Refleksi Si Gundul

Duapuluhan tahun silam, ketika masih di STMNeg, ada banyak teman-temanku yang digunduli karena “nakal”, ada yang karena mencuri ayam, berkelahi, dll. Jika ada temanku yang  tiba-tiba gundul, maka patut dicurigai karena “nakal”, entah ayam siapa lagi yang dicurinya. Alhasil, waktu masih seragam abu-abu, gundul bercitra maling/nakal.

Pencitraan gundul sebagai hal negative, sama halnya dengan gondrong, waktu itu, ternyata harus dihentikan. Tak selamanya orang gundul karena maling/nakal. Juga, tak selamanya orang grondong itu nakal/jahat. Ada yang gundul karena miscommunication, seperti saya.

Miscommunication dengan mbak salon menyebabkan kepala ini gundul. Waktu itu tempat cukur Madura langgananku lagi banyak yang antri, jadi pergi ke tempat cukur lain, salon. (Tukang cukur Madura itu sudah ngerti mau dicukur model apa rambutku). Nah, ditempat cukur salon itu, mbaknya nanya: “mau dicukur gimana?” “cukur agak pendek saja,  mbak”, jawabku. Terus, mbak salon bertanya lagi: “pendek sekali”? “eh, agak pendek”, jawabku. Mbaknya langsung mempersiapkan alat cukur listriknya dan langsung srettt… waktu lihat mengarah ke gundul, mau sekali negur, tapi malu (kalau masbro, pasti saya tegur). Jadinya, begini, pasrah sempurna.

Sesudah cukur, siang itu, langsung pulang pastori. Terasa aneh jadi orang gundul, sambil mengingat teman-temanku dulu yang digundul karena maling ayam atau berantem. Sorenya,  bersiap memimpin ibadah syukur anggota. Sempat berkaca dan terlihat kepala gundul. Sosok aneh dan asing, terpantul di cermin. Waduh, ada rasa sesal sambil senyum-senyum sendiri. “Nasi sudah jadi bubur, nikmati saja”, kataku kepada kepala gundul di cermin.  Mau pakai topi, pasti lebih aneh, malam-malam kok pakai topi, lagian mau mimpin ibadah. Sesampai di rumah anggota, ternyata banyak yang senyum-senyum. Mungkin juga merasa aneh/asing melihat rambut baru saya. Ada beberapa ibu-ibu yang nyelutuk: “waduh, lebih bagus rambut yang daripada sekarang (gundul)”. (besoknya, ada juga anak muda yang comment lebih suka model gundul, walau lebih banyak yang suka rambut dulu).

Petikan Bermakna

1. Ada misbelieve (keyakinan yang salah) yang perlu diluruskan. Misbelieve ini menjadi alat penilaian, lebih tepatnya, menjadi alat menghakimi. Melihat orang gundul langsung dinilai/dihakimi sebagai orang negative (pencuri, berandalan, dll).  Kita harus memeriksa konsep-konsep pribadi kita, misbelieve, motto, prinsip-prinsip, mutiara, dll., yang mungkin sudah mendarah daging dan mempengaruhi cara kita menilai dan bersikap terhadap seseorang. Keyakinan yang salah, motto/prinsip/mutiara yang salah, membuat kita menilai/menghakimi dan bersikap yang salah pula.

2. Ada kesadaran bahwa selama ini ada yang bagus di kepalaku. Komentar kebanyakan para ibu-ibu menyadarkan ada yang bagus yang tidak disadari selama ini. Ada banyak hal bagus dalam hidup kita yang kadang kita sendiri tidak sadari. Akhirnya, banyak yang mengeluh dan tidak bersyukur atas hal bagus/baik/positif yang dimilikinya.

3. Tidak selamanya apa yang dianggap bagus oleh kebanyakan orang, juga bagus bagi yang lain. Setiap orang mengingkan hal yang bagus/baik/positif dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Namun, kita tidak bisa meng-claim bahwa semua orang harus setuju dengan pandangan/penilaian kita. Pemaksaan penilaian bukanlah hal baik, walaupun hal itu kita anggap baik.

4. Miscommunication, salah paham dalam berkomunikasi, dapat menyebabkan hal-hal yang tidak bagus. Komunikasi atau berbicara bukanlah asal ngomong. Apa yang bagi seseorang mudah dipahami, belum tentu dipahami pula oleh orang lain. Paham atas sesuatu, perkataan/peristiwa/perbuatan tidak selamanya dipahami secara sama oleh orang lain. Mengerti bahasa/berita tetapi menangkap pesan yang berbeda.

5. Terima kenyataan dan selalu meyakini akan munculnya hal yang baik dari kenyataan kurang baik. Kita semua menginkan kenyataan yang baik atau sesuai harapan. Namun, ada banyak kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ini bisa menyebabkan kita lemah, malu, gak percaya diri, bahkan mundur. Kenyataan yang tidak sesuai harapan sebenarnya adalah proses menuju harapan yang sebenarnya. Sabarlah dalam kenyataan pahit menuju harapan manis. Tuhan masih bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan kita.

Akhirnya, “Bersyukurlah senantiasa” dan Nikmati saja bubur itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s