RENUNG JUMAT AGUNG

Jumat Agung: Lukas 23:44-49

Alam bersaksi, matahari tak lagi mampu bersinar menyaksikan keagungan sengsara itu. Tabir Bait Suci bersaksi, terbelah dua tak mampu bertahan menyaksikan tanggungan derita itu. Wajah retak sinis bercampur benci dari prajurit Romawi bersaksi, tak mampu lagi menahan rasa tuk berkata “Sungguh, Orang ini adalah Orang benar!

1. Ay. 45: “…sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.”

            Matahari, oleh sebagian orang, disembah, dipuja, dan dianggap sangat berkuasa. Matahari memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga semua yang ada di bumi, termasuk manusia, tak berdaya olehnya. Lukas, berlatar belakang non-Yahudi, menulis Injil Lukas untuk mayoritas non-Yahudi, mau menegaskan bahwa power matahari juga gugur (ekleipo), tak bersinar, pada keagungan Jumat Agung. Mahkota Matahari adalah sinarnya. Matahari tidak bermahkota, sejenak, menghormati Keagungan Kristus. Matahari itu bersaksi tentang keajaiban derita di Bukit Golguta. Matahari mewakili keagungan dan kekuatan alam semesta. Alam bersaksi tentang keagungan sejati. Alam merujuk perkara Yom Yahweh (Hari Tuhan). Alam menyaksikan mutiara murni yang bersinar dari penyerahan diri Yesus di Golguta.

Seiring kesaksian alam, Bait Suci yang sakral itu, simbol keberadaan dan kehadiran Allah, bersaksi tentang peristiwa Golguta yang membuka jalan baru keberadaan Allah. Tirai Suci itu, terbelah dua. Lambang hancurnya sesuatu yang menghambat orang melihat dan memahami kebenaran Kristus. Tirai Suci itu, terbelah dua. Metafora tubuh jasmani Kristus yang harus dihancurkan untuk menyatakan jalan keselamatan Allah. Allah tak lagi terkungkung dibalik Tirai Suci itu. Salib telah merobek tirai itu. Dinding penyekat itu telah diruntuhkan. Allah terlepas, bebas berada dimanapun Ia ingin berada. Kini manusia bisa menjumpai-Nya, dimanapun jua. Salib itu telah merobek tirai-tirai perbedaan yang menghalangi orang bertemu dengan Allah. Salib itu, menghubungkan manusia dengan sesamanya dan dengan Allah, mengalami persekutuan yang esa. Tapi, sayang seribu sayang, tirai-tirai baru kembali terpasang. Tirai baru yang menyelubungi salib-salib modern nan indah terpasang agung dalam dinding-dinding gedung gereja, yang membeda-bedakan aku, engkau, dan mereka. Gereja Tuhan hanya satu di bumi yang satu. Satu bumi, satu gereja, satu Kepala Gereja, yakni: Yesus Kristus. Jangan lagi membuat tirai sesuci apapun tuk memisahkan anggota tubuh-Nya.

2. Ay.46: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Seruan nyaring, menggema, menyayat kalbu. Seruan itu, mengingatkan Orang Yahudi tentang doa sebelum tidur. Mantra doa, “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia” (Maz 31:6), mengantar anak Yahudi melintasi malam mencekam. Dengan mantra itu, Yesus siap melintasi gelapnya malam mencekam. Ia melintasi-Nya. Sampai tak ada lagi malam yang mencekam. Tak ada lagi lintasan menakutkan. Lintasan malam mencekam itu, telah sirna. Insan penakut sekalipun, melintas dengan riang gembira. Sambil berdendang. Sambil bersiul. Sambil tersenyum. Insan pengecut, aku-engkau-mereka, masihkah lintasan kematian mencekam bagimu? Tidak! Benar, bersiaplah melintas dengan sukacita, melintasi kematian, kelak.

3. Ay.47-48: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!”

Wajah retak, sinis, bercampur benci dari para prajurit kafir (Romawi) berganti wajah kelabu. Bibir tak lagi sanggup membendung suara hati. Dengan gentar, ia memuliakan Allah. Ia memuji/menghormati (doxazo) Allah. Doxologi si kafir meluap dari hati yang takjub. Di Golguta itu, ejekan berubah puji-pujian memuliakan Allah, meluap dari hati yang takjub, bukan sebatas bibir yang memuliakan diri sendiri. Doxologi, tak pernah memuliakan diri, kelompok, group, atau gereja, tapi memuliakan Allah. Doxologi melalui nyanyian berjemaah/solo/VG/PS/Ibadah Syukur, adalah pemuliaan Allah. Pemuliaan yang meluap dari hati yang takjub atas kasih Tuhan. Penyerahan diri dan pengakuan yang benar adalah memuliakan Allah, bukan memuliakan diri.

Dengan gentar, sang kafir mengakui “Orang ini adalah orang benar. Hukuman mati tak pantas untuk orang ini. Orang ini tak bersalah! Mengapa Orang ini menerima hukuman mati yang keji ini? Ia tak bersalah.” Seiring wajah kelabu itu, wajah suram orang banyak, penonton tragedi itu, tertunduk malu. Mereka menyesal. Tontonan itu melukai hati (tupto). Mereka yang semula berteriak “Hosana”, doa selamatkan kami, lalu “Salibkan Dia”, kini pulang dengan hati terluka. Mereka pulang “sambil memukul-mukul diri”. Mereka marah pada diri-sendiri. Mereka mengakui telah salah menyalibkan orang benar.

Wajah retak dan wajah suram ‘kan jadi wajah cerah, ketika membuka hati ‘tuk memahami, mengapa Ia menerima hukuman mati itu. Wajah retak dan suram itu, menjadi cerah ketika ia tahu “Orang ini” ‘kan bangkit kembali. Mereka akan mendengar makna sejati kematian itu. Mereka pun akan mendengar kebangkitan “Orang ini”. Setelah mendengar, mereka akan menerima kuasa-Nya. Mereka akan bersaksi bahwa “Orang ini” mati untuk dosa-dosa manusia. mereka ‘kan bersaksi bahwa Ia hidup kembali dan melalui “Orang ini” manusia yang percaya akan beroleh hidup yang kekal. Mereka akan belajar kebenaran-Nya. Mereka akan melenyapkan rasa sinis dan benci. Mereka akan mengenakan kasih abadi.

 

Sobat, Yesus menanggung dosa dan kematian kita, supaya kita beroleh hidup kekal. Sungguh, anda sangat berharga bagi-Nya. Lepaskan wajah retakmu. Kenakan wajah cerah menebar kasih abadi dari-Nya. Luapkan pujian dari hatimu untuk kemuliaan Allah.

Selamat Menghayati Pengorbanan-Nya. Selamat menikmati keabadian kasih-Nya. Selamat Jumat Agung 2012.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s