KRISTOLOGI HIKMAT MENERANGI YESUOLOGI (YESUS SEJARAH)

KRISTOLOGI HIKMAT MENERANGI YESUOLOGI (YESUS SEJARAH)

by.paulusmtangke

Pengkajian Yesus Sejarah yang telah berkembang semakin kuat dikalangan para teolog, pada satu sisi sangat menolong kita memahami Yesus Sejarah, namun dipihak lain pengkajian tersebut justru menggoyahkan suatu keyakinan. Ada dua hasil dari pengkajian Yesus Sejarah yang dapat kita perhatikan yakni: Yesus Sejarah Alkitabiah dan Yesus Sejarah Sekuler. Yesus Sejarah Alkitabiah Dalam bagian tulisan ini, yang dimaksud dengan Yesus Sejarah Alkitabiah adalah hasil-hasil pengakajian Yesus sejarah yang tetap mengakui kebenaran Alkitab, khususnya kitab-kitab Perjanjian Baru yang memberitakan Yesus. Upaya mengkaji Yesus sejarah sebenarnya berlaku juga dalam Alkitab. Kitab-kitab Injil jelas merupakan rekonstruksi tentang Yesus sejarah dari penulis Injil. Misalnya kitab Injil Lukas yang ditulis sekitar tahun 76 (menurut Duyverman, 1992:242) memiliki interval waktu sekitar 46 tahun sesudah kematian Yesus (sekitar thn.30). Upaya rekonstruksi Yesus Sejarah versi Lukas tersebut tetap sejalan dengan surat-surat Perjanjian Baru lainnya. Demikian juga Injil Yohanes, yang ditulis sekitar tahun 100, berupaya menampilkan Yesus Sejarah dalam konteksnya. Perbedaan waktu yang sangat penjang antara penulisan Injil Yohanes dan kematian Yesus (sekitar 70 tahun, atau dua generasi), tidak melemahkan keyakinan jemaat terhadap Yesus Kristus. Justru Injil-Injil itu, sebagai tulisan rekonstruksi Yesus Sejarah, meneguhkan iman, dan penulis Injil Yohanes berkata: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yoh 20:30-31). Hikmat Allah menuntun para penulis Injil-injil Yesus sejarah, untuk sampai pada suatu kepercayaan bahwa “Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya”. Upaya pengkajian Yesus sejarah alkitabiah harus senantiasa didorong, sesuai konteks kontemporer kita. Upaya kristologi semacam ini masuk dalam kategori kristologi hikmat karena kristologi Yesus sejarah alkitabiah sejalan dengan maksud penulisan Injil-injil. Hikmat Kristus mesti senantiasa menuntun upaya pengkajian Kristologi untuk memelihara iman. Penggalian Yesus sejarah dengan menggunakan metode interdisipliner dan epistemilogi interaktif atau dialektis historis, dapat dipergunakan, sejauh itu dilakukn dalam hikmat alkitabiah (lih. Rakhmat, 2005:5). Yesus Sejarah Sekuler versi Markus J. Borg Pengertian Yesus Sejarah Sekuler, dalam tulisan ini, adalah suatu kajian Yesus Sejarah yang menolak kebenaran kitab-kitab Perjanjian Baru, dan menganggap tulisan-tersebut hanya sebagai mitos, bahkan sampai berani menyimpulkan bahwa Yesus itu hanyalah manusia unggul, yang sama seperti Muhammad, Mahatma Gandhi, dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Dengan kata lain, Yesus sejarah sekuler hanyalah manusia biasa. Keilahian-Nya tidak diakui. Secara biblika, pendapat ini tentu saja sangat bertentangan dengan kesaksian kitab-kitab Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Demikian juga bertentangan dengan hasil pengkajian para ahli arkeologi Alkitab, seperti simpulan David L. Baker dan John J. Bimson. Baker dan Bimson berani menyatakan bahwa bukti-bukti material arkeologi meneguhkan Alkitab. Melalui arkeologi, hubungan Alkitab dengan tulisan-tulisan kuno yang lain menjadi lebih jelas, baik persamaannya maupun perbedaannya. Arkeologi juga menerangkan latar belakang zaman Alkitab dengan meneliti kebudayaan di Timur Tengah kuno, serta dunia Yunani dan Romawi. Arkeologi sangat penting untuk melengkapi sejarah zaman Alkitab serta mendukung kebenaran laporan di dalam Alkitab sendiri. Arkeologi menguatkan kebenaran sejarah Alkitab secara garis besar. Kita tidak perlu meragukan autentitas laporan-laporan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dari segi sejarah (Baker, D.L. & Bimson, J.J, 2004:241). Kelompok Yesus Seminar dan para sekutu Markus J. Borg, harus diakui memiliki kecerdasan intelektual. Mereka para ahli Perjanjian Baru. Tetapi berhubungan dengan perkara kepercayaan, sudah semestinya kita meragukan kepercayaan mereka terhadap Yesus Kristus yang memiliki tiga dimensi eksistensi. Mereka hanya terpaut pada dimensi eksistensi historis Yesus. Mungkin tidak berlebihan bila dari sudut Kristologi hikmat, mereka masuk dalam kategori “orang-orang Yunani pencari hikmat zaman modern”. Kelompok yang menentang ajaran Kristologi hikmat rasul Paulus. Mereka mengutamakan kepandaian intelektual, sehingga rahasia hikmat Allah dalam Kristus Yesus tersamar bagi mereka. Mereka tidak menafsirkan segala kajian mereka berdasarkan Roh Allah, yang seharusnya menjadi dasar dalam menafsirkan perkara-perkara rohani. Keberadaan mereka bagaikan masyarakat Yunani dan para filsuf Yunani Korintus yang memahami dan mengidentikkan hikmat dengan kecerdasan (Gordon D. Fee, 1987:48). Terhadap kelompok ini, Davidson (1998:137) menyatakan bahwa sia-sialah kita mencari suatu “obyektivitas” yang dingin seperti biasanya dalam laporan seorang wartawan. Mestinya kita menyadari bahwa Kristus yang riil bukanlah Yesus yang historis, tetapi Kristus Yang Kerygmatik/diberitakan; Kristus yang riil menjadi Kristus yang diajarkan. Yesus yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus yang diimani, yang dialami dalam pengalaman iman dan yang diberitakan sebagai bagian dari kesaksian iman orang-orang percaya kepada-Nya. Martin Kahler, dikutip Tobing, mengatakan: the real Christ is not the historical Jesus but the Kerygmatic Christ; the Christ is the preached Christ Martin Kahler (1964:66). (‘Jesus Seminar’ diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan Yesus Sejarah, tepatnya ‘ucapan-ucapan Yesus yang otentik.’ Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul ‘The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?’ Bias negatif Yesus Sejarah sekuler ini dapat ditemukan dalam karya Dan Brown. Di tahun 2004, beredar buku novel terjemahan ˜The Da Vinci Code, karya penulis Dan Brown. Buku Novel itu meledak dengan cepat dan dicetak sampai 60 juta copy dalam 44 bahasa. Buku ini kemudian difilmkan di tahun 2006 dimainkan oleh Tom Hanks dan Audrey Tautou, yang isinya ternyata mengundang polemik.

Satu Tanggapan

  1. Maju terus pak dengan tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s