PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA VS PEMBANGUNAN GEREJA

PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA VS PEMBANGUNAN GEREJA

Gedung gereja vs Gereja

Pembangunan Gedung Gereja

Gedung gereja adalah tempat utama beribadah umat Kristen. Selain itu, gedung gereja juga telah menjadi identitas tersendiri. Identitas kelompok yang membedakan kelompok lainnya. Identitas kelompok ini menyebabkan seseorang lebih suka pergi beribadah ditempat lain, walau jaraknya jauh dan naik kendaraan, daripada ikut beribadah di gedung gereja terdekat. Gedung gereja juga menjadi prestise kelompok. Prestise ini menyebabkan banyaknya gedung gereja dibangun, padahal ada gedung gereja yang seajaran yang umatnya hanya menempati 10% ruangan gedung gereja.

Pembangunan gedung gereja terasa tiada selesainya. Selalu ada saja yang dibangun, diperbarui, ditambah-tambahi, walau yang ada sebenarnya masih bisa dipakai. Bahan-bahan bangunannya juga yang serba berkualitas, mahal, member kesan mewah. Pembaruan fisik, pembangunan gedung gereja beserta asesorisnya, tak terlepas dari semangat hedonism yang mengglobal. Memiliki gedung gereja dan asesorisnya yang serba mewah dianggap keberhasilan dan menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri.

Demi pembangunan, terlalu banyak yang sering terabaikan. Harga diri umat diabaikan dengan menjadi “pengemis” yang meminta sana sini, sampai keluar daerah. Ayat Alkitab dijadikan senjata menodong dan memaksa orang untuk menyumbang. Ketika pembangunan usai, maka diripun diagung-agungkan seraya minta posisi atau keinginannya yang mesti dituruti dalam gereja tersebut. Tak tanggung-tanggung, jiwa pembangunan menara babel berlanjut melalui pembangunan gedung gereja. Ada kekacauan melanda. Ada perselisihan. Bahkan, ada mark up harga bahan bangunan, ada korupsinya.

Ada pula yang tidak membangun gedung gereja, tetapi menggunakan gedung-gedung megah lainnya. Hotel, kini menjamur digunakan sebagai tempat ibadah. Bukan karena tak ada gedung gereja, tetapi karena merasa tidak cocok lagi beribadah di gedung gereja yang telah ada. Ada keinginan merintis atau membuka gereja baru. Anggotanya, bukan dari kalangan luar, tetapi dari kalangan Kristen sendiri. Kalangan yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Maraknya tempat-tempat ibadah Kristen ini diperkotaan, akhirnya mengundang rasa tidak nyaman umat beragama lain. Mereka umumnya tidak benci kepada gereja/orang Kristen, tapi benci kepada gedung-gedung gereja/hotel-hotel yang banyak digunakan, padahal jumlah orangnya hanya sedikit.

Pembangunan Gereja

Gereja (Yunani: ekklesia; Ibrani: Qahal) adalah orang, secara pribadi maupun sekumpulan orang, yang percaya kepada Yesus Kristus. Yesus membangun gereja-Nya dengan menggunakan orang-orang yang sederhana. Jauh dari ungkapan manusia berkualitas zaman sekarang. Tak ada anjuran membangun gedung untuk berkumpul bagi gereja-Nya. Tempat berkumpul, bagi Yesus, dapat dilakukan dimanapun juga. Termasuk, melalui gedung Sinagoge, rumah ibadah umat Yahudi.

Ketika orang yang percaya tidak lagi diterima secara baik dalam Sinagoge, para rasul dan umat perdana membuat tempat pertemuan khusus, seadanya. Tujuan utama perkumpulan itu adalah memperkuat gereja untuk bersaksi. Mereka berkumpul tidak hanya untuk memuji Tuhan dan mendengarkan Firman-Nya. Mereka berkumpul dengan kesadaran untuk memperkuat iman dan arahan mengabarkan Injil. Mereka memperkuat solidaritas antar sesame orang percaya.

Pembangunan gereja kini terpinggirkan oleh pembangunan gedung gereja. Perhatian, pembicaraan, dan besaran anggaran yang digunakan untuk pembangunan gereja berbanding 1:10 dengan pembangunan gedung gereja.

Kita berharap, aktivis gereja bisa mengedepankan, mengkampanyekan atau mendemontrasikan, pembangunan gereja daripada pembangunan gedung gereja beserta asesorisnya. Paling tidak, fifty-fifty, 50:50. Pembangunan seimbang ini akan memperkuat gereja dalam menyatakan tugas panggilannya. Bukan hanya pembangunan gedung gereja yang memerlukan pelaksana dan bahan-bahan berkualitas, mahal, dan mewah. Pembangunan gereja, justru yang harus diutamakan. Membangun gereja dengan “bahan-bahan” yang tidak berkualitas, tidak mahal, tentu akan memperlemah gereja. Membangun gereja dengan bahan-bahan murahan, sekedarnya saja, hanya akan membahayakan keberlangsungan gereja itu. Kita berharap, pembangunan gereja diutamakan, supaya dunia merasakan “damai sejahtera bagi semua” (Visi Gereja Toraja). Bukan sebaliknya!

Nb. Perhatikan penggunaan Istilah “gedung gereja” dan “gereja”. Gedung gereja/hotel menunjuk pada tempat beribadah orang Kristen. Gereja menunjuk kepada orang/manusia, secara pribadi maupun perkumpulan, yang percaya kepada Yesus Kristus. Gedung gereja tidak akan pernah percaya kepada Yesus Kristus, karena ia hanya benda, bukan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s