Gereja Melawan Korupsi: Tema Paskah 2012

Gereja Melawan Korupsi

Suatu Komitmen Operatif atau Fatamorgana-Utopis (?)

GEREJA MELAWAN KORUPSI:  Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

 Tema Paskah 2012 dari PGI/KWI:

“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11).

Corruption makes fools of sensible people, and bribes can ruin you (Pengkhotbah  7:7).

Tema Paskah PGI-KWI seharusnya bersifat operatif-operasional, bukan sekedar konsepsional. Materi berikut ini tentang Pokok Pikiran Peran Gereja Memberantas Korupsi dan Pesan Paskah 2012, dapat membantu kita menerapkan tema Paskah kita.

A. Pokok Pikiran: Peran Gereja Memberantas Korupsi

Bidang Diakonia PGI menyelenggarakan Semiloka Gereja Melawan Korupsi pada 16-18 Januari 2012. Semiloka yang diselenggarakan di Hotel IBIS Surabaya ini bertujuan untuk menggali bagaimana peran Gereja memberantas korupsi di masyarakat. Dalam acara semiloka ini, beberapa fasilitator menyampaikan materi-materi seputar korupsi sebagai dasar berpijak para peserta menggali peran Gereja melawan korupsi. Para fasilitator yang memberikan materi antara lain: Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekum PGI), Ray Rangkuti (Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia – LIMA), J. Danang Widoyoko (Indonesian Corruption Watch – ICW), dan Pdt. Dr. Sahat Martua Lumbantobing (Dosen di Sekolah Tinggi Teologi GMI, Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara).

1. Pokok Pikiran dari Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Sekum PGI)

IPK (Indeks Prestasi Korupsi – sebuah plesetan) Indonesia di atas peringkat 100. Indonesia masuk negara terkorup. Negara–negara 5 besar terbersih adalah Negara Skandinavia (misalnya Norwegia). Mengapa mereka cenderung bersih? Karena mereka sangat kuat dengan pengajaran-pengajaran Reformator yang langsung bertanggung jawab kepada Tuhan. Di Indonesia, Gereja-gereja Batak paling banyak melakukan korupsi. Hampir di setiap sinode muncul isu korupsi. Isu korupsi menghancurkan proses demokratis.

Masyarakat Indonesia:

  • Perilaku koruptif dan manupulatif.
  • Permisif terhadap Korupsi (Contoh: Seorang Bupati yang dipenjara karena korupsi ketika pulang ke daerah disambut dan diarak keliling daerah), sebaliknya seorang ibu yang berupaya jujur diusir dari komunitasnya.
  • Kita mau nyaman tetapi mengorbankan ketidaknyamanan orang lain.

Tiga penyebab korupsi :

  • Kegagalan masyaraat terutama keluarga.
  • Kegagalan pendidikan di sekolah.
  • Kegagalan lembaga agama.

Alkitab sudah berbicara tentang Korupsi. Korupsi menjadi masalah Kronik sejak dulu. Ingat Kisah anak-anak Semuel : Hofni dan Pinehas, kisah Manna. Orang yang mengambil lebih Manna menjadi busuk.

Syarat menjadi pemimpin: benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Kita tidak bisa menyapu kotoran dengan sapu yang kotor. Artinya perjuangan melawan korupsi harus dimulai dari diri sendiri. Korupsi bukan hanya soal uang, tetapi juga soal waktu, janji, dan informasi. Yang paling banyak dilakukan gereja adalah “mendiamkan” kasus korupsi. Dengan alasan malu kalau diketahui semua orang bahwa gereja korupsi. Juga dengan alasan gereja harus saling mengampuni.

Pokok–Pokok Pikiran:

  1. Bersama mengembangkan spiritualitas yang utuh. Keutuhan batin “waktu ibadah” sama dengan “waktu bekerja”.
  2. Bersama mencanangkan Gerakan melawan Korupsi. Di sekolah–sekolah dikembangkan “Kantin Kejujuran”.
  3. Kerjasama tokoh-tokoh masyarakat.

Empat spiritualitas anti korupsi:

  1. Integrity: yang diucapkan = yang dilakukan
  2. Identity: kita adalah Gambar Allah, jangan kita rusak.
  3. Intimacy: Intim dengan Tuhan.
  4. Influency: Orang Kristen punya pengaruh bagi orang lain. Jadi terang bagi banyak orang.

Tugas kita sebagai gereja adalah :

  • Memperlengkapi warga bagi pekerjaan pelayanan ( Efesus 4).

Contoh UEM : mengelurkan sebuah “ Kode etik melawan Korupsi dan mengembangkan Transparansi”. UEM mengaku bahwa korupsi menghancurkan komunitas.

Akhirnya terpulang pada kita, apakah gereja memilih :

  • Tidak perduli = tidak akan tercecer. Kalau gereja tidak peduli terhadap kasus korupsi maka gereja akan ditinggalkan.
  • Ikut dunia ini (Misalnya: Gereja menyogok pemerintah).
  • Bertolak dari kesetiaan kepada Tuhan: positif, realistis, kritis.

2. Pdt. Dr. Sahat Martua Lumbantobing (Dosen di Sekolah Tinggi Teologi GMI, Bandar Baru, Sibolangit, Sumatera Utara)

Pdt. Dr. Sahat Martua Lumbantobing membawakan makalah tentang: “Menjadi Gereja Anti Korupsi”. Dalam makalah ini beliau menyampaikan pokok pikiran yang sangat berguna bagi kita sebagai Gereja, antara lain:

1) Kita dapat belajar dari pengalaman John Wesley yang melawan para penguasa gereja yang korup, sementara gereja tidak mampu berbuat/bertindak melawannya. John Wesley mengubah cara pandang kesalehan yang bermakna pribadi menjadi kekudusan sosial. John Wesley tidak sekedar menekankan kekudusan sebagai kemampuan seseorang yang harus dimilikinya secara pribadi. Artinya, kekudusan pribadi itu memang harus kelihatan, tetapi kekudusan pribadi itu tidak untuk membuat jurang pemisah antara manusia dengan konteksnya. Melainkan, menurut John Wesley, kekudusan pribadi harus menjadi sebuah bangunan berteologi secara kontekstual. Berteologi yang mengetahui secara jelas pergumulan konteks dan mengambil peran dalam pergumulan konteks, sehingga masyarakat yang ada di dalam konteks itu pun dapat menganggap kekudusan pribadi itu sebagai kekudusan yang berlaku secara komunal.[1] Artinya, ada pengaruh kekudusan pribadi secara simultan di dalam konteks dan konteks meresponsnya menjadi kekudusan masyarakat.

Karakter teologi ini menempatkan Kitab Suci di tangan yang satu dan konteks ekspresi kultural berada di tangan yang lain. Dalam teologi ortodoksi, kekudusan itu adalah milik setiap orang di setiap tempat dan waktu dan tidak terikat kepada setiap pribadi semata. Kekudusan sosial akan disebut sebagai sebuah kekudusan ketika bersinggungan dengan persoalan sosial.[2] Jelas sekali bahwa teks dan konteks di dalam teologi John Wesley itu senantiasa berada dalam hubungan yang dinamis.

Atas dasar pemikiran itulah, John Wesley secara tegas melakukan kritik dan perlawanan terhadap praktik-praktik manipulatif yang dilakukan oleh negara seperti perbudakan, penjarahan kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, sementara gereja Anglikan tidak melakukan kritik terhadap pemerintah. Maka muncullah pernyataan tegas John Wesley pada Konferensi I Methodist di London dengan mengatakan: bahwa tujuan gerakan Methodist adalah mereformasi negara Inggris, lebih khusus lagi gereja, untuk memperluas kekudusan ke seluruh dunia, sehingga hal yang mendesak menurut John Wesley adalah: “to convert the baptized heathen of England”.[3] Dengan demikian bagi John Wesley yang paling utama bukanlah melakukan pekabaran Injil ke luar negeri Inggris – meskipun itu perlu – tetapi bangsanya sendiri harus terlebih dahulu harus direformasi dan ditobatkan.

Pemikiran yang sama diperhadapkan kepada konteks di Indonesia, perilaku korupsi yang dilakukan elit politik secara jelas telah mempertontonkan bahwa korupsi cenderung menjadi sebuah fakta yang tidak dianggap masalah. Karena asumsi yang dipakai adalah yang dirugikan adalah negara, bukan manusia lain. Hanya saja, ketika keuangan negara dirugikan oleh pelaku korupsi maka ada kensekuensi dari kerugian negara tersebut, yaitu tersedotnya dana yang harusnya dinikmati publik.

2) Kekristenan mengajarkan bahwa korupsi adalah tindakan tercela dari sudut pandang cara, akibat dan tujuannya (lih. Amsal 17:23). Kitab Amsal dengan tegas mengutuk orang-orang yang menerima suap (ôhad) dengan maksud untuk melakukan yang salah. Seyogyanya, manusia yang dimerdekakan mampu memilih di antara hidup menurut daging dan hidup menurut Roh. Artinya, manusia harus memilih konsekuensi dari penggenapannya sebagai manusia merdeka yang tidak saja dipahami secara teologis, tetapi juga etis (bdk. Roma 3:31). Dengan demikian, pemahaman yang kontekstual adalah bukan soal peniadaan taurat, tetapi keberadaan taurat dimaknai Roh yang menguasai hukum taurat (bdk: 7:6). Namun juga bukan soal penghilangan nilai-nilai, tetapi nilai-nilai yang ada berkembang di dalam masyarakat harus senantiasa berorientasi kepada hidup di dalam Roh.

3) Roma 5 mencatat dibutuhkan kemanusiaan baru dalam Kristus yang mati dan bangkit ketika berhadapan dengan dunia yang telah penuh dengan dosa. Mungkinkah? Menjadi mungkin bagi mereka yang membangun masyarakatnya di sekitar Kristus yang diberdayakan oleh Roh-Nya (Roma 8). Metode yang digunakan Paulus ketika melakukan perlawanan terhadap ketidakbenaran Romawi dapat menjadi acuan. Paulus tidak merombak secara langsung aturan yang ada, tetapi memperlemah dan mengubahnya dari dalam (bdk. Ragi Yesus). Metode ini dapat menjadi salah satu upaya yang dapat dipakai untuk meminimalkan perilaku korupsi di samping faktor sosiologis, kultur, hukum dan politik. Kehadiran orang Kristen dalam konstelasi politik di Indonesia dituntut untuk meninggalkan kebiasaan hidup dalam daging dan memulai hidup di dalam Roh sebagai wujud manusia baru.

4) Meminjam pemikiran John Wesley, konteks kita di Indonesia sedang diperhadapkan pada perjumpaan kekudusan sosial dan perilaku korupsi.  Ada titik temu perjumpaan itu bahwa kesalehan pribadi akan bermakna sebagai kekudusan ketika kesalehan pribadi itu memberi implikasi kepada konteks. Implikasi itu bermuara pada proses transformasi sosial. Proses transformasi sosial itulah yang selanjutnya dipahami sebagai kekudusan sosial. Makna dan pemahaman kekudusan sosial – dalam konteks politik dan ekonomi Inggris – telah menggiring Inggris dan Amerika mengalami perubahan signifikan. Hal itu terlihat dari munculnya reformasi sosial seperti pembrantasan korupsi di parlemen, imperialisme, perdagangan budak, diskriminasi ras, pemakaian alkohol, pola penjara yang manusiawi dan lain-lain.

Dalam konteks perjumpaan kekudusan sosial dengan korupsi, kita perlu mengkaji secara mendalam transformasi etos antikorupsi terhadap elit politik, partai politik, dan eksekutif  yang berimplikasi kepada perubahan tata kehidupan ekonomi, politik, dan moral masyarakat. Memang dalam hal ini, masyarakat bisa saja menjadi sebuah kekuatan civil society yang dapat melakukan kontrol terbuka terhadap perilaku korupsi. Hanya saja aspek keteladanan pemimpin menjadi tolok ukur penting perubahan perilaku korupsi. Etos kerja pemimpin akan terkait dengan kesadaran kolektif masyarakat, sehingga ketika etos kerja kejujuran, keterbukaan, dan kekudusan menjadi dasar pemimpin berperilaku, maka etos kerja tersebut akan  memberi implikasi langsung terhadap etos kerja masyarakat. Tentu dibutuhkan sarana untuk membangun kesadaran kolektif bahwa perilaku korupsi politik bukan sebuah kewajaran tetapi sebuah kejahatan kemanusiaan yang dapat berdampak sistemik (ekonomi, politik, sosial, moral, pemiskinan, disintegrasi bangsa, agama kehilangan makna, dsb). Sarana yang dapat dilakukan secara berkesinambungan – di luar hukum dan UU – melalui pendidikan antikorupsi, mereposisi kultur yang menganggap semakin kaya maka seseorang semakin terhormat, interpretasi terhadap teks-teks teologis (makna berkat yang tidak dipahami sebagai kelimpahan materi) dan sudah pasti reposisi makna lembaga penegak hukum.

5) Porsi keterlibatan gereja dalam melawan korupsi adalah menawarkan pendekatan pencegahan dan gerakan moral (sudah pernah dilakukan oleh pemimpin lintas agama. Dan itu baik). Upaya pencegahan perilaku korupsi dapat diimplementasikan ke dalam 2 cara, yaitu:

  • Gerakan moral: Tetap menjalankan penegakan supremasi hukum dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Penegakkan supremasi hukum yang mengacu kepada Tap MPR, UU, Inpres, dan Keppres yang sudah ada. Gereja menjadi media gerakan moral anti korupsi.
  • Pendekatan pencegahan dini: sistem apapun yang dibuat itu baik, tanpa diimbangi dengan kualitas moral individu yang menjalankan sistem tersebut, maka tidak akan memberi hasil yang baik. Sehingga dibutuhkan pendidikan karakter yang membangun moral individu.[4] Karakter yang ingin dibangun adalah anti korupsi yang mendasarkan kepada karakter kejujuran dan kekudusan pribadi. Kekudusan pribadi yang punya korelasi aktif dengan perilaku individu di dalam konteks sosial-kolektif. Dengan kata lain, ketika tujuan itu benar, maka lakukan dengan cara benar.

B. Pesan Paskah 2012

Saudara/i Seiman di manapun berada, Salam Sejahtera dalam Kasih Yesus Kristus.

Dalam suasana kehidupan bermasyarakat yang penuh tantangan saat ini, dengan penuh sukacita umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memasuki Hari Raya Paska, peringatan Kebangkitan Kristus dari kematian. Paska selalu membangkitkan pengharapan dan kekuatan guna menjalani kehidupan masa kini menuju masa depan, kendati kenyataan hidup di sekitar kita tidak selalu mudah. Khususnya di negeri kita, Indonesia dalam kaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pesan Paska ini ditempatkan di bawah tema: “Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah Dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11). Tema ini memberi inspirasi dan sekaligus memotivasi kita untuk memusatkan perhatian dan pemikiran kita kepada makna Kebangkitan Kristus di masa kini, khususnya dalam kenyataan kehidupan kita di negeri ini.

Peristiwa Paska memiliki makna teramat dalam bagi kita. Kebangkitan Kristus tidak pernah mempunyai analoginya di dalam sejarah. Ia adalah ciptaan baru, yang memperlihatkan secara amat nyata betapa Allah mempedulikan kehidupan sejati manusia. Dalam peristiwa Kebangkitan itu, manusia sebagai gambar dan citra Allah (Imago Dei, Kej.1:26-27) diperlihatkan secara utuh. Manusia Kebangkitan adalah manusia baru yang memiliki kebebasan sejati dari berbagai penderitaan berupa penindasan, diperlakukan tidak adil, didiskriminasikan, hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan, hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya keutuhan manusia baru memberikan perspektif hidup penuh pengharapan dan optimisme.

Peristiwa Paska juga menyingkapkan secara sangat jelas betapa Allah setia dengan janji-Nya. Ia adalah Allah yang berintegritas, yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya. Ia konsisten dengan rancangan damai-sejahtera bagi kita, kendati realitas dosa selalu membayang-bayangi kehidupan kita. Pengorbanan Diri Putra-Nya sebagai perbuatan penebusan dan penyelamatan yang membawa pemulihan, adalah wujud integritas dan kesetiaan Allah itu.

Maka sebagai orang-orang beriman kita dipanggil untuk merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah itu melalui kehidupan kita sehari-hari. Kita yang telah dianugerahi hidup baru melalui Kebangkitan Kristus didorong untuk membuktikan kesungguhan kita sebagai “anak-anak terang” (Ef. 5:8b). Harus ada perubahan nyata di dalam kehidupan kita, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: “sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan:Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Ef. 4:17). Paskah mendorong kita menjadi manusia-manusia baru yang dipanggil untuk menyatakannya dalam kehidupan kita yang berintegritas dan konsisten melawan berbagai kejahatan.

Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) di Melanguane, Talaud, Januari 2012 menyoroti berbagai kejahatan manusia yang secara khusus mewujud melalui praktik-praktik korupsi. Itu tidak berarti bahwa kejahatan-kejahatan manusia hendak direduksikan hanya pada perbuatan ini. Tetapi korupsi di negeri kita memang telah memasuki fase yang sangat menguatirkan, karena hampir tidak ada lagi bidang kehidupan yang bebas dari virus ini. Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang mencederai harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Maka tidak ada lain yang harus dilakukan oleh umat beriman, apabila sungguh-sungguh mau merefleksikan integritas dan kesetiaan Allah ini, selain dari menyatakan perang terhadap korupsi dalam berbagai bentuknya. Umat Allah tidak boleh lagi menaklukkan diri ke bawah perhambaan Mammon, yang dalam konteks masyarakat kita mewujud dalam praktek-praktek korupsi.

Karena itu, di dalam menyambut dan merayakan Paska 2012 ini, kami mengajak saudara/i seiman, baik para pemimpin gereja maupun anggota-anggota jemaat untuk makin memperlihatkan integritas dan kesetiaan sebagai manusia kebangkitan, manusia baru di dalam Kristus yang telah bangkit dengan tindakan-tindakan nyata, khususnya melawan praktek-praktek korupsi melalui hal-hal berikut:

  1. Perayaan Paska hendaknya menjadi momentum bagi gereja-gereja dan umat beriman guna memastikan diri sebagai yang berada di garda terdepan melawan segala bentuk korupsi;
  2. Semangat Paska hendaknya mendorong gereja-gereja dan umat beriman memperlihatkan secara konsisten pola hidup sederhana, kerja keras, saling berbagi, dan menjadi contoh dalam mengelola aset-aset gereja secara transparan dan akuntabel;
  3. Semangat Paska hendaknya menginspirasi gereja-gereja dan umat beriman guna melakukan pendidikan anti-korupsi antara lain, di samping khotbah-khotbah, juga melalui kurikulum pengajaran Sekolah Minggu dan Katekisasi, sehingga pemahaman korupsi sebagai kejahatan luar biasa telah ditanamkan sejak dini;
  4. Melalui semangat Paska diharapkan gereja-gereja menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Gereja harus berani menyatakan penolakan terhadap sumbangan/bantuan yang tidak jelas sumber dan asal-usulnya, dan/atau yang ditengarai sebagai hasil korupsi dan praktek pencucian uang (money laundry) berkedok bantuan sosial;
  5. Semangat Paska, pada akhirnya hendaknya mendorong gereja-gereja menjauhkan diri dari berbagai godaan, seperti misalnya mendukung pasangan tertentu dalam perhelatan Pemilu dan Pemilukada yang ditengarai melakukan money politics, dan sebaliknya memberi penghargaan kepada pemimpin yang takut akan Allah dan benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Pesan ini kami akhiri dengan menggarisbawahi Firman ini:

 “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef.5:11).

Jakarta, 21 Februari 2012

 Atas nama, MAJELIS PEKERJA HARIAN PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA

 Pdt. Dr. A. A. Yewangoe  (Ketua Umum) & Pdt.Gomar Gultom M.Th. (Sekretaris Umum).

***

Sumber “Pokok Pikiran Gereja Memberantas Korupsi dan Pesan Paskah 2012”: http://pgi.or.id/

***

[1] Stanley Hauerwas, Sanctify Them in The Truth, Nashville: Abingdon Press, 1998, hlm.141-142. Pertumbuhan kekudusan individual diibaratkan sebagai perjalanan seseorang di dalam dunia bersama-sama dengan masyarakatnya. Terhadap hal itu pula lah Gereja harus mengidentifikasikan dirinya di dalam perjalanan konteks masyarakat sekelilingnya.

[2] Thomas A Langford, “What is the Character of Methodist Theology”, dalam Russell E. Richey (ed.), Question for the Twenty First Century Church, Nashville: Abingdon Press, 1999, hlm. 49. Ini pulalah yang mendorong teologi Methodist bersifat sensitif terhadap masalah-masalah teologi sosial seperti: Black Theology (James Cone), Teologi Feminis (Rebecca Chopp), Teologi Pembebasan (Theodore Jennings) dan Filsafat A MacIntyre (Stanley Hauerwas). Lih. juga Jonathan S Raymond, “Social Holiness: Journey, Exposures, Encounters”, dalam Kevin W Mannoia dan Don Thorsen, The Holiness Manifesto, Cambridge: William B Eerdsmans, 2008, hlm. 166-167. Dasar pengertian kekudusan itu adalah mengacu kepada Alkitab. Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kekudusan adalah kualitas karakter Allah.

[3] Gerald Kennedy, The Marks of A Methodist, Nashville: Methodist Evangelistic Materials, 1960, hlm. 39. Konferensi Methodist I dilaksanakan pada 25 Juni 1744 di London.

[4] Asriana Issa Sofia – Haris Herdiansyah, “Dapatkah Pendidikan Mencetak Individu-individu Antikorupsi?”, dalam Wijayanto – Ridwan Zachrie, Korupsi Mengorupsi Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2009, hlm. 891-893. Longgarnya sistem administrasi anggaran, lemahnya hukum dan faktor-faktor terkait sistem lainnya menyodorkan peluang terjadinya korupsi. Muncul kecemasan ketika gagapnya moral, nilai dan etika individu diindikasikan sebagai faktor yang melandasi perilaku korupsi itu.

***

Satu Tanggapan

  1. benar kata pak gultom, di gereja juga ada koruptor tapi ditutup-tutupi dengan alasan kasih dan pengampunan. akhirnya, kasih dan pengampunan itu jadi senjata iblis menggoda anggota gereja lainnya untuk ikut-ikutan korupsi di gereja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s