PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA VS PEMBANGUNAN GEREJA

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA VS PEMBANGUNAN GEREJA

Gedung gereja vs Gereja

Pembangunan Gedung Gereja

Gedung gereja adalah tempat utama beribadah umat Kristen. Selain itu, gedung gereja juga telah menjadi identitas tersendiri. Identitas kelompok yang membedakan kelompok lainnya. Identitas kelompok ini menyebabkan seseorang lebih suka pergi beribadah ditempat lain, walau jaraknya jauh dan naik kendaraan, daripada ikut beribadah di gedung gereja terdekat. Gedung gereja juga menjadi prestise kelompok. Prestise ini Baca lebih lanjut

NILAI/BUTIR-BUTIR PANCASILA

NILAI/BUTIR-BUTIR PANCASILA

Perisai Pancasila

Perisai Pancasila

Pembukaan UUD’45 secara tegas menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar dari pembentukan “pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat”.

Pancasila, dari bahasa Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip Baca lebih lanjut

Kristologi Suku “Tomembali Puang”

Kristologi Suku “Tomembali Puang”

Kristologi suku adalah Kristologi yang dianggap berlaku dalam suku tertentu saja, seperti Kristologi Yesus dari Nazaret hanya untuk orang Suku Yahudi. Raimon Panikkar, yang menggunakan istilah ini, menyatakan bahwa pernyataan awal tentang Yahweh sebagai “Allah suku” dimurnikan oleh nabi-nabi Yahudi, demikian juga dalam “milenium ketiga kekristenan” gambaran mengenai Yesus merupakan “Kristologi suku”, yang dapat dimurnikan oleh Kristologi yang ditinjau kembali, suatu Kristologi yang mengizinkan orang-orang Kristen mencari Kristus (bukan Yesus). Ini memungkinkan suku India, dan suku lainnya, dapat menemukan misteri Kristus yang tersembunyi dalam Hinduisme (Knitter, 2005:128).

Kristologi To Membali Puang. Kristologi ini merupakan bagian dari Kristologi Suku. Orang Yahudi menggambarkan Yesus sebagai Mesias. Orang Yunani menggambarkan Yesus sebagai Logos. Orang Yahudi Helenis menggambarkan Yesus sebagai Hikmat/Sophia. Orang Toraja menggambarkan Yesus sebagai To Membali Puang (orang yang menjadi Tuhan). Orang Toraja memiliki pemahaman leluhur bahwa setiap orangtua mereka yang mati dan diacarakan melalui ritual kematian, disebut Rambu Solo’, akan menjadi To Membali Puang. To Membali Puang ini akan melindungi dan memberkati keluarganya yang masih hidup. Transformasi budaya ini, memberi makna religiositas dan roh/jiwa dari ritual Rambu Solo’, yang cenderung kehilangan jiwa ritual dan terkesan menjadi panggung prestise/gengsi. Ritual Rambu Solo’, dengan segala tahapannya, bermakna teologis karena dilakukan untuk Kristus, To Membali Puang. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). (Budaya Rambu Solo’ Toraja telah diakui Internasional dan akan dijadikan warisan dunia).

13342424811366033004

Tags: kristologi, toraja, rambu solo’, mantunu, diakonia, to membali puang

 

 

VONIS NAZARUDDIN MENGUNDANG SENYUM KORUPTOR

VONIS NAZARUDDIN MENGUNDANG SENYUM KORUPTOR

Pasal 11 UU No.20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi: “Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya”.

 Pasal 12 UU No.20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi:

“Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah):…b. pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya;…”.

Hari ini, 20 April 2012, Majelis Hakim yang diketuai Dharmawati Ningsih menjatuhkan vonis terhadap kasus Nazaruddin di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Nazaruddin dianggap terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan di vonis 4 Tahun 10 bulan, denda 200 juta rupiah atau diganti kurungan 4 bulan, dan biaya perkara Rp. 7.500 rupiah. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa 7 tahun dan denda 300 juta. Majelis Hakim menggunakan Pasal 11, bukan pasal 12 sebagaimana digunakan jaksa penuntut. Ada beberapa pendapat sehubungan dengan vonis ini.

1. Hukum Setengah Hati

Menyaksikan drama hukum di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, public akan merasa para aktor hukum tidak berperan sepenuh hati. Proses kasus Nazaruddin yang terlalu fantastis, hanya mengedepankan persoalan cek senilai Rp 4,6 miliar, sebagai commitment fee dari PT DGI. Persoalan hukum kolusi dan gratifikasi dalam pemenangan proyek yang melibatkan anggota DPR, diabaikan. Upaya sogokan/gratifikasi yang dilaporkan Ketua MK Mahfud MD ke SBY terkait pemberian uang sejumlah SG$120 ribu kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Janedjri M. Gaffar, tak menjadi perhatian hukum. Belum lagi, persoalan hukum lainnya yang diungkapkan Juru bicara KPK, Johan Budi, yang melibatkan Nazaruddin, seperti pengadaan alat bantu belajar-mengajar pendidikan dokter spesialis di rumah sakit pendidikan dan rujukan, kasus kementrian kesehatan 2008-2010, kasus pengadaan peralatan laboratorium di beberapa universitas, dll. Kejahatan ini, menurut ahli hukum, bukan hanya kejahatan pribadi, tetapi juga korporasi. tidak ada upaya drama ini membawanya ke masalah korporasi. Hukum setengah hati ini jelas membuat para koruptor di negeri ini akan terus tersenyum. Senyuman yang membuat banyak proyek berkualitas rendah, seperti jembatan. Senyuman yang mematikan banyak rakyat.

2. Mengusik Rasa Keadilan

Pencuri makanan untuk menghilangkan rasa laparnya, ketika ditangkap harus merasakan pukulan, hinaan, dan perlakuan tak manusiawi. Koruptor Nazaruddin yang mencuri miliaran rupiah, ketika ditangkap justru diberi uang rakyat 4 miliar rupiah, biaya membawanya dari Kolumbia ke Indonesia. Vonis penjara dan, khususnya, denda 200 juta rupiah dapat diganti dengan kurungan empat bulan. Denda 200 juta ini sama dengan upah buruh selama 200 bulan atau 16.7 tahun. Waoh, pasti banyak rakyat yang mau dikurung selama 4 bulan untuk mendapatkan 200 juta. Biaya perkaranya, hanya 7500 rupiah, padahal biaya negara atas perkaranya itu miliaran. Selain Nazaruddin, terlalu banyak nama yang disebut bermain dengannya.  Pemain-pemain itu masih bebas berkeliaran, sambil senyum sana, senyum sini.

3. Tidak Memiskinkan Koruptor

Upaya pemiskinan koruptor tidak tergambar dari vonis ini. Jika ada keberanian, pastilah pidana dendanya yang maksimal, 1M, bukan sebaliknya, malah lebih rendah dari tuntutan jaksa. Masyarakat sudah muak dengan persoalan korupsi yang membelenggu Negara ini, sehingga ada yang sampai mengusulkan hukuman mati. Vonis penjara dan denda yang ringan, tidak akan membuat koruptor jera. Malah, membuat orang semakin berani korup. Upaya hukum untuk memiskinkan koruptor, menurut Muhammad Yusuf, dapat dilakukan dengan memadukan instrument UU TPK dan UU TPPU. Penerapan upaya pemiskinan koruptor perlu dilakukan dengan berani oleh penyidik TPPU, jaksa, dan hakim. Jika koruptor jatuh miskin, maka tidak aka nada lagi narapidana yang hidup mewah dipenjara. Jika tidak ada lagi narapidana yang hidup mewah di penjara, maka orang akan jera masuk penjara. Orang tidak akan korupsi lagi karena “sudah jatuh tertimpa tangga pula”, sudah miskin tersiksa dipenjara pula. Kalau koruptor tak jatuh miskin, ia tetap akan senyum.

4. Sebuah Harapan

Vonis ini hanya batu loncatan menangkap koruptor sesungguhnya. Berharap kepada KPK menuntaskan permainan hukum ini. Paling tidak, ada pernyataan Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan, Bambang Widjojanto (18/4/2012): “Mudah-mudahan majelis hakim bisa melihat. Bahwa kasusnya banyak dan kita kumpulkan, ini (vonis) bisa membuka pintu kasus-kasus lainnya,”. Pernyataan ini tentu menghibur. Kita menantikan, pemain-pemain utama menjalani proses hukum yang lebih serius, sepenuh hati. Berharap, seluruh pemain koruptor terjerat, tertangkap, dimiskinkan, dan membuatnya menangis pilu, lalu bertobat. Semoga kasus yang terlalu heboh ini tidak berakhir di sini. Semoga tidak ada lagi proyek/fasilitas yang digunakan rakyat yang ambruk gara-gara praktek KKN (korupsi, kolusi, nepotisme). KKN, nama yang sakral memberi motivasi reformis di era reformasi. Semoga tujuan reformasi yang diperjuangkan anak bangsa ini, suatu saat, tercapai.

 

Salam Reformasi, Eksponen ‘98.

***

 

Tags: vonis nazaruddin, memiskinkan koruptor, koruptor, korupsi, kkn, korupsi kolusi nepotisme, hukum setengah hati, rasa keadilan

PASKAH HALAU GALAU

PASKAH MENGHALAU GALAU (Lukas 24:1–12)

Tema Paskah GT: Jangan Takut Ia Sudah Bangkit (Da’ mimataku’, tuomo Ia sule)

GALAU

GALAU

Akhir-akhir ini, saya sering mendengar kata “galau”. Juga ada istilah “ANDILAU” yang berarti “antara dilema dan galau”. Galau adalah pikiran kacau tidak karuan yang membawa perasaan gelisah. Galau merupakan bagian dari takut. Galau dialami oleh semua lapisan umur, walau istilah ini lebih trend di anak muda-remaja.

i.

Garis Besar Lukas 24:1-12

  1. Galau karena terluka (ay.1). Para perempuan (saksi kematian Yesus-Luk 23:55) membawa rempah yang berarti mereka masih sangat berduka/terluka masa lalu. Harapan mereka turut mati bersama Yesus, mereka terluka dan berduka. Masa lalu yang mendukakan dan harapan yang tidak tercapai merupakan sumber kegalauan utama menjalani kehidupan. Meyakini bahwa Tuhan mau memulihkan duka dan Tuhan tahu yang terbaik bagi kita, dapat membuat kita merasakan ketenangan menjalani hidup ini. Baca lebih lanjut

Gereja Melawan Korupsi: Tema Paskah 2012

Gereja Melawan Korupsi

Suatu Komitmen Operatif atau Fatamorgana-Utopis (?)

GEREJA MELAWAN KORUPSI:  Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

 Tema Paskah 2012 dari PGI/KWI:

“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11).

Corruption makes fools of sensible people, and bribes can ruin you (Pengkhotbah  7:7).

Tema Paskah PGI-KWI seharusnya bersifat operatif-operasional, bukan sekedar konsepsional. Materi berikut ini tentang Pokok Pikiran Peran Gereja Memberantas Korupsi dan Pesan Paskah 2012, dapat membantu kita menerapkan tema Paskah kita. Baca lebih lanjut

RENUNG JUMAT AGUNG

Jumat Agung: Lukas 23:44-49

Alam bersaksi, matahari tak lagi mampu bersinar menyaksikan keagungan sengsara itu. Tabir Bait Suci bersaksi, terbelah dua tak mampu bertahan menyaksikan tanggungan derita itu. Wajah retak sinis bercampur benci dari prajurit Romawi bersaksi, tak mampu lagi menahan rasa tuk berkata “Sungguh, Orang ini adalah Orang benar!

1. Ay. 45: “…sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.”

            Matahari, oleh sebagian orang, disembah, dipuja, dan dianggap sangat berkuasa. Matahari memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga semua yang ada di bumi, termasuk manusia, tak berdaya olehnya. Lukas, berlatar belakang non-Yahudi, menulis Injil Lukas untuk mayoritas non-Yahudi, mau menegaskan bahwa power matahari juga gugur (ekleipo), tak bersinar, pada keagungan Jumat Agung. Mahkota Matahari adalah sinarnya. Matahari tidak bermahkota, sejenak, menghormati Keagungan Kristus. Matahari itu bersaksi tentang keajaiban derita di Bukit Golguta. Matahari mewakili keagungan dan kekuatan alam semesta. Alam bersaksi tentang keagungan sejati. Alam merujuk perkara Yom Yahweh (Hari Tuhan). Alam menyaksikan mutiara murni yang bersinar dari penyerahan diri Yesus di Golguta. Baca lebih lanjut