inkarnasi adalah penuh pencobaan dan konflik moral. Sebab inkarnasi itu adalah benar-benar masuk dan melibatkan diri kedalam kondisi hidup moral manusia. Meskipun sebagai Allah, Dia tidak kenal menyerah kepada pencobaan, tetapi sebagai manusia, Dia wajib memerangi pencobaan untuk mengatasinya. Yang dijamin oleh keilahianNya bukanlah bahwa Dia tidak akan dilanda pencobaan untuk menyimpang dari kehendak Allah Bapa, juga bukannya Dia dikecualikan bebas dari bahaya ketegangan dan kesukaran akibat pencobaan yang berulang-ulang timbul dalam hati manusia. Melainkan bahwa apabila Dia kena pencobaan, Dia akan memeranginya dan menang; seperti Dia perbuat dalam mengatasi pencobaan pertama pada awal pelayanan-Nya sebagai Mesias (Mat 4:1).

Tujuan Inkarnasi. Tujuan inkarnasi adalah menggenapi janji Allah dan nubuatan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Melalui Yesus Kristus kasih Allah dinyatakan kepada manusia berdosa untuk dapat memiliki kehidupan yang kekal (Yoh 3:16). Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya karena tidak ada manusia yang tidak berdosa. Dengan inkarnasi, manusia dapat ditebus oleh Yesus Kristus sebagai manusia yang tidak berdosa. Manusia dibenarkan dan kembali dikuduskan melalui Yesus Kristus, domba yang tak bercacat.

Catatan: huruf Ibrani dan Yunani tidak akan jelas terbaca/tidak dikenali bila komputer anda belum terinstall huruf Ibrani/Yunani).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s