Koinonia dan Diakonia

Persekutuan (koinwni,a koinonia) & Pelayanan (diakoni,a diakonia)

(Koinonia dalam Ekklesiologi Paulus & Pelayanan dalam PB)

I. Bartlett dalam bukunya,<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> setebal 264 halaman, menulis tentang pelayanan gerejawi, sebagai sumbangan bagi suatu percakapan oikumenis. Ia mengupas persoalan pelayanan gerejawi berdasarkan kitab-kitab Perjanjian Baru. Ia membagi tulisannya tujuh bagian: Pelbagai Pandangan tentang Pelayanan Masa Kini, Pelayanan dalam Surat-surat Paulus, Pelayanan dalam Injil Matius, Pelayanan dalam Sastra Yohanes, Pelayanan dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, Pelayanan dalam Surat-surat Pastoral, Pelayanan Masa Perjanjian Baru dan Pelayanan Masa Kini.

 

1. Pelbagai Pandangan tentang Pelayanan Masa Kini

Bartlett memulai pembahasannya dengan memaparkan pernyataan-pernyataan resmi gereja: Dokumen Lumen Gentium (Katolik Roma) dan Dokumen Baptism, Eucharist, and Ministry (BEM-DGD/Protestan). Kedua dokumen memperlihatkan pentingnya pelayanan gerejawi, baik yang dilakukan oleh pejabat gerejawi yang ditahbiskan, maupun oleh warga jemaat biasa. Perhatian khusus dalam pelayanan disimak pada tugas imam dan pendeta. Ia merefleksikan pendeta sebagai suatu profesionalisme dan teolog praktis. Pelayanan pendeta mesti selalu untuk Injil. Pendeta harus merasa bertanggung jawab terhadap dan demi Injil. Pendeta juga dalam pelayanannya mesti bertanggung jawab kepada dan demi jemaat, denominasi, dan otoritasnya (pemimpinnya), komunitas dan masa depan umat manusia. Demikian juga, pelayanan pendeta harus juga tertuju kepada keluarga dan sahabatnya. Hal terpenting adalah menuju visi-visi alkitabiah tentang pelayanan. Pelayanan imam, pendeta, dan jemaat, mestilah berdasarkan visi alkitabiah. Visi pelayanan kita bukanlah mencoba menyatukan tradisi-tradisi lama, tetapi menuju visi yang lebih menyatu di zaman kita.

 

2. Pelayanan dalam Surat-surat Paulus

Hal penting yang dikemukakan dalam bagian ini adalah adanya pelayanan para diakonos (diaken atau pelayan). Dalam dunia Helenis, menurut John N. Collins, diakonos bukanlah terutama seorang hamba dan juga bukan terutama seorang pelayan perjamuan. Diakonos terutama adalah seorang perantara, seorang yang dipercaya membawa pesan atau tugas. Dalam 2 Korintus, Paulus secara eksplisit mengambil istilah untuk dirinya sendiri sebagai seorang juru bicara bagi Allah dan bagi Injil. Dalam sebagian hal, kita dapat katakan bahwa “para diaken” menurut Paulus, juga adalah para perantara. Kadangkala menjadi perantara bagi dia dan otoritasnya, lebih sering menunjuk pada mereka yang dipercayakan untuk Injil, pewartaannya, dan tanggung jawabnya. Dalam Filipi 1:1, istilah “para diaken” lebih dikaitkan pada fungsi daripada sebuah jabatan. Fungsi tersebut, kemungkinannya, mengurus administrasi dan pewarta; pemimpin setempat dan utusan yang sedang singgah; para pembantu bagi “para penilik jemaat” yang mereka wakili.

Bagi Paulus, gambaran tentang komunitas, tentang jemaat, digambarkan sebagai Tubuh Kristus. Gambaran gereja sebagai Tubuh Kristus ini dikembangkan Paulus dalam surat 1 Korintus dan Roma. Penekanan pelayanan gereja sebagai Tubuh Kristus yaitu pelayanan karena kasih (agape) dan karena kemurahan. Pelayanan dalam surat-surat Paulus mengingatkan kita bahwa gereja melayani Injil dan bukan yang lainnya. Kita adalah pelayan-pelayan firman yang menyelamatkan demi penebusan dunia.

 

3. Pelayanan dalam Injil Matius

Ada tiga alternatif latar (setting) historis Matius: (1) jemaat Matius masih memandang dirinya sebagai bagian dari paguyuban Yahudi, suatu sinagoge alternatif dengan Yesus sebagai Mesias; (2) jemaat Matius telah memutuskan hubungan dengan sinagoge Yahudi, namun belum lama terjadi dan luka itu masih sangat terasa. Injil Matius pada dasarnya adalah sebuah dokumen Kristen-Yahudi; (3) Injil Matius ditulis baik untuk jemaat Yahudi maupun bukan Yahudi. Dari ketiga alternatif tersebut, Bartlett memilih yang ketiga (3). Ia mengusulkan bahwa Injil Matius muncul dari sebuah konteks Kristen-Yahudi yang di dalamnya garis-garis diantara sinagoge dan gereja sedang ditarik, yang semakin lama semakin jelas. Perbedaan antara sinagoge dan gereja terletak pada kesediaan gereja menyebarkan Taurat Yesus kepada semua orang.

Dalam Matius, orang percaya digambarkan sebagai paguyuban para murid dan sebagai keluarga. Kedua sebutan ini menegaskan fungsi pelayanan untuk saling berbagi satu dengan yang lainnya. Pelayanan Kristen masa kini perlu mempertimbangkan kewajiban untuk menampilkan dengan lebih serius peranan-peranannya selaku pembimbing moral bagi paguyuban iman. Kepelbagaian karunia sebagai anak-anak Bapa, satu keluarga, menghadirkan pula kepelbagaian fungsi “jabatan-jabatan pelayanan”.

 

4. Pelayanan dalam Sastra Yohanes

Injil Yohanes tidak mengajukan hubungan hierarkis di antara orang Kristen, sehubungan dengan citra-citra utama bagi paguyuban iman. Citra Yohanes menekankan ketergantungan setiap orang percaya secara langsung kepada Kristus, dan akibatnya mengajukan suatu persamaan, bukan hanya status, melainkan juga fungsi diantara umat percaya. Ini berbeda dengan citra Paulus tentang Tubuh Kristus, yang menekankan pada karunia yang berbeda-beda dan adanya saling ketergantungan umat percaya. Yohanes menggambarkan jemaat sebagai kawanan domba dan gembalanya adalah Yesus sendiri. Jemaat juga digambarkan sebagai ranting-ranting, dan pokok ranting itu adalah Yesus sendiri. Yohanes menekankan bahwa bukan hubungan antara domba dengan domba, atau ranting-dengan ranting, yang utama, melainkan hubungan dengan gembala atau pokok, yaitu Yesus sendiri. Gambaran dari paguyuban Yohanes ini bagi pelayanan kita: (1) paguyuban Yohanes memberikan visi sebuah kesatuan antaraorang Kristen dan Kristus, yang memantulkan kesatuan antara Kristus dan Bapa; (2) paguyuban Yohanes merayakan hubungan yang sederajat antarumat percaya kepada Tuhan, tanpa bergantung pada pengarahan dari para pemimpin apostolik “resmi” dan dari pemimpin lainnya; (3) paguyuban Yohanes menekankan kepercayaan besar pada Roh Kudus (Penghibur/Penolong) dan mengurangi obsesi pada struktur, atau jabatan; (4) pelayanan paguyuban Yohanes justru menjadi nyata pada kekurangannya; (5) kita diajak untuk melayani dengan kasih, dengan rendah hati, menanggalkan keistimewaan jabatan kita, dan bersedia melayani sebagai hamba yang tertunduk membasuh kaki-kaki mereka yang dilayani.

 

5. Pelayanan dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul

Para ahli Perjanjian Baru, umumnya sepakat bahwa kitab Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh orang yang sama. Kedua kitab ini dilengkapi oleh sebuah “sejarah” gereja paling awal yang memperlihatkan para rasul pada jarak historis dari penulis dan jemaatnya. Kedua kitab menyatakan pemahaman mengenai “rasul” ditujukan hanya kepada keduabelas murid, dengan Matias menggantikan Yudas. Bagi Lukas, kelompok para rasul identik dengan kelompok keduabelas murid Yesus. Dalam bidang pelayanan gerejawi masa Lukas, ada beberapa jabatan gerejawi yang dinyatakan. Pertama, jabatan penatua. Penatua berfungsi sebagai pelanjut kepemimpinan para rasul dan melakukan pelayanan administrasi. Paulus adalah model penatua yang rela menderita demi pengajaran sejati yang telah diterima dan disalurkannya (Kis. 20:19, 23-24). Paulus juga tidak sudi menarik keuntungan dari kepemimpinannya (Kis. 20:34-35). Penatua, sebagai pemimpin gereja zaman Lukas, menjadi pewaris dan penyalur doktrin kerasulan yang benar; harus mau menderita demi kebenaran yang diberitakan; dan tidak boleh mengambil keuntungan finansial dari kedudukan kepemimpinan dan tanggung jawab mereka. Penatua melayani selaku para pengawas (episkopoi) kawanan umat Kristen dan “mendukung kaum lemah” (Kis. 20:34-35). Kedua, diaken, memiliki fungsi pelayanan meja, memperhatikan orang miskin. Ketiga, para nabi dan pengajar, merupakan orang-orang Kristen yang diangkat karena fungsi kharismatik mereka dalam paguyuban. Gambaran Lukas mengenai jemaat adalah sebagai Paguyuban Roh Kudus, Para Murid, Saudara-saudara, pengikut Jalan Tuhan, Ekklesia (gereja), dan Orang-orang Kristen.

 

6. Pelayanan dalam Surat-surat Pastoral

Tekanan pada struktur dan tradisi dalam Surat-surat Pastoral memperlihatkan hilangnya kegairahan eskatologis dibalik tulisan Paulus (dan juga Matius), dan usaha Paulus untuk menyelamatkan jemaat yang terpecah-pecah oleh kontroversi teologis dan kekacauan moral. Pelayanan yang didefinisikan oleh Surat-surat Pastoral mencakup pengakuan umum tentang pelbagai karunia kepemimpinan paguyuban, termasuk penumpangan tangan. Penahbisan ini menyatakan adanya pengakuan fungsi seseorang yang ditahbiskan. Penahbisan umumnya untuk para pengajar. Ujian bagi kecakapan orang yang tahbiskan adalah kemurnian panggilan mereka dan kebenaran pernyataan-pernyataan mereka. Dalam arti ini, penahbisan masa kini dan pemeriksaan kemajelisan gereja tidaklah jauh dari tanda yang ada dalam Surat-surat Pastoral. Tanggung jawab pelayanan, model Surat-surat Pastoral, menganggap serius tanggung jawab didaktis dari seorang pelayan. Ada suatu tradisi, suatu iman, yang ditafsirkan dan disampaikan. Ada suatu peran bagi seorang pemimpin gereja untuk menegakkan disiplin: menyatakan pengajaran yang sesat dan menjatuhkan hukuman terhadap keyakinan yang menyimpang. Perhatian terhadap kepemimpinan penatua atau penilik begitu ditekankan. Gambaran bagi jemaat adalah sebagai Keluarga. Kewibawaan dalam rumah Tuhan disejajarkan dalam semua keluarga yang harmonis, dan gereja yang sejahtera, bagaikan sebuah keluarga yang sejahtera, bergantung pada perintah dan para pemimpin yang menetapkannya. Gambaran lainnya adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim. 8:15), “benteng” atau “penjaga harta benda” (2 Tim. 1:13-14), dan “atlet” (1Tim. 4:7-8).

7. Pelayanan Masa Perjanjian Baru dan Pelayanan Masa Kini

Perjanjian Baru memberikan kesaksian bahwa Allah memberi kita Injil, dan kemudian gereja, dan selanjutnya para pelayan gereja. Ada dua dugaan Bartlett mengenai pandangan terhadap pelayanan para pelayan. Pertama, pelayan itu diutus oleh Tuhan untuk mengisi mimbar gereja atau diangkat oleh Kristus untuk mengambil tempat Kristus sebagai tuan rumah pada meja perjamuan. Kedua, pelayan dipanggil dari masyarakat untuk membantu menafsirkan Kitab Suci dengan memberitakannya dan membantu menafsirkan Kitab Suci dengan memberitakannya dan membantu melayani meja perjamuan dengan Kristus sebagai satu-satunya tuan rumah. Pandangan ini menunjuk pada beberapa kesulitan sehubungan dengan model pastor sebagai seorang profesional, disatu sisi, dan sebagai teolog praktis dilain pihak. Pelayan sebagai seorang profesional dapat memberi kesan bahwa ia diberi kepercayaan dan disahkan melalui persetujuan rekan-rekan sejawatnya. Kita adalah pembantu yang dipanggil untuk memberikan nasehat resmi atau klinis kepada pasien yang malang itu, gereja. Pelayan sebagai seorang teolog praktis, bernada seolah-olah pelayan bekerja demi suatu disiplin (ilmu) daripada dalam suatu pelayanan untuk suatu umat.

 

 

II. Jacobs

Pada bagian pengantar bukunya, Jacobs menyatakan bahwa ia hendak mengemukakan pendapat mengenai paham koinonia, persekutuan, yang juga kerapkali dipakai Paulus. Paham ini akan sangat berguna untuk memahami keseluruhan eklesiologi yang ada dibelakang dan dibawah sebutan dan kiasan koinonia. Jacobs membagi empat bagian dalam membahas “koinonia”: Koinonia sebagai Kunci Eklesiologi Paulus; Gereja Paulus di Korintus; Kebersamaan dalam Gereja Galatia; dan Gereja Lokal ke Gereja Universal.

 

1. Koinonia sebagai Kunci Eklesiologi Paulus

Paulus menyebut (sebutan) kumpulan orang percaya sebagai ekklesia, umat Allah, dan “Yang Kudus”. Metafor eklesilogis Paulus untuk jemaat adalah sebagai “Tubuh Kristus”, “Bait Allah”. Jacobs membedakan antara sebutan dan metafora. Sebutan merupakan suatu identifikasi langsung, sedangkan metafor merupakan perbandingan saja.

Kata koinonia dipakai 13 kali dalam surat-surat Paulus. Koinonia biasa diterjemahkan dengan “persekutuan”, namun seringkali juga diterjemahkan dengan “menyumbangkan sesuatu”, “bersatu”, dan “mengambil bagian”. Paulus memakai kata Koinonia dalam tiga golongan, yaitu: persekutuan dengan Kristus, persekutuan dengan/dalam Roh Kudus, dan persekutuan antara para anggota jemaat sendiri.

 

2. Gereja Paulus di Korintus

Ada dua kelompok di Korintus, kelompok “yang lemah” dan kelompok “yang kuat”, yang kemudian menimbulkan suatu masalah. Soal kelompok pertama-tama muncul diseputar daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala. Kelompok lemah yang miskin tidak dapat membeli daging dipasar. Mereka mendapatkan daging secara gratis dikuil-kuil. Dari bagian ini, Paulus kemudian mengedepankan perjamuan bersama, dimana orang kaya perlu berbagi makanan dengan orang-orang miskin.

Paham Paulus mengenai gereja, dapat juga dijelaskan dari sudut ekaristi, yakni sebagai umat Allah. Pelaksanaan ekaristi menjadi saat terbentuknya jemaat, umat Allah yang sedang berkumpul bersama. Paulus menekankan bahwa Gereja adalah selalu jemaat setempat, tetapi sekaligus juga mempunyai arti yang universal. Di dalam jemaat setempat, terwujudlah jemaat Allah. Ada perbedaan yang digunakan Paulus mengenai “jemaat Allah” dan “umat Allah”, walau diartikan sama. Dalam bahasa Yunani, kata “umat” diterjemahkan dari kata “laos” dan “jemaat” dari kata “ekklesia”. Paulus menggunakan kata “umat Allah” bila ia menghubungkannya dengan Perjanjian Lama. Istilah yang sering dipakai Paulus adalah “Tubuh Kristus”. Disini sifat sifat kristologinya membuat gereja menjadi “tubuh”, dan Kristus sebagai kepala. Paulus membandingkan Gereja dengan sebuah tubuh. Dalam gereja ini, ada beberapa jabatan yang disebut: Rasul, Nabi, dan Pengajar.

 

3. Kebersamaan dalam Gereja Galatia (konflik paulus dgn yerusalem, pertemuan di yerusalem, jabat tangan sebagai tanda persekutuan, koinonia: kebersamaan, penutup)

Paulus mulai diterima oleh Rasul lain di Yerusalem sebagai pewarta Injil tulen. Sekalipun tetap ada perbedaan, namun Paulus dan Rasul di Yerusalem berjabat tangan. Jabat tangan yang menyatakan bahwa kendati ada perbedaan, kesatuan iman diantara mereka tetap diakui. Semua mengambil bagian dalam iman yang sama. Paulus melanjutkan tugas pewartaannya kepada orang-orang bukan Yahudi, atau kepada orang-orang kafir di Galatia. Orang-orang Galatia, tidak perlu lagi dituntut mengikuti pandangan Yerusalem yang merumuskan tuntutan bagi orang kafir untuk menjadi Yahudi dulu, paling tidak mereka harus disunat.

 

4. Gereja Lokal ke Gereja Universal (jemaat di filipi, eklesiologi surat kepada jemaat efesus, situasi jemaat efesus)

Jemaat Filipi masih seluruhnya berpusat pada pewartaan Injil. Karena Injil juga mereka banyak mengalami kesulitan. Mereka mengalami kesulitan dari luar maupun dari dalam. Jemaat lokal ini belum memiliki organisasi yang baik. Memang ada episkopos (pengawas) dan diakonos (pelayan) disebut, namun masih kabur. Episkopos hanya berperan mengatur hidup jemaat yang konkret sesuai dengan semangat Injil. Demikian juga tugas Diakonos belum jelas, selain dikatakan melayani orang miskin. Ini kekhususan jemaat lokal Filipi, semua bersifat spontan dan kharismatis.

Jemaat lokal di Efesus, disebut sebagai tubuh Kristus. Gereja dipenuhi seluruhnya oleh daya hidup Kristus, dan melalui gereja seluruh alam semesta dipenuhi oleh-Nya. Orientasi universal gereja ini diungkapkan, antara lain, dalam kesatuan antara orang Yahudi dan Yunani. Ekklesiologi Efesus dan Kolose secara khusus dirumuskan dengan istilah “tubuh Kristus”. Paham ini memiliki lima ciri khas. Pertama, tubuh, yakni gereja, selalu berarti gereja universal. Mungkin secara konkret dimaksudkan umat yang menerima surat. Disini gereja dilihat secara universal, bahkan secara kosmis. Kedua, tema ini dihubungkan dengan tema “bait Allah”, “bangunan”, “pertumbuhan”, dan “manusia baru”. Ketiga, perkembangan tubuh adalah khas untuk eklesiologi baru. Keempat, ciri yang paling khas ialah bahwa Kristus berfungsi sebagai “Kepala”. Hubungan ini menunjukkan kesatuan Kristus dan gereja dalam karya keselamatan. Kristus sebagai ‘kepala’ berada di atas gereja. Kristus menjadi Tuhan gereja dan terutama sebagai sumber hidup gereja untuk bertumbuh dan berkembang. Kelima, kesatuan tubuh ditekankan, khususnya antara orang berlatarbelakang Yahudi dan Kafir. Kesatuan ditekankan dengan mempergunakan kata tubuh.

 

III. Beberapa Istilah Penting

<!–[if !supportMisalignedColumns]–>

<!–[endif]–>

Istilah-Istilah dalam Buku Bartlett

Istilah-Istilah dalam Buku Jacobs

ministry

crekical ministries

Lumen Gentium

 

episkope

episkop

ipso facto

prebyteros

syaliakh

diakonoi

glossolalia

kyberneseis

doulos

apostello

mathetes

talmidh

okhlos

sofoi

grammateis

adelphoi

andres/hoi adelphoi

ekklesia

Judaizing Gnosticism

pseudepigraphal

pseudonymous

gnosis

Assembly of God

pelayanan;

pelayan-pelayan gerejawi

Konstitusi Dogmatis tentang Gereja;

pengawasan; pengaturan/pengawasan;

dengan sendirinya;

penatua;

dia yang diutus;

pelayan

bahasa lidah;

pengurus administrasi;

hamba;

saya mengutus

murid, seorang yang belajar;

pengikut/pendukung/murid

massa/orang banyak;

orang-orang bijaksana;

ahli-ahli Taurat;

orang-orang percaya;

saudara-saudara;

gereja/persidangan;

Gnotisisme Yudais;

memakai nama samaran;

menggunakan nama samaran

pengetahuan;

Sidang Jemaat Allah

ekklesia

 

ekklesia tou theou

qahal Yahwe

laos

ethne

kalein

hoi hagioi

am qadosy

eklektoi

doxa

meta-morphoumetha

eikoon

metaskhematisei

 

symmorphon

huiothesis

 

koinonia

apostolos

episkopos

diakonos

pleroma

jemaat, rapat, pertemuan;

jemaat Allah;

umat/jemaat TUHAN,

umat;

bangsa-bangsa;

memanggil;

yang Kudus;

umat Kudus;

yang terpilih;

kemuliaan;

diubah menjadi serupa;

dengan gambarNya;

yang akan mengubah;

serupa;

pengangkatan sebagai anak;

persekutuan;

Rasul;

penilik;

pelayan;

kepenuhan;

 

       

 

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Bartlett, David L. 2000. Pelayanan dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK Gunung Mulia; Jacobs, Tom. 2003. Koinonia dalam Eklesiologi Paulus. Malang: DIOMA.