PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

 (Th. Sumartana: Direktur Institut Dian/Interfidei, Yogyakarta. Praktisi Dialog Antar-umat Beragama)

I. Pendahuluan

            Sumartana berpendapat bahwa  pemikiran keagamaan di Indonesia sedang mencari formatnya yang lebih memadai untuk menjawab tantangan-tantangan yang spesifik. Konteks kehidupan masyarakat Indonesia merupakan konteks di mana Kristen dan Islam mempertaruhkan inti-inti ajarannya untuk hadir secara utuh dan menyeluruh dalam gerak hidup yang secara khusus memberi corak kepada interaksi kedua agama tersebut di tengah masyarakat.

Sumartana menyebutkan dua ciri yang setidak-tidaknya akan selalu memberi warna: pergulatan dengan masalah pembangunan, dan pluralisme budaya dan agama. Pertama, Persoalan dengan masalah pembangunan adalah bagaimana tempat dan sumbangan agama Kristen-Islam dalam konteks kolektif yang besar untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan? Konteks kolektif tersebut, yaitu: kemiskinan, tidak berpengharapan, kerusakan lingkungan, ketidakadilan, marjinalisasi dan diskriminasi hak asasi dalam kehidupan budaya, politik, ekonomi, sosial dan agama. Kedua, Persoalan  Pluralisme – keanekaragaman yang masih dalam proses integrasi selaku masyarakat masih dalam tahap formatif.

II. Kristus dan Muhammad

Yesus dan Muhammad merupakan tokoh yang melahirkan agama besar di dunia, Kristen dan Islam. Keberhasilan kedua tokoh ini dalam merumuskan dan mengarahkan pemahaman kehidupan yang benar-benar mendasar bagi manusia.

Kisah kehidupan Yesus hanya kita dapati dalam tulisan suci Perjanjian Baru. Ini menyebabkan banyak kelemahan kita dalam memisahkan Yesus yang historis dan Kristus yang merupakan pusat kultik agama Kristen. Yesus membawa pesan utama mengenai Kerajaan Allah. Inti pemberitaan ini telah memberikan kedudukan yang unik bagi agama Kristen dalam percaturan agama-agama dunia. Kerajaan Allah itu sendiri bukan sebuah gagasan yang unik akan tetapi penafsiran Yesus tentang kerajaan itulah yang memberikan keunikan bagi Yesus selaku penggerak sebuah komunitas baru yang berorientasi kepada harapan tentang Kerajaan Allah.

Muhammad membawa pesan utama kepercayaan tauhid, yaitu pandangan yang dalam ilmu agama disebut sebagai monoteisme (radikal). Pesan Muhammad ini, sebagai pembawa firman yang lengkap, memberikan petunjuk kepada umat Islam untuk berserah kepada Allah, dan menjadi berkah bagi sekalian alam. Muhammad mulai memimpin sebagai pembawa nilai-nilai agama bagi masyarakat dan sekaligus sebagai negarawan imperium Islam sejak abad ketujuh. Dalam kepemimpinan ini, dunia Islam menembus kebekuan dari masyarakat jahiliah yang tidak mampu memberikan prospek kepada perkembangan tanah Arab dan Timur Tengah. Dalam pandangan sejarawan, Muhammad merupakan seorang pembebas yang punya makna sejarah yang besar. Bukan hanya dalam segi jumlah umatnya yang banyak, tetapi juga dalam gerak transformasi masyarakat yang dilakukannya. Secara religius, Muhammad tampil sebagai pembawa wacana pembebasan bagi umat manusia dan dunia, sebagai nabi dan rasul.

III. Kristologi Konteks Indonesia

            Ajaran mengenai Kristologi sangat penting bagi umat Kristen, karena menjadi inti dari kekristenan. Ajaran ini menentukan jatuh bangunnya agama Kristen. Dalam sejarah, ada beberapa corak kristologi:

Pertama, Masa Patristik. Masa pembakuan dan ortodoksi, yang berlangsung dalam pertemuan-pertemuan ekumenis dan konsili-konsili dari abad keempat sampai abad ketujuh (abad 4 – 7). Pemikiran dari masa ini sangat dipengaruhi oleh alam pikiran greko-romawi, khususnya oleh alam pikiran ontologinya (yang bertanya “siapa”).

Kedua, Masa ilmiah. Pendekatan ilmiah yang mencari “the historical Jesus”  di abad 19, yang secara kritis mempertanyakan posisi dogmatis dari bentuk kristologi di abad-abad sebelumnya.

Ketiga, Kristologi Zending. Gambaran tentang Kristus di zaman kolonial merupakan gambaran dari sebuah pusat yang memiliki kekuasaan penuh dan tidak terbuka kepada agama-agama lain. Kristus adalah bagian dari kekuasaan kolonial.

            Pemikiran kristologi sesudah masa kolonial bertumbuh dengan berbagai ragam. Paul Newman (Yahudi Kristen) mengembalikan kristologi pada akar Yahudi dan bukan sebagai permainan spekulasi dari ontologi dunia greko-romawi. Newman mengembalikan suatu pemahaman monoteisme yang asli. Ia mengusulkan perubahan paradigma dari “christocentric trinitarianism” kepada “theosentric spirit christology”, dimana tekanan pada “holy Spirit” dipulihkan. Paradigma tradisional trinitaris-kristosentrik berada dalam krisis besar. Theosentris adalah alkitabiah, sedangkan Kristosentris dianggap tidak alkitabiah. Pemikiran Arius kembali hendak dinilai, yang dikalahkan Athanasius berpikir hellenistik. Athanasius berkonsep “irreversible grace” tampak tidak alkitabiah dibanding konsep Arius yang berpandang bahwa keselamatan diperoleh di dalam proses pergulatan yang berlangsung dalam perjanjian dengan Allah. Arianisme memandang Yesus sebagai anak Allah karena kehendak Allah dan kuasa Bapanya, kepada siapa Yesus menunjukkan ketaatan dan kesetiaannya sampai mati. Arianisme mempertahankan konsep Perjanjian Lama tentang kerjasama dalam relasi perjanjian Allah dipertahankan. Keunikan Kristus, menurut Newman, terletak pada kehidupan Yesus yang didasarkan dari Roh Allah, pemberitaannya mengenai Kerajaan Allah, dan seluruh ketaat-setiaannya. Newman mengusulkan pergeseran paradigma dari “christocentric-trinitarianism” kepada “theocentric-spirit-christology”.

John Sobrino, memberikan suatu titik tolak dan analisis yang terang untuk menyusun kristologi dalam perspektif pemikiran tentang Yesus yang historis, dan dari sana mengembangkan kristologi Teologi Pembebasan (Amerika Latin). Kristologi Sobrino berangkat “dari bawah” dengan menekankan “historical Jesus”. Sobrino menyatakan bahwa Yesus tidak mewartakan dirinya, juga bukan mewartakan tentang Allah, tetapi mewartakan Kerajaan Allah sebagai “the operative reality of the reign of God”. Yesus tidak memberitakan hubungannya dengan Allah, melainkan hubungannya dengan Kerajaan Allah. Yesus harus dilihat tetap sebagai orang beragama Yahudi, yang melihat Tuhan sebagai Tuhan yang bertindak, dan bukan hanya hadir dalam “being”-nya saja. Pendekatan Sobrino mengenai kristologi merupakan pendekatan praksis, dimana iman Kristen mesti lebih melibatkan diri dalam pergulatan kemanusiaan yang dipertaruhkan secara nyata di masyarakat. Konsep Kerajaan Allah bisa menjadi titik tumpu bagi pergulatan dan kerjasama antaragama untuk memerangi social evil.

Paul Knitter menyatakan bahwa tantangan yang semakin nyata datang dari dua arah sekaligus: the many poor and the many religions. Umat Kristen tidak bisa lagi berilusi untuk memonopoli inisiatif dan gerakan transformasi masyarakat. Setiap agama memiliki potensi liberatif. Agama tak hanya bertemu secara doktrin dalam kesamaam maupun perbedaan, tetapi juga mesti dalam kerjasama menghadapi “common context” dan “common approach”. Common ground-nya secara teologis mengarah pada praksis keagamaan, seperti Teologi Pembebasan. Dalam kebersamaan ini, keunikan Yesus tetap ada. Keunikannya dalam pembebasan, bersama tokoh pembebas lain dalam keunikan masing-masing. Keunikan Yesus, dan keuniversalitasnya, terhadap agama-agama lain tidak lagi bisa disebut sebagai eksklusif atau inklusif, tetapi komplementer.

IV. Kesimpulan Th Sumartana

            Gereja-gereja perlu memberi perhatian kepada persoalan-persoalan kemasyarakatan. Asumsinya adalah bahwa kehidupan gerejawi, dan khususnya ajaran-ajaran dogmatis gereja, sangat dipengaruhi oleh persepsi gereja terhadap masyarakat. Pijakan sosial gereja yang kuat terletak dalam persepsi dan keterlibatan praksis kehidupan masyarakat.

            Perlu suatu konsili khusus untuk membahas kristologi yang lebih cocok untuk Indonesia. Tujuan konsili bukan untuk menyatukan pandangan atau mencari kesepakatan dalam bentuk dogma yang uniform, bukan untuk mengutuk perbedaan, tetapi untuk mendata kekayaan tradisi spiritual gerejawi, sekaligus mencari bentuk kristologi yang cocok untuk Indonesia.

            Kristologi merupakan kehidupan kekristenan. Tanpa kristologi, gereja berhenti menjadi Kristen. Titikpangkal kristologi harus dirangkai dari kesadaran dan pemahaman tentang konteks dan teks. Pengakuan bahwa Kristus adalah Tuhan, tidak dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Humanisasi, penampilan agama yang lebih manusiawi, itulah soal kita.

Komentar:

            Ada banyak sisi positif yang kita dapatkan dari pembahasan Th. Sumartana. Namun ada beberapa hal yang hendak dikritisi:

1. Perbandingan Yesus dan Muhammad

            Th. Sumartana jelas memperbandingkan Tokoh Yesus dengan Tokoh Muhammad sebagai inti agama Kristen dan Islam. Sejauh pengetahuan teologi yang saya imani, Yesus tak dapat disebandingkan dengan Muhammad. Yesus adalah Firman Allah, yang jika harus dibandingkan dengan Islam, dapat disebandingkan dengan Al-Quran yang diyakini umat Islam sebagai Kalam Allah secara langsung, seperti gambar ini:

Yesus n Muhammad

2. Pemikiran Sumartana mengenai Kristologi dapat kita telusuri melalui Pendahuluan, pembahasan beberapa tokoh mengenai kristologi, dan kesimpulannya. Ketiga bagian besar pembahasan tersebut menyatakan pemikiran kristologi Sumartana yang menekankan kemanusiaan Yesus, atau Kristologi dari bawah. Sumartana mencoba mengajak pembacanya untuk “meninggalkan” Kristologi yang menekankan ke-Allah-an Yesus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s