Komnas HAM: 85 Persen Bangunan Ibadah Tak Berizin

Komnas HAM: 85 Persen Bangunan Ibadah Tak Berizin

TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melansir temuan bahwa 85 persen rumah ibadah di Indonesia tak berizin. Tak terkecuali Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Setu di Bekasi yang sedang disegel oleh pemerintah daerah.

“Mayoritas musala dan masjid. Kalau kalian cek, rumah ibadah di pedesaan itu banyak yang enggak ada izinnya, meski dekat dengan kantor kelurahan sekali pun,” ujar Wakil Ketua I Komnas HAM Imdadun Rahmat kepada Tempo, di Jakarta, Selasa, 9 April 2013. Baca lebih lanjut

Pernyataan Pemimpin Agama Asia

Pernyataan bersama Para Pemimpin Agama Muslim-Kristen Asia

 

04/03/2013

Inilah pernyataan bersama Para Pemimpin Agama Muslim-Kristen Asia thumbnail

Berjuang Bersama Dalam Kasih

Pernyataan Konferensi Para Pemimpin Agama Muslim-Kristen Asia

Solidaritas dan Kerjasama di Asia

“Mengasihi Tuhan, Mengasihi Sesama, Mengasihi Seluruh Ciptaan”

Pendahuluan

Tuhan yang Maha Kuasa, dimuliakan nama-Nya karena Dia telah menuntun kami, 134 pemimpin Kristen-Muslim Asia, bersama untuk konferensi yang bersejarah ini di Jakarta, yang berlangsung pada 25 Februari-1 Maret 2013. Baca lebih lanjut

Pengertian Hukum Menurut 50 Pakar

Pengertian Hukum Menurut 50 Pakar

  1. Baruch Spinoza: Hukum adalah hukum kodrat sebagaimana yang diterapkan pada manusia tidak didasarkan nalar yang benar, hal itu merupakan suatu pencerminan dari hukum.
  1. Piere Dubois: Hukum adalah sesuatu aturan yang harus diterima secara terus-menerus dan bukan sesuatu yang statis.
  1. Puchta: Hukum adalah merupakan pencerminan dari jiwa rakyat, hukum tumbuh bersama-sama dengan pertumbuhan rakyat dan menjadi kuat bersama-sama  kekuatan rakyat dan pada akhirnya  ia mati jika bangsa itu kehilangan kebanggaannya. Baca lebih lanjut

MODEL TEOLOGI BIBLIKA (DOING BIBLICAL THEOLOGY)

MODEL TEOLOGI BIBLIKA (DOING BIBLICAL THEOLOGY)*

 

James Barr, salah teolog yang terkenal dalam abad ke-20, telah mengemukakan mengenai model dalam teologi biblika dengan menyorot pandangan Manfred Oeming menyangkut pemikiran Gerhard von Rad. Uraian berikut adalah dikutip dari buku karangan James Barr, The Concept of Biblical Theology. An Old Testament Perspective.

            Menurut  Manfred Oeming, berkaitan dengan pengembangan teologi biblika maka salah satu nama yang patut disebut adalah Gerhard von Rad. Bagi Oeming, Gerhard von Rad mengembangkan 4 model teologi (biblika).[1]

1. Model Sejarah Perjanjian (The promise-history model). Baca lebih lanjut

TEOLOGI RELIGONUM C. GROENEN: KESELAMATAN TIDAK ADA DALAM NAMA LAIN MANAPUN

TEOLOGI RELIGONUM C. GROENEN: KESELAMATAN TIDAK ADA DALAM NAMA LAIN MANAPUN

 

 “Dan keselamatan (swthri,a – soteria) tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama (o;noma – onoma) lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan ( swqh/nai – sothenai)” (Kis.  4:12).

 Pada awalnya, pendekatan teologi Kristen terhadap agama-agama lain bersifat negatif, polemis, apologetis, dan agresif. Sekarang, pendekatan teologi Kristen umumnya secara positif—secara resmi melalui World Council of Churches, pemimpin gereja Katolik—di mana agama lain punya peranan positif dalam tata penyelamatan. Orang beragama lainnya dapat selamat bukan kendati agamanya, melainkan berkat agamanya.

I. PERMASALAHAN

– Apa peranan agama Kristen dalam tata penyelamatan?

– Dalil klasik “Extra Ecclesiam Nulla Salus” (diluar gereja tidak ada keselamatan), adagium (pepatah/pribahasa) ini semakin direlativasikan, diperlemah dan akhirnya dikosongkan.

– Dalam adagium EENS muncul adagium “extra Yesum Christum Nulla Salus” (Diluar Yesus Kristus tidak ada keselamatan). Adagium inipun kini tersimpan diperpustakaan sebagai “curiosum-pujian?” dari masa yang lampau.

II. YESUS KRISTUS JURUSELAMAT UNIVERSAL? Baca lebih lanjut

PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

 (Th. Sumartana: Direktur Institut Dian/Interfidei, Yogyakarta. Praktisi Dialog Antar-umat Beragama)

I. Pendahuluan

            Sumartana berpendapat bahwa  pemikiran keagamaan di Indonesia sedang mencari formatnya yang lebih memadai untuk menjawab tantangan-tantangan yang spesifik. Konteks kehidupan masyarakat Indonesia merupakan konteks di mana Kristen dan Islam mempertaruhkan inti-inti ajarannya untuk hadir secara utuh dan menyeluruh dalam gerak hidup yang secara khusus memberi corak kepada interaksi kedua agama tersebut di tengah masyarakat.

Sumartana menyebutkan dua ciri yang setidak-tidaknya akan selalu memberi warna: pergulatan dengan masalah pembangunan, dan pluralisme budaya dan agama. Pertama, Persoalan dengan masalah pembangunan adalah bagaimana tempat dan sumbangan agama Kristen-Islam dalam konteks kolektif yang besar untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan? Konteks kolektif tersebut, yaitu: kemiskinan, tidak berpengharapan, kerusakan lingkungan, ketidakadilan, marjinalisasi dan diskriminasi hak asasi dalam kehidupan budaya, politik, ekonomi, sosial dan agama. Kedua, Persoalan  Pluralisme – keanekaragaman yang masih dalam proses integrasi selaku masyarakat masih dalam tahap formatif.

II. Kristus dan Muhammad

Yesus dan Muhammad merupakan tokoh yang melahirkan agama besar di dunia, Kristen dan Islam. Keberhasilan kedua tokoh ini dalam merumuskan dan mengarahkan pemahaman kehidupan yang benar-benar mendasar bagi manusia. Baca lebih lanjut

TEOLOGI RELIGIONUM HENRI TEISSIER: DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

Teologi Religionum Henri Teissier:

DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA  YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

             Persoalan penting yang dikemukakan Henri Teissier dalam tulisan ini adalah: bagaimanakah memperdamaikan keyakinan kita bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12), dan keinginan kita untuk menghormati keterikatan para pendengar kita yang beragama Islam kepada suatu tradisi keagamaan yang lain?

I. Perkembangan Hubungan

            Teissier berpendapat bahwa perkembangan hubungan antara lingkaran-lingkaran kebudayaan dapat menentukan kelahiran suatu tahap yang baru dalam sejarah kesaksian kristen. Tahap yang baru tersebut adalah:

1. Berkembangnya suatu theologi mission, yang memperhatikan satu tipe gereja-gereja katekumenal. Ini terjadi sebagai konsekuensi pertemuan kekristenan dengan agama-agama lain dalam sejarah. Pada abad 16-19, penginjilan Eropa ditujukan pada bangsa-bangsa lain, dan melahirkan generasi baru Kristen dalam bangsa itu. Kehadiran generasi Kristen baru dalam bangsa non-Eropa ini, dalam lingkungan kebudayaan baru, melahirkan juga theologi mission yang memperhatikan tipe gereja katekumenal. Baca lebih lanjut