Pluralisme: Makna Kemenangan Jokowi-Ahok

Jakarta telah memilih gubernur DKI Jakarta. Hasil perhitungan cepat (quick count) dari Lingkaran Survey Indonesia menunjukkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama (Jokowi-Ahok) mendapat 53.68% dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) mendapat 46.32%. Hitungan cepat yang disiarkan Metro TV menunjukkan Jokowi-Ahok 54.11% dan Foke-Nara 45.89%. Sementara hitungan cepat MNC Research menunjukkan Jokowi-Ahok 52.63% dan Foke-Nara 47.37%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kemenangan Jokowi-Ahok.

 1. Faktor Integritas Jokowi-Ahok. Integritas Jokowi dinilai sangat baik oleh banyak kalangan. Integritas (mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran) tersebut telah teruji dalam memimpin Solo. Integritas Ahok, juga teruji dalam kepemimpinannya. Integritas tak lepas dari moral kebangsaan dan keagamaan. Penilaian integritas seseorang tidak muncul begitu saja, apalagi jika itu dilakukan dalam masa kampanye. Integritas seseorang dinilai dari apa yang telah dilakukannya. Jati diri ini menyatu dalam perilaku yang baik, tulus, jujur, sederhana, konsisten, tidak cacad/korup, berupaya tepati janji, tenggang rasa, berkorban, dan cerdas.   Entitas Jokowi itu low profile (diakui Jusuf Kalla) atau good profile (istilah Mario Teguh).

2. Faktor Kepercayaan Masyarakat.

3. Faktor Pencitraan via Baju Kotak-Kotak. Filosofi baju kotak-kotak, bagi Jokowi-Ahok, adalah pengakuan terhadap adanya perbedaan-perbedaan (Suku-Agama-Ras-Antar Golongan) yang diarahkan untuk mencapai tujuan bersama, yakni kemajuan kesejahteraan Ibukota Indonesia.

4. Faktor Visi-Misi via Game/Tagline “Selamatkan Jakarta”.  Games ini sekaligus menjelaskan Visi-Misi Jokowi secara sederhana dan menarik. Seorang filsuf pernah menyatakan bahwa kita harus selalu berpikir, jangan membiarkan pikiran kosong, jika malas belajar, bermain game saja. Salah satu kebutuhan manusia adalah hiburan. Hiburan yang termudah adalah bermain-main (games). Seorang yang main game “selamatkan Jakarta” akan berperan/mengidentifikasikan dirinya sebagai Jokowi. Tugas pertamanya adalah menyelamatkan warga yang baik dari pejabat korup, pengusaha hitam, preman, dan sampah. Ini sangat memikat hati. Soal preman Ibu Kota, ada berapa banyak masyarakat Jakarta yang takut atau merasa tidak aman terhadap preman? Kejengkelan seseorang kepada preman, akhirnya mempengaruhi orang itu memilih Jojowi (yang dalam bermain game “selamatkan Jakarta” ia mengidentifikasikan dirinya sebagai Jokowi, jadi wajar pilih diri sendiri).

5. Faktor Simpati (difitnah, sara, dikeroyok partai-partai besar).

Makna Kemenangan

1. Makna utama kemenangan Jokowi-Ahok ini adalah kemenangan pluralisme. Interaksi sosial yang saling menghormati perbedaan dan toleransi untuk hidup bersama (koeksistensi).

2. Partai-partai besar/kecil yang beralih ke Foke-Nara tidak diikuti oleh pemilih mereka. Figur lebih utama daripada partai.

3. Isu SARA (Suku-Agama-Ras-Antar golongan) tidak membawa kemenangan tetapi justru membawa citra negatif bagi yang menggunakannya.

4. Jakarta menggambarkan keberadaan Indonesia yang berideologi Pancasila dan Berkebhinekaan Tunggal Ika. Siapapun bisa menjadi pemimpin di Indonesia tanpa diskriminasi SARA.

5. Masyarakat Jakarta merindukan fungsi pemerintahan (goverment function) yang benar-benar memberikan pelayanan publik (public service), bukan sebaliknya, otoriter dan hanya mau dilayani/dituruti. Jelas, menunjukkan masyarakat Jakarta menginginkan perubahan mendasar.

Selamat, Masyarakat Jakarta dan Jokowi-Ahok, “inspirasi anak bangsa”. God Bless You.

Satu Tanggapan

  1. Entah apa yang ada dalam pikiran masyarakat jakarta ketika memilih seorang -some say- Islam abangan untuk menjadi Gubernur dan seorang dari etnis dan agama minoritas untuk menjadi wakil gubernur?!…yang pasti bahwa,warga jakarta sudah mulai naik taraf intelektualitasnya..dan saya harap sih hal tersebut berdampak pula pada daerah lainnya.Yang pasti tantangan ke depan buat JOKO n Ahok akan sangat berat,,ekspetasi publik pada kinerja mereka akan sangat besar,,menarik untuk melihat bagaimana mantan kepala daerah yang lebih kecil dari ibu kota memimpin Jakarta. Jakarta jelas bukan bangka,,perbandingan jumlah penduduk sangat jauh,,bagaimana Ahok yang terkenal sangat baik dalam administrasi mengatur Jakarta dengan jumlah penduduk dan kompleksitas yg jauh lebih masif dari Bangka..Pun sepak terjang JOKOWI,,jakarta bukan solo,yang alon-alon asal kelakon,,segalanya serba cepat di Jakarta,bkan cuma etnis jawa aja yg ada di Jakarta,tapi campuran dr segala etnis yg ada di Indonesia. Dan pastinya,Jakarta adalah ibukota,pusat ekonomi,pusat perdagangan,pusat pemerintahan dan pusat politik..Jelas conflict of interest dalam memimpin jakarta lebih besar dan kompleks dibandingkan memimpin solo..Namun,apapun tantangan ke depan,saya yakin dengan integritas yang dipertontonkan oleh pasangan ini selama menjabat di daerah masing2,,Jakarta pasti akan lebih baik..dan semoga Indonesia akan lebih baik pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s