PENJELASAN PENGAKUAN IMAN GEREJA TORAJA

PENJELASAN PENGAKUAN IMAN GEREJA TORAJA

Pendahuluan

Pada tanggal 27 November 1981, Gereja Toraja akhirnya memiliki pengakuan sendiri sebagai hasil pergumulan melalui Keputusan Rapat Komisi Usaha Gereja Toraja (KUGT) Lengkap, berdasarkan penugasan dan Keputusan Sinode Am XVI di Makale, Juli 1981. Pengakuan Iman Gereja Toraja disusun berdasarkan kerinduan Gereja Toraja memiliki pengakuan sendiri yang relevan dan fungsional. Kerinduan ini telah dituangkan ke dalam Keputusan Sinode Am XIII di Palopo, tahun 1972, yang merupakan peningkatan tekad Gereja Toraja sejak ia berdiri sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam Peraturan Gereja Toraja pasal 37 (edisi 1970) yang berbunyi: “Pengakuan Iman Gereja Toraja didasarkan atas segenap Alkitab, yakni Firman Allah yang diterangkan di dalam tiga naskah kesatuan yaitu: Katekhismus Heidel-berg, 37 pasal Pengakuan Gereformeerd dan 5 pasal penentang Remonstran.”

Dari pasal Peraturan Gereja Toraja tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Gereja Toraja belum mempunyai Pengakuan yang dirumuskan sendiri.
2. Dasar Pengakuan itu ialah segenap Alkitab menurut tafsiran tiga naskah keesaan.

Jadi selama ini tidak berarti bahwa Gereja Toraja hidup dan bekerja tanpa pengakuan. Dasar keberadaan Gereja Toraja tidak lain dari Pengakuan bahwa KRISTUS ITULAH TUHAN! Sadar atau tidak sadar setiap Gereja yang mengaku dirinya Gereja Kristen, harus berada di atas dasar pengakuan itu, karena dasar lain tidak ada (1Kor. 3:11).

Pengakuan Gereja yang disajikan ini adalah hasil dari satu proses penyusunan melalui bentuk konsultasi khusus dengan ceramah-ceramah/prasaran-prasaran dan diskusi-dis-kusi yang diselenggarakan oleh Komisi Khusus Pengakuan Iman Gereja Toraja untuk memperoleh sebanyak mungkin bahan masukan. Bahan masukan ini merupakan bahan utama dalam penyusunan selanjutnya oleh Komisi Khusus Pengakuan Iman Gereja Toraja. Rumusan-rumusan Pengakuan ini tidak ditemukan melalui buku-buku pegangan theologis, melain-kan melulu melalui proses tersebut di atas. Pengakuan ini dapat disebut asli (orisinil) karena ia hanya mau mengaku bahwa: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”, dalam ketaatan kepada Firman Allah di tengah-tengah pergumulan hidup yang konkret, di sini dan sekarang.

Tujuan, sifat, fungsi dan wibawa suatu pengakuan gereja dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tujuan Pengakuan Iman Gereja Toraja

Tujuan Pengakuan Iman Gereja Toraja ini ialah untuk dijadikan pegangan dan pedoman bagi pelaksanaan tugas gereja di tengah-tengah dunia dimana Gereja Toraja ditem-patkan Tuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pengakuan Iman Gereja Toraja teristimewa sebagai bahan utama untuk kegiatan-kegiatan pembinaan dan pendidikan agama.

Pengakuan Gereja itu barulah merupakan pengakuan bila ia berfungsi di tengah-tengah kehidupan gereja sehari-hari.
 Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan berbagai-bagai cara. Penyataan Allah itu menimbulkan jawaban manusia secara spontan maupun reflektif . Alkitab penuh dengan jawaban manusia terhadap penyataan Allah. Pengakuan tidak lain daripada jawaban manusia atas penyataan Allah secara reflektif.

Pengakuan gereja merupakan rumusan hasil refleksi Gereja mengenai penyataan Allah.
 Allah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus kepada dunia (Yoh. 3:16). Oleh sebab itu setiap Pengakuan yang berdasarkan penyataan itu harus Kristologis, bahkan Kristosentris (1Kor. 2:2, Mat. 16:16). Kristus datang untuk seluruh dunia (kosmos). Oleh sebab itu Pengakuan harus bersifat Universal. Pengakuan tidak boleh membatasi diri kepada pribadi-pribadi, ke-pada Gereja atau daerah tertentu. Jangkauannya harus umum dan terbuka serta harus me-nampakkan kasih dan keprihatinannya terhadap dunia.

Sifat-Sifat Pengakuan

  1. Pengakuan adalah rumusan Gereja sebagai hasil reflek-sinya terhadap penyataan Allah. Hal itu berarti bahwa pengakuan itu hanya mempunyai kuasa (otoritas) sekun-der. Ia merupakan norma yang ditentukan oleh Alkitab. Ia tidak boleh ditempatkan di atas atau di samping Alkitab, yang merupakan satu-satunya norma yang mutlak.
  2. Pengakuan sebagai satu rumusan refleksi mempunyai sifat keterbatasan dan keterikatan. Ia terbatas dan terikat pada cara berpikir tertentu dengan latar belakang kebudayaan dan keadaan tertentu.
  3. Kebenaran yang dirumuskan itu tetap sama, tetapi bentuk rumusan bisa berubah-ubah sesuai dengan dinamika refleksi manusia.
    Sebab itu tidak ada pengakuan yang sempurna, yang lengkap dan yang berlaku untuk selama-lamanya. Pe-ngakuan itu harus dinamis sesuai dengan dinamika Injil yang mendatangkan keselamatan (Rm. 1:16).
  4. Setiap Pengakuan harus merupakan jawaban manusia terhadap penyataan Allah di dalam situasi konkret, di sini dan sekarang.

Fungsi Pengakuan

Setiap pengakuan harus berfungsi di tengah-tengah kehidupan gereja dalam arti:

  1. Sebagai ungkapan iman. “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar (Kis. 4:20). “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata (2Kor. 4:13).
  2. Sebagai kesaksian dan pertanggungjawaban peng-harapan. “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang peng-harapan yang ada padamu.” (1Ptr. 3:15 bnd. 2Tim. 1:8; 2:25).
  3. Sebagai pegangan untuk membedakan ajaran yang benar dari ajaran yang salah.
  4. Untuk memelihara kesatuan iman.
  5. Sebagai pegangan untuk menyatakan kebenaran iman dan melanjutkannya kepada generasi yang berikut.

Wibawa Pengakuan

  1. Secara mutlak Pengakuan Gereja tidak perlu. Yang perlu ialah satu-satunya Firman Allah.
  2. Pengakuan mempunyai wibawa oleh karena ia berdiri di atas Alkitab.Tetapi pengakuan sebagai rumusan refleksi manusia adalah pekerjaan manusia. Oleh sebab itu ia tidak boleh disamakan dengan Firman Allah dan setiap saat ia dapat dilengkapi atau diubah bila perlu.

Struktur Pengakuan Iman Gereja Toraja

Inti Pengakuan Iman Gereja Toraja ialah Pengakuan Gereja yang Am, yaitu: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”, yang dijabarkan melalui garis pemi-kiran sebagai berikut:
“Allah berfirman kepada manusia yang ditebus, dikuduskan dan dipanggil menjadi Umat Allah untuk disuruh ke dalam dunia bagi pekerjaan penyelamatan menuju zaman akhir”.
Penjelasan selanjutnya tidak mempunyai praanggapan bahwa segala sesuatu sudah akan jelas, karena penjelasan ini hanya menonjolkan pokok-pokok yang penting, bab demi bab. Ada butir-butir dari pengakuan ini yang tidak perlu dijelaskan karena dianggap sudah jelas. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat mem-bantu anggota jemaat dalam pemahaman pengakuan iman-nya. Diharapkan pula agar suatu waktu ada rekan-rekan yang mau menyusun buku pegangan katekisasi, baik untuk Guru, maupun untuk murid, berdasarkan pengakuan ini.

Inti Pengakuan Iman Gereja Toraja (Mukadimah):

“YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT.”

Kita perlu memperhatikan istilah “itulah”. Memang di dalam ayat-ayat pendukung dari pengakuan inti ini kita dapati istilah adalah dan bukan itulah. Namun istilah “itulah” yang dipilih dengan alasan: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat memang benar, dan tidak dapat disangkal; tetapi kalau kita sungguh-sungguh mau mengaku secara relevan di tengah-tengah lingkungan kita, maka pengakuan itu baru merupakan pernyataan yang netral, belum merupakan suatu pilihan. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat memang benar, tetapi itu belum berarti bahwa selain Yesus tidak ada lagi Tuhan dan Juruselamat lainnya. Di sinilah letak persoalannya. Justru di dalam kehidupan kita terdapat banyak kuasa yang ingin pula diakui sebagai tuhan dan juruselamat. Di dalam kehidupan manusia umumnya dan mungkin di dalam kehidupan kita sendiri masih terdapat saingan-saingan Kristus sebagai Tuhan dan Juru-selamat.

Pengharapan kita sering lebih dijamin oleh harta kekayaan, pangkat, kuasa, kedudukan sosial, akal budi, ilmu pengetahuan, ajaran-ajaran sesat, kesalehan dan sebagainya. Memang Kristus Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi selain DIA masih banyak tuhan dan juruselamat/ mesias yang lain. Sebab itu kita memilih istilah “itulah”. Itulah, berarti kita jelas memilih. Mungkin orang beranggapan bahwa banyak kuasa yang bisa kita andalkan sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di mana-mana memang Kristus punya banyak saingan, tetapi bagi kita tidak ada pilihan lain: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”. Dalam Pengakuan ini kata “kita” dipakai dan bukan kata “kami” percaya. Dengan mempergunakan kata “kita” dimaksudkan agar setiap pendengar atau pembaca diajak menghayati dan mengamalkan isi Pengakuan ini. Jadi kata “kita” dimaksudkan untuk melibatkan semua pendengar/pembaca. Itu berarti bahwa tekanan diberikan baik kepada situasi dan kebutuhan ke dalam (Pembinaan Warga Gereja), maupun kepada ajakan bagi mereka yang bukan Warga Gereja untuk mendengar, menghayati dan mengamalkan isi pengakuan ini (segi kerasulan). Dengan kata lain, Pengakuan Iman Gereja Toraja dimaksudkan untuk kebutuhan pembinaan demi tugas kerasulan Gereja.

Pengakuan Oikumenis maksudnya ialah bahwa Gereja Toraja adalah bagian dari Gereja yang Am, sedang Pe-ngakuan Iman Gereja Toraja berada dalam rumpun reforma-toris menurut paham Calvin.

Penjelasan Bab-bab

Bab I: Tuhan Allah

  1. Allah hanya satu. Allah hanya satu dan bukan tiga, tetapi pengakuan mengenai Allah yang esa sekaligus menyang-kut Allah Tritunggal.
    Ketritunggalan Allah tetap merupakan rahasia. Itu bukan pelarian, tetapi sikap iman. Jangkauan akal manusia itu terbatas (band. Butir 6). Pendekatan kita ialah pendekatan iman. Pengertian, kita lakukan dengan akal, tetapi penghayatan dengan iman, artinya: Ketritunggalan hanya dapat kita terima dalam hubungan dengan Allah. Kita tidak dapat menerima kaidah yang datangnya dari luar, baik itu kaidah akal, maupun kaidah-kaidah agama-agama lain.
    Allah hanya satu, tetapi Ia menyatakan diri-Nya di dalam tiga oknum melalui pekerjaan masing-masing: Bapa Pencipta dan Pemelihara, Anak Penyelamat dan Roh Kudus Pembimbing. Ketritunggalan mungkin kita dapat gambarkan dengan segi tiga sama sisi; ia mempunyai titik pusat yang sama (hakikat yang sama), tiga sisi yang sama, masing-masing mempunyai fungsi dan tempat. Kalau sisi yang sama itu diberi warna yang berbeda, maka lebih jelas lagi: ukuran sama, tetapi warna berbeda; atau sisi AB, BC, CA, tetap sama, tetapi masing-masing mempunyai nama yang berbeda. Perbedaan dan kelainannya, itulah kepriba-diannya.
  2. Allah adalah satu-satunya sumber kehidupan. Tidak ada Allah lain yang boleh disembah. Misalnya: arwah, bulan, matahari, bintang, jimat, kuasa-kuasa di tempat keramat. Sumber segala kebaikan adalah Allah; jadi kita tidak boleh memperilah ilmu pengetahuan atau akal manusia.
  3. Allah Tritunggal adalah Allah yang kekal. Di dalam silsilah (genealogi) Toraja/Aluk Todolo, Puang Matua itu dicipta. Puang Matua orang Kristen adalah Allah pencipta dan bukan ciptaan.

Bab II: Firman Allah

  1. Yesus Kristus adalah penyataan Allah secara khusus. Dia adalah Firman Allah. Hanya di dalam Yesus Kristus kita dapat mengenal Allah sebagai Bapa. Dan pengenalan itu adalah hasil pekerjaan Roh Kudus di dalam kita.
  2. Allah menyatakan diri-Nya secara umum, melalui ciptaan-Nya dan tindakan-tindakan-Nya di dalam sejarah. Adanya berbagai agama juga menyaksikan bahwa manusia tetap mencari Allah. Tetapi karena dosa sehingga manusia tidak bisa lagi menemukan jalan yang membawanya kepada Allah. Manusia tidak menemukan Allah, melainkan ilah-ilah dan berhala-berhala. Penyataan umum tidak cukup untuk membawa kepada pengenalan Allah yang benar. Untuk itu perlu penyataan khusus, yaitu Firman Allah yang berpusat di dalam Yesus Kristus. Sebab itu, Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup.
  3. Alkitab adalah Firman Allah dalam bentuk buku. Buku ini tidak langsung turun dari sorga, melainkan ia menemukan bentuknya melalui proses sejarah. Dalam proses itu Allah telah mempergunakan manusia, para nabi dan rasul untuk membawa kita kepada Kristus. Dengan demikian kita tidak percaya kepada Alkitab sebagai buku, melainkan kepada Yesus Kristus, Firman Allah yang hidup ini. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain.
  4. Alkitab sebagai buku tidak mempunyai kesaktian. Ia tidak boleh dipergunakan secara magis, misalnya untuk menolak/mencegah penyakit atau bahaya.
  5. Tafsiran itu perlu untuk mengerti dalam situasi yang bagaimana Allah telah menyampaikan Firman itu dan bagaimana kita harus memberlakukannya di dalam situasi dan kehidupan kita. Para nabi dan rasul hidup dalam lingkungan yang lain, kebudayaan yang lain, cara hidup dan berpikir yang lain. Semuanya itu kita usahakan untuk mengertinya agar kita dapat memahami dan menghayati makna Firman Allah yang disampaikan itu. Kemudian penghayatan itu kita amalkan di tengah-tengah dunia, lingkungan dan kehidupan sehari-hari, kini dan di sini.
  6. Alkitab tidak dapat dijadikan buku pegangan ilmiah, karena ia adalah buku iman yang menyangkut sejarah penyelamatan Allah, artinya ia adalah buku yang men-ceriterakan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya dan kehendak-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dan alam semesta. Alkitab dengan demikian tidak boleh dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan.
  7. Di dalam kehidupan kita terdapat bermacam-macam nilai yang sering merupakan kaidah hidup, misalnya: struktur masyarakat, hubungan kekerabatan adat-istiadat, dan lain-lain. Firman Allah adalah satu-satunya kaidah yang menguji dan menentukan berlakunya kaidah-kaidah yang lain bagi kehidupan Kristen, baik perorangan, maupun persekutuan.

Bab III: Manusia

1. Bab III menyangkut jawaban atas pertanyaan: Siapakah manusia itu?
Di sekitar kita terdapat bermacam-macam paham mengenai manusia (anthropologi). Ada paham yang mengata-kan bahwa manusia itu ilahi, ada pula yang mengatakan bahwa ia adalah makhluk. Karena manusia adalah ciptaan, maka sebenarnya kedudukannya sering tidak lain daripada boneka yang hidup. Sering manusia dalam kesalehannya dan kedudukannya sebagai ciptaan/ makhluk belaka terlalu cepat dan mudah bersembunyi di balik kedudukan itu. Manusia terlalu cepat menyerah kepada takdir, nasib atau dalle’ sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dan tidak boleh dihindari.
Pendapat demikian akhirnya menjadikan Allah bertang-gung jawab atas yang jahat dan yang salah. Allah yang menghendaki. Di lain pihak ada pendapat bahwa manusia itu serba bisa. Ilmu pengetahuan dan tehnologi membuka kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi-kan manusia ilahi. Bahkan manusia yang serba bisa itu akhirnya bukan saja menempati kedudukan Allah Pencipta, melainkan ia bisa juga menyangkal Allah.
Bagaimana pandangan Alkitab? Butir 1, 2, 3 dalam Bab III ini merupakan inti pengakuan kita mengenai manusia yang hina, tetapi mulia.
Ia diciptakan hampir sama seperti Allah, namun ia tetap ciptaan/makhluk belaka. Dalam kekecilannya manusia adalah makhluk, namun ia adalah makhluk yang bertang-gung jawab dan itulah kebesarannya.
Segala sesuatu harus kita pertanggungjawabkan di hada-pan Allah. (Pkh. 12:14 – bnd. 11:9).

2. Manusia adalah satu kesatuan yang utuh, terdiri dari jiwa/ roh dan tubuh.
Bukan saja jiwa yang penting, tetapi juga tubuh. Sebab itu, kesejahteraan jiwa/roh dan tubuh sama pentingnya. “Tidak tahukah kita bahwa tubuh kita adalah rumah Roh Kudus/Bait Allah?” (1Kor. 6:19).
Dengan demikian kita bertanggung jawab untuk hidup suci. Kesucian dan kesejahteraan menyangkut pula tang-gung jawab di bidang seks, narkotika, kelestarian lingku-ngan, polusi, dan sebagainya.

3. Pandangan tentang manusia menurut Alkitab tidak mungkin tanpa menyebut dosa. Dosa adalah pemberontakan terhadap Allah dan sekaligus pemutusan hubungan dengan Allah. Akibatnya ialah maut. Manusia binasa di hadapan Allah, tetapi kasih setia Allah di dalam Yesus Kristus telah menyelamatkannya.

4. Malapetaka, penyakit, penderitaan, adalah akibat dari dosa manusia, karena seluruh ciptaan Allah sudah berada di bawah pengaruh dosa (Rm. 8:20,22). Namun tidak dapat dikatakan bahwa setiap malapetaka, penyakit atau bentuk penderitaan lainnya adalah akibat langsung dari dosa tertentu. Memang tidak dapat disangkal bahwa semua dosa bisa saja langsung mendapat hukuman dari Allah, tetapi te-rutama di dalam tugas penggembalaan kita tidak boleh terlalu mudah mencari-cari dosa tertentu sebagai penye-bab dari suatu penderitaan. Kita mengenal dosa dari Alkitab. Itulah sumber pengenalan kita.

Bab IV: Penebusan

1. Manusia berada di bawah kuasa maut karena dosa. Kalau ia mau hidup, maka ia harus menebus dirinya. Penebusan itu tidak mungkin ia penuhi, sebab itu ia perlu ditebus dengan kematian manusia lainnya. Untuk itulah Allah menjadi manusia sejati artinya Anak Allah yang adalah Allah benar menjadi manusia yang tanpa dosa yaitu Yesus Kristus. Ia adalah manusia sejati dan manusia benar. Kalau Yesus Kristus bukan manusia maka manusia belum memenuhi tuntutan Allah. Manusia Yesus sudah mati untuk menebus manusia lainnya. Dengan demikian Ia sudah memenuhi tuntutan hukuman atas manusia. Ia telah memperoleh kehidupan melalui kebangkitan-Nya. Di dalam Dia kita mati bagi dosa dan di dalam kebang-kitan-Nya kita memperoleh kehidupan baru, kita dibenar-kan di hadapan Allah. Utang dosa kita dihapuskan karena kita sudah ditebus-Nya. Segala usaha kita untuk membe-narkan diri di hadapan Allah dalam bentuk persembahan-persembahan adalah sia-sia, karena kita dibenarkan di ha-dapan Allah hanya oleh kurban Yesus Kristus.

2. Menjadi milik Tuhan sudah diungkapkan dalam inti Pengakuan: Yesus Kristus itulah Tuhan dan Juruselamat. Ia yang berdaulat atas kehidupan kita (Rm. 14:8).

3. Kehadiran Yesus adalah kehadiran Kerajaan Allah. Kehi-dupan baru adalah kehidupan Kerajaan Allah yang harus dinampakkan. Zaman akhir sudah ada dan kehidupan kita sekarang ini adalah kehidupan yang tertuju ke depan, artinya kita hidup dari pengharapan yang pasti akan Kerajaan Allah oleh dan di dalam Kebangkitan Yesus Kristus (Rm. 6:4). Kehidupan baru adalah soal sekarang dan bukan hanya soal nanti. Kesempurnaan dan kepenuhan kehidupan baru itulah yang kita nantikan.

4. Kuasa-kuasa kegelapan masih menampakkan kehadiran-nya. Kehidupan ini masih penuh dengan hal-hal yang bertentangan. Kuasa maut masih merupakan kenyataan, tetapi sengat maut pada hakikatnya sudah ditelan oleh kemenangan Yesus Kristus. Segala sesuatu sudah berada di bawah pemerintahan dan kuasa Kristus.

Bab V: Pengudusan

1. Kita sudah ditebus menjadi Anak-Anak Allah. Gambar Allah seperti semula sudah dipulihkan. Hasil penebusan ialah pengudusan hidup. Kita harus hidup dalam kesucian dan itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus bekerja baik di dalam kehidupan pribadi, maupun persekutuan, baik di dalam, maupun di luar gereja dalam rangka pembaharuan ilahi (Why. 21:5), “Lihatlah, Aku menja-dikan segala sesuatu baru”.

2. Penghayatan dan pengalaman keselamatan di dalam kehidupan sehari-hari adalah pekerjaan Roh Kudus. Amal dan kebajikan adalah buah-buah iman untuk kemuliaan Allah.

3. Pengudusan hidup berlangsung di dalam pergumulan antara yang lama di dalam dosa dan yang baru di dalam kebenaran. Sering kebiasaan-kebiasaan kehidupan lama lebih nampak di dalam kehidupan kita. Penampakan yang baru melalui buah-buah iman hanya mungkin di dalam suatu pengudusan hidup di bawah bimbingan Roh Kudus.

4. Beramal dan berbuat kebajikan adalah pola kehidupan baru sebagai persembahan syukur kita. Moralisme dan legalisme bukanlah suatu pengudusan hidup yang digerakkan oleh keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Moralisme dan Legalisme adalah bentuk usaha untuk menyelamatkan diri sendiri tanpa Kristus.

5. Iman adalah hubungan dengan Allah. Doa merupakan ungkapan hubungan yang erat dengan Allah dan bukan pertama-tama sebagai alat untuk meminta sesuatu dari Allah.

Bab VI: Umat Allah

1. Istilah Umat Allah dipergunakan di sini untuk menggam-barkan Gereja sebagai suatu persekutuan yang dinamis dan terbuka, yang sedang dalam arak-arakan menuju kepada kepenuhan Kerajaan Allah. Umat Allah itu ber-dasarkan pilihan, panggilan dan pengudusan untuk tugas menjadi berkat bagi dunia. Salah satu tanda/ciri Gereja yang kurang disadari ialah kehadirannya di tengah-tengah dunia dan untuk dunia secara dinamis (bnd. Butir 5, 6, 13). Pilihan, panggilan, dan pengudusan Gereja itulah kekhususannya di tengah-tengah dunia. Kaidah hidupnya ialah Firman Allah (Bnd. Butir 1, 2, 3).

2. Butir 1-6, lebih menekankan Umat Allah dengan tugas kerasulannya, yaitu Gereja yang diutus ke dalam dunia untuk dunia, sedangkan butir 7, merupakan peralihan ke-pada Gereja sebagai lembaga dan persekutuan ibadah dengan segala perlengkapannya (butir 8-13).

3. Gereja sebagai satu persekutuan baru, berada di tengah-tengah dunia untuk dunia, tetapi bukan dari dunia. Kebaruannya dilukiskan melalui gambaran tubuh Kristus, sedangkan Kristus adalah Kepalanya. Tubuh Kristus adalah suatu persekutuan baru tanpa pem-bedaan dan perbedaan ras, kedudukan sosial, suku, dsb. Ia adalah satu persaudaraan universal dalam kasih Kristus. Struktur masyarakat tidak berlaku dalam per-sekutuan yang baru (bnd. Bab III, butir 2).

4. Gereja sebagai persekutuan baru adalah buah sulung Kerajaan Allah yang berkumpul dan menyebar untuk tugas pengutusannya/kerasulannya. Ia mempunyai misi di tengah-tengah dunia dan merupakan alat di dalam kuasa Roh Kudus untuk merombak, membaharui dan mempersatukan. Dalam rangka itu Gereja wajib mendayagunakan dan mengembangkan karunia-karunia (kharisma) yang ada pada anggota-anggotanya (bnd. Butir 4, 12).

5. Gereja yang rasuli adalah dinamis dan senantiasa harus dibaharui dan membaharui diri agar ia jangan ter-perangkap dalam kebekuan dan kekakuan, agar garam itu jangan menjadi tawar dan terang jangan menjadi gelap.

6. Persekutuan baru itu adalah persekutuan ibadah yang ditata menurut hakikatnya sebagai tubuh Kristus dan bukan menurut kaidah-kaidah duniawi. Secara khusus persekutuan ibadah itu nampak dalam ibadah hari Minggu atau ibadah-ibadah jemaat lainnya. Mengabai-kan ibadah hari Minggu berarti mengabaikan kehidupan persekutuan.

7. Jabatan-jabatan Gerejawi adalah penjabaran Jabatan Kristus secara fungsional untuk melengkapi orang-orang kudus dan menyadarkan masing-masing anggota me-ngenai karunia yang ada padanya. Yang memerintah Ge-reja/Jemaat ialah Kristus, Kepala Gereja sendiri. Majelis jemaat dan badan-badan Gerejawi lainnya hanya dapat menjalankan tugasnya dalam ketaatan kepada Kristus.

8. Sakramen adalah tanda suci yang tidak mempunyai kekuatan dan kuasa magis. Sakramen bukan alat pencegah penyakit, bahaya dsb, bukan untuk memperoleh kesaktian dan lain-lain. Kehadiran Kristus di dalam unsur-unsur sakramen (roti, anggur dan air) adalah secara rohani, yaitu kehadiran di dalam Roh-Nya. Sidi bukanlah sakramen dan bukan pula upacara pendewasaan yang harus dilalui secara ritual /magis. Sidi adalah pernyataan tanggung jawab dalam mengaku iman sendiri secara dewasa di tengah-tengah jemaat. Nikah juga bukan sakramen, melainkan suatu anugerah yang harus dipelihara dalam kesucian untuk kemuliaan Allah. Kehidupan seksual merupakan suatu anugerah untuk kebahagiaan suami isteri yang harus dipelihara dan dihormati dalam kesucian. Nikah selanjutnya dipersoalkan dalam Bab VII, sebab nikah adalah pula masalah masyarakat dan pemerintah.

9. Jemaat setempat adalah penampakan penuh Tubuh Kristus dan berada dalam persekutuan oikumenis dengan Gereja/umat Allah seluruhnya. Itulah makna dari pe-ngakuan mengenai persekutuan orang percaya yang kudus dan am.

Bab VII: Dunia

  1. Dunia adalah ciptaan Allah yang baik. Dunia tidak ilahi dan juga tidak mempunyai kuasa apapun yang dapat me-mengaruhi kehidupan manusia. Dunia tidak jahat dan juga tidak ada kuasa-kuasa jahat di dalamnya.
  2. Dosa manusia mengakibatkan rusaknya hubungan antara Allah dengan manusia, antara manusia dengan sesame-nya dan antara manusia dengan alam. Hubungan-hubungan alamiah yang semula lestari, juga sudah rusak karena dosa. Optimisme dan horizontalisme kurang memperhitungkan akibat dan pengaruh dosa. Alam semesta juga ikut dalam karya penyelamatan Allah, oleh sebab itu kita bertanggung jawab terhadap dunia dengan memeliharanya dan mengelolanya dengan baik. Pelestari-an lingkungan hidup adalah kewajiban kita.
  3. Kehadiran agama-agama dalam kehidupan manusia berarti bahwa manusia tetap mempunyai kesadaran tentang adanya kuasa di luar manusia yang disegani dan ditakuti dan karena itu perlu disembah.
    Kerukunan beragama tidak berarti bahwa kita menerima setiap agama, melainkan kita solider/setiakawan dengan setiap manusia yang mencari Allah. Dalam kesetiakawa-nan itu, sebagai musafir pencari Allah, kita wajib menunjukkan jalan yang menuju kepada kebenaran dan hidup, menurut keyakinan kita. Kerukunan beragama tidak boleh diartikan secara sinkretistis (semua agama sama saja dan semua benar, hanya cara saja yang berbeda), melainkan justru adalah kewajiban kita dalam kedamaian dan kesetiakawanan orang berdosa, mengajak orang lain tanpa paksaan mencari jalan menuju kepada kebenaran dan hidup, yaitu keselamatan di dalam Yesus Kristus.
  4. Masyarakat kita dewasa ini menampakkan bermacam-macam struktur, baik tradisional, maupun modern. Setiap struktur masyarakat yang menyebabkan ketidakadilan, baik feodal, maupun sosial ekonomis modern, memerlukan perombakan dan pembaharuan agar manusia dapat hidup di dalamnya sesuai dengan harkat kemanusiaannya.
  5. Setiap warga negara wajib taat kepada pemerintah, tetapi setiap pemerintah patut taat kepada kehendak Allah. Oleh sebab itu kita patut mendoakan pemerintah agar ia menjalankan tugasnya sesuai dengan aspirasi rakyat dalam ketaatan bersama kepada Allah. Pemerintah bukan saja bertanggung jawab kepada Allah, tetapi juga kepada rakyat. Keduanya harus taat kepada kehendak Allah yang menghendaki agar manusia hidup damai dan sejahtera dalam pengenalan akan Allah.
  6. Berbudaya adalah tugas dari Allah. Kebudayaan meru-pakan sesuatu yang harus dinikmati dan dikembangkan. Oleh sebab itu kebudayaan itu tidak boleh statis. Bahkan kita tidak boleh melihat kebudayaan itu seolah-olah yang dimaksudkan dengan kebudayaan adalah melulu hasil cipta dan karsa manusia dari masa lampau. Dalam keta-atan kepada dan di bawah kritik Firman Allah kita wajib mengembangkan kebudayaan itu.
  7. Adat tidak dapat dilepaskan dari agama, bahkan adat ada kalanya diidentikkan dengan agama. Adat merupakan satu sistem dan kaidah yang menentukan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
    Sistem dan kaidah itu bersumber dari agama dan pandangan hidup yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Pelanggaran terhadap adat adalah pelanggaran terhadap agama yang mempersatukan persekutuan adat/masyarakat itu. Oleh sebab itu adat perlu diuji apakah ia sesuai atau bertentangan dengan Firman Allah.
  8. Kerusakan nikah yang sering terjadi baik di masyarakat umum maupun di kalangan orang Kristen, jelas tidak sesuai dengan kehendak Allah, apabila kita menerima nikah itu sebagai anugerah dan tugas dari Allah. Sering nikah itu kita lepaskan dari kehendak Allah, lalu kita melihatnya hanya sebagai sesuatu yang alamiah dan kodrati berdasarkan kehendak antara dua insan, wanita dan laki-laki, atau keinginan orang tua, sanak saudara atau berdasarkan perhitungan-perhitungan sosial ekonomis. Sebab itu banyak nikah yang kandas/rusak dan keluarga yang hancur. Tugas Gereja ialah untuk membina nikah dan keluarga Kristen yang sejahtera.
  9. Ilmu pengetahuan adalah suatu anugerah Allah untuk kebahagiaan manusia. Iman dan ilmu pengetahuan me-mang sering mengalami ketegangan, tetapi tugas Kristen ialah melaksanakan ilmu pengetahuan dan tehnologi da-lam hubungan dengan Allah. Iman adalah hubungan de-ngan Allah. Keluar dari hubungan itu membawa manusia kepada pendewaan ilmu pengetahuan dan akal budi manusia.
    Akhirnya manusia bisa mendewakan dan mengallahkan dirinya. Tetapi dalam hubungan dengan Allah, artinya dalam iman, ilmuwan dan teknokrat sadar bahwa ia tetap mahluk, walaupun ia dicipta hampir sama seperti Allah.

Bab VIII: Zaman Akhir

  1. Zaman akhir bukan saja soal nanti, tetapi di dalam kedatangan Yesus Kristus ia sudah mulai.
    Di dalam kebangkitan-Nya kita sudah berada di dalam kehidupan baru (sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu – Luk. 17:21).
  2. Kedatangan kembali Yesus Kristus sebagai Hakim adalah dalam rangka pelaksanaan keputusan. Kalau kita percaya, maka kita sudah menjadi warga Kerajaan Sorga. Sebab itu kita merindukan kedatangan-Nya itu kembali, lalu kita berdoa: datanglah kerajaan-Mu, Maranatha!
  3. Kehidupan kita adalah kehidupan yang eskhatologis, yang mendapat makna dari kebangkitan Yesus Kristus. Dunia masih berada di bawah penghukuman, tetapi kese-lamatan itu sudah ada di dalam Yesus Kristus. Dunia ini yang harus dihukum, tetapi dunia ini jugalah yang dikasihi dan diselamatkan oleh Yesus Kristus.
  4. Manusia adalah kesatuan jiwa dan tubuh: ia mati sebagai manusia seutuhnya, tetapi akan bangkit pula seutuhnya. Jiwa tidak lebih penting daripada tubuh (bnd. Bab III, butir 4, 6).
    Kematian bukanlah pemisahan antara jiwa dan tubuh. Kehidupan kekal adalah anugerah Allah dan bukan karena kekekalan atau ketidakfanaan jiwa. Itu adalah pengertian filsafat Yunani atau kepercayaan yang sia-sia.
    Manusia adalah jiwa dan tubuh di hadirat Allah. Jiwa dan tubuh manusia sesudah mati berada di dalam kuasa Allah dan tidak ada kuasa apapun yang dapat menceraikan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus, Tuhan kita (Rm. 8:38-39).
    Sesudah mati kita berada di dalam Kristus dan dengan Kristus, karena kita adalah milik Kristus (Rm. 14:8; bnd. Butir 5, 6). Kalau kita tidak percaya, maka kita berada di luar persekutuan dengan Allah.
  5. Kehidupan eskhatologis berdasarkan kebangkitan Yesus Kristus, memberikan makna kepada kehidupan kita di sini dan kini. Segala sesuatu yang kita kerjakan tidak sia-sia, melainkan kita justru akan meluap dan melimpah dalam segala perbuatan yang baik untuk kemuliaan Allah.

__________________

Sumber: BPMS-GT, 2008:158-179. “Lampiran 4: Pengakuan Iman Gereja Toraja”, Tata Gereja-Gereja Toraja. Rantepao: PT Sulo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s