TEOLOGI RELIGIONUM HENRI TEISSIER: DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

Teologi Religionum Henri Teissier:

DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA  YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

             Persoalan penting yang dikemukakan Henri Teissier dalam tulisan ini adalah: bagaimanakah memperdamaikan keyakinan kita bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12), dan keinginan kita untuk menghormati keterikatan para pendengar kita yang beragama Islam kepada suatu tradisi keagamaan yang lain?

I. Perkembangan Hubungan

            Teissier berpendapat bahwa perkembangan hubungan antara lingkaran-lingkaran kebudayaan dapat menentukan kelahiran suatu tahap yang baru dalam sejarah kesaksian kristen. Tahap yang baru tersebut adalah:

1. Berkembangnya suatu theologi mission, yang memperhatikan satu tipe gereja-gereja katekumenal. Ini terjadi sebagai konsekuensi pertemuan kekristenan dengan agama-agama lain dalam sejarah. Pada abad 16-19, penginjilan Eropa ditujukan pada bangsa-bangsa lain, dan melahirkan generasi baru Kristen dalam bangsa itu. Kehadiran generasi Kristen baru dalam bangsa non-Eropa ini, dalam lingkungan kebudayaan baru, melahirkan juga theologi mission yang memperhatikan tipe gereja katekumenal.

2. Situasi lain pada gereja-gereja katekumenal. Kesaksian Kristen dalam bangsa-bangsa lain, atau dalam kebudayaan lain, belum diterima dengan baik. Ada bangsa-bangsa yang secara bulat belum terpanggil masuk gereja. Meskipun demikian, orang-orang Kristen telah memiliki arti tersendiri dalam kehidupan bersama yang bersifat spiritual, dengan orang-orang atau persekutuan-persekutuan keagamaan itu.

3. Renungan baru dari Vatikan II. Pada tahun 1965, Gereja Vatikanum II mengeluarkan “Deklarasi tentang hubungan gereja dengan agama-agama bukan Kristen”.  Dapat dikatakan bahwa Deklarasi Vatikan II ini hasil dari wadah “Sekretariat Roma untuk mereka yang bukan Kristen” yang didirikan Paus Paul VI pada tahun 1964. Paus Paulus VI memperhatikan bahwa ada kekayaan agama pada bangsa lain, “menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang kompleks dan peka yang sedapatnya dibahas dalam terang Tradisi Kristen dan Mysterium (rahasia) gereja, guna menawarkan kepada para missionaris sekarang dan esok cakrawala-cakrawala yang baru dalam pertemuan-pertemuan mereka dengan agama-agama bukan Kristen”.

4. Tahap baru dalam Kesaksian Kristen, bukan Perubahan Taktis. Seruan Vatikan II bukanlah perpindahan dari seruan missionaris kepada dialog antar agama. Panggilan untuk berdialog dengan agama-agama bukan Kristen adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan suatu penyesuaian taktis belaka dari bentuk-bentuk kesaksian Kristen.

II.  Perjumpaan dan Penghormatan

            Teissier beranggapan bahwa dalam situasi perjumpaan keanekaragaman agama, kita mestilah berusaha menjiwai agama lain. Kita mestilah menghormati tanggung jawab orang atas perjalanan yang telah mereka pilih dalam agamanya.

            Menyerahkan Kesaksian Kita kepada Allah dan Kebebasan Orang. Kesaksian Kristen tetap kita sampaikan, “sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak  berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis. 4:20). Kesaksian injili tetap kita sampaikan dalam agama atau budaya lain, namun bukan dengan paksaan mereka menerima kesaksian itu.

            Allah yang merencanakan sejarah bersama kita. Pertemuan dengan agama-agama lain merupakan bagian dari rencana Allah bagi sejarah gereja kita. Ada keyakinan bahwa ada maksud Allah yang baik mengutus kita dalam pertemuan dengan agama lain. Misalnya, pertemuan itu menjadi kesaksian timbal-balik, atau suatu seruan pertobatan yang timbal balik. Kita percaya bahwa Allah “yang membuat kita berbeda supaya kita dapat saling mengenal” (Al-Qur’an 49:13). Allah juga yang membangun masa depan Gereja dan agama lain (Islam) untuk bertemu, bekerjasama dalam kebenaran, dan saling hormat.

            Oikumenisme antar-Kristen memberi arti pada pertemuan dengan non-Kristen. Sejak semula, Yesus mempertemukan para murid yang berbeda tradisi untuk berdoa dan mencari kehendak Allah bersama-sama. Kita mengakui adanya perbedaan agama-agama. Namun kerjasama yang benar dan saling menghormati telah membawa kita kepada tujuan yang sama.

III. Mendukung Kebebasan Rohani berarti Menghormati Kegiatan Allah

            Menghormati kebebasan beragama orang lain berarti menghormati pekerjaan Allah di dalamnya. Seseorang memegang kebenaran agamanya, umumnya, karena mereka lahir, berbudaya, adanya peristiwa kehidupan, dan adanya kepentingan mereka yang menempatkan mereka di jalan agama itu. Semua itu mestilah dipahami sebagai rancangan Allah. Tidak patut kita mencoret-coret rancangan Allah sebagaimana yang ia dipahami oleh hati nurani setiap orang. Setiap pertemuan antara kita dengan saudara-saudara kita dapat dilihat sebagai inisiatif dari pihak Allah terhadap kita masing-masing. Dengan menghormati kebebasan saudara-saudara kita, kita sebenarnya menghormati kehendak Allah terhadap mereka. Semangat proselytisme dalam kesaksian mesti ditinggalkan, dan menyerahkan kesaksian itu pada Allah dan pendengar.

            Menghormati kebebasan beragama lain berarti mempersiapkan diri untuk menerima dari padanya suatu Firman Tuhan. Penghormatan pada umat beragama lain memungkinkan kita mendengar juga kesaksian mereka. Rahasia Kristus dalam segala seginya, dapat kita pahami ketika kita mendengar umat beragama lain. Ketika kita bersedia mendengar dan menghormati orang lain, ketika itu juga kita sedang memuliakan Allah. Allah tidak dimuliakan di mana manusia tidak dihormati.

            Tidak ada penghormatan terhadap kebebasan individual tanpa penghormatan terhadap persekutuan di mana pribadi-pribadi itu berada. Kita diundang untuk memandang sejarah dari setiap persekutuan manusiawi sebagai suatu sejarah yang suci. Bukan saja dalam arti bahwa semuanya sudah menjadi baik, melainkan karena Allah memanggil setiap kelompok dari tempat di mana ia berada, bahkan dari tengah kesalahan dan kesesatannya.

 

IV. Masa Kesatuan Melalui Usaha Hidup dalam Perdamaian dan Partisipasi

            Misi Yesus menampakkan diri secara khusus dalam mengumpulkan anak-anak Allah yang tercerai-berai dalam kesatuan. Keselamatan yang dibawa oleh Yesus memegang eksistensi manusia, baik yang pribadi maupun yang kolektif, dari pelbagai segi. Ialah sinar bagi kecerdasan manusia dan permulaan dari pengharapan.

            Gereja memenuhi missionya di mana ia mewujudkan kesatuan antara manusia. Sudah datang waktunya untuk mengenal misssion Kristen seperti yang diduga oleh mereka yang mencari pemujudan kesatuan antara manusia, khususnya dalam bidang yang kita pentingkan, yaitu antara kaum Kristen, Muslimin, dan Yahudi. Ketiga keluarga ini yang menuntut sebagai leluhur bersama mereka dalam  iman: Abraham, orang Perjanjian, Persekutuan dan ketaatan terhadap Allah.

            Kesatuan antara Kristen dan Muslimin melalui tahap perdamaian, pengakuan, penghormatan, dan partisipasi. Orang-orang yang telah diperdamaikan oleh Allah sedang berjalan menuju perdamaian. Perdamaian ini mestilah timbal-balik dalam pengakuan yang tidak memandang rendah pihak lain. Tidak ada kesetiaan Kristen bila bersekutu dengan memisahkan dan mempertentangkan orang-orang yang satu terhadap yang lainnya. Tidak ada Kabar Baik yang disampaikan bila memperlihatkan diri sebagai orang/kelompok yang mengancam damai dan identitas dari orang-orang lain.

            Melayani kesatuan adalah salah satu dari beberapa mission yang unggul dari gereja. Dewan Gereja-gereja se-Dunia di Chiang Mai (1977) telah menandatangani pernyataan, untuk “… Pandangan ‘persekutuan dalam persekutuan-persekutuan’ yang mencakup seluruh dunia tersedia bagi kita untuk menjadi jalan mencari persekutuan dalam dunia yang bersifat majemuk. Pandangan ini bukan merupakan salah satu kesatuan yang homogen atau seragam yang total tetapi bagi orang Kristen dihubungkan dengan kekuasaan Kerajaan Tuhan atas semua persekutuan manusia”.

 

V. Masa Pertobatan Timbal-Balik

            Kabar Baik Injil merupakan panggilan pertobatan kedatangan Kerajaan Allah. Setiap perjumpaan Yesus dengan orang-orang semasanya adalah cerita tentang suatu pertobatan, suatu perubahan hidup sebagai jawaban atas panggilan Guru. Sejarah para murid merupakan kisah pertobatan menuju pembaharuan dalam Injil.

Kesaksian dari utusan adalah pertama-tama kesaksian tentang pertobatannya sendiri. Pada masa Yesus, proselitisme besar-besaran disebarluaskan oleh Yahudi. Agama Yahudi adalah agama missionaris yang besar dan pertama di dunia Laut Tengah. Tetapi Yesus hanya menyebutkan usaha yang hebat ini ketika Ia mengambil sikap yang keras terhadap mereka yang melibatkan diri dalam usaha proselitisme tanpa mengusahakan pertobatan mereka sendiri.

         Waktu untuk Pertobatan Timbal-balik. Bagi Rasul Paulus, pertobatan orang Yahudi dan yang bukan Yahudi, kadang-kadang kelihatan seolah-olah yang satu memandang yang lain: “keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu” (Roma 11:11). Sikap rohani ini juga dihargai dalam gereja pembaharuan. Kesaksian pertama yang dapat disampaikan kepada saudara-saudara adalah berita yang menggembirakan tentang pertobatan yang diterima sebagai karunia Allah.

           Interaksi agama-agama satu terhadap yang lain. Semua sistem keagamaan yang absolut berada dalam posisi aksi-reaksi satu terhadap yang lain, sebab saling berhubungan karena adanya keberlainan; saling berhubungan tetapi tidak direlativir. Masing-masing mempunyai pandangan yang mutlak. Mutlak karena tidak bisa dilampaui. Namun pandangan kemutlakkan ini tidak dapat mengatakan totalitas, karena itu pandangan kemutlakkan ini juga tidak merupakan totalitas. Interaksi inilah yang dapat dipandang secara rohani sebagai tempat dari pertobatan timbal-balik itu melalui Allah yang melibatkan kita. Upaya ini berlangsung secara perlahan, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kesetiaan kita dalam pendekatan Kerajaan Allah, sampai Ia menjadi semua dalam semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s