Pesan Bulan Oikumene 2013

Pesan Bulan Oikumene 2013

Pesan Bulan Oikumene

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia 2013

 “Allah Kehidupan, Pimpinlah Kami ke Dalam Keadilan dan Perdamaian”

(Bdk. Yesaya 42:3)

______________________________________________________

 

Saudara-saudari Warga Gereja yang dikasihi Yesus Kristus!

Salam sejahtera,

1.    Ketika kita sekarang, pada tahun 2013 kembali memasuki bulan Oikoumene, maka genap 63 tahun lalu kita memulai gerakan ini. Hal itu ditandai dengan pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia pada 25 Mei 1950, yang saat ini dikenal sebagai Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Maka inilah saat yang tepat untuk menaikkan puji-pujian dan ucapan syukur kepada Yesus Kristus Tuhan Gereja yang telah menyertai kita sampai sejauh ini. Pada saat yang sama kembali kita diingatkan akan tonggak sejarah penting dan mendasar mengenai komitmen dan tekad kita guna mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE) di Indonesia. Sejak awal kita menyadari keanekaragaman gereja-gereja di Indonesia, baik dari latar-belakang sejarah dan suku, maupun teologi dan ekklesiologi yang melatarbelakangi gereja-gereja tersebut. Namun keanekaan itu tidak menghalangi kita untuk mengikrarkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Justru atas dasar ikrar yang satu itulah kita bertekad saling membuka diri, dan berusaha menampilkan kesatuan dalam arak-arakan gerakan oikoumene. Perbedaan-perbedaan di antara kita tidaklah dipandang sebagai hal yang patut dipertentangkan. Sebaliknya perbedaan-perbedaan itu adalah kekayaan bersama yang memperkuat kesaksian dan pelayanan kita guna menghadirkan damai-sejahtera Allah di tengah-tengah masyarakat majemuk Indonesia. Kita meyakini bahwa inilah wujud Doa Yesus Kristus dalam Yoh. 17:21: “…… supaya mereka semua menjadi satu ….. supaya dunia percaya”.  Sekarang ini PGI merupakan wadah kebersamaan dari 88 (delapan puluh delapan) sinode di seluruh Indonesia.

2.   Tema bulan Oikoumene 2013 ini diilhami oleh tema Sidang Raya ke-10 Dewan Gereja-gereja Sedunia (General Assembly of the World Council of Churches) yang akan diselenggarakan di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2013. Kita mengambil-alih tema ini bertolak dari semangat yang sama, bahwa kita adalah bagian dari arak-arakan oikoumene pada aras dunia. Kendati sebagai gereja-gereja di Indonesia kita berada dalam konteks yang spesifik, namun kita mendiami dunia yang satu. Maka karena itu tema “God of Life, Lead Us to Justice and Peace” juga merefleksikan pergumulan-pergumulan dan sekaligus harapan-harapan kita di negeri ini. Kita masih bergumul dengan kemiskinan akut yang merupakan akibat dari ketidakadilan global yang merebak di mana-mana di dunia ini. Kendati polarisasi Barat-Timur telah lama hilang, sebagai akibat memudarnya ketegangan Blok Barat dan Blok Timur, namun kita diancam oleh ketegangan baru yaitu Utara-Selatan. Ketegangan baru ini sedikit-banyaknya disebabkan oleh hegemoni kapitalisme global yang mempengaruhi seluruh dunia termasuk negeri kita. Pada gilirannya, rasa diperlakukan tidak adil ini menimbulkan kekerasan, bahkan radikalisme di mana-mana. Tentu saja kekerasan dan radikalisme juga disebabkan oleh gairah kekuasaan yang ingin dicapai dengan cara-cara yang tidak wajar. Pada akhirnya yang menjadi korban dan diterpinggirkan adalah rakyat kecil yang tidak mempunyai kekuasaan dan pengaruh. Menyadari kenyataan ini, gereja-gereja menyatakan keberpihakannya kepada para korban dan yang diterpinggirkan. Pesan nabi Yesaya, bahwa buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum (Yes. 42:3), adalah harapan bahwa bagaimanapun keadilan dan kebenaran Allah akan dinyatakan di tengah-tengah dunia yang kelihatannya seperti tanpa harapan ini. Gereja-gereja dipanggil untuk menjadi agen-agen perubahan bagi dunia dan masyarakat yang di dalamnya gereja-gereja hidup.

3.    Di negeri kita, kendati dicatat adanya kemajuan-kemajuan signifikan di bidang ekonomi makro, namun secara kasat-mata kita masih menghadapi persoalan-persoalan kemiskinan, ketidakdilan, kekerasan bahkan kecenderungan radikalisme. Selain itu, eksploitasi yang berlebih-lebihan terhadap alam sangat menguatirkan kita. Tahun-tahun 2013 dan 2014 disebut “Tahun Politik”, yang kendati merupakan agenda rutin dalam peralihan kekuasaan dalam sebuah negara demokrasi, namun juga menimbulkan kekuatiran-kekuatiran. Maraknya kekerasan, longgarnya penegakan hukum yang berkeadilan, kecenderungan intoleransi dalam hal beragama yang mewujud dalam penghambatan kebebasan beribadah di beberapa tempat sangat menguatirkan dan sekaligus menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah kesatuan dan persatuan kita sebagai masyarakat, bangsa dan negara masih bisa dipertahankan dalam tahun-tahun mendatang. Maka adalah panggilan dari gereja-gereja, tanpa memandang aliran dan denominasi untuk mencegah jangan sampai masyarakat, bangsa dan negara kita terperangkap dalam berbagai persoalan yang disebutkan tadi. Agar dapat melaksanakan hal itu, gereja-gereja sendiri mesti menyatakan komitmennya untuk satu dalam kesaksian dan pelayanan. Kesadaran itulah yang hendak diungkapkan oleh gereja-gereja dari berbagai aliran dan denominasi melalui Celebration of Unity [Perayaan Kesatuan] yang diselenggarakan di Jakarta pada 18 Mei 2013. Perayaan itu juga sekaligus merupakan ungkapan sukacita bersama atas diselenggarakannya Sidang Raya Dewan Gereja-gereja Sedunia untuk kali kedua di bumi Asia, yaitu di Busan, Korea Selatan.

Pada akhirnya, kami mengajak gereja-gereja untuk:

Pertama, terus-menerus tanpa mengenal lelah makin memperkuat persekutuan di dalam wadah PGI dan sekaligus memperluas tekad kebersamaan dengan berbagai aliran dan denominasi untuk pada akhirnya mewujud dalam Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.

Kedua, terus berkomitmen, bertekad dan melakukan aksi dalam upaya mewujudkan perdamaian dan keadilan bagi keutuhan ciptaan. Gereja-gereja diminta untuk memberikan sumbangan-sumbangan nyata bagi kehidupan masyarakat yang penuh damai tanpa kekerasan, hidup dalam damai sejahtera dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan yang ada.

Ketiga, tak jemu-jemu untuk menyuarakan keadilan, penegakan hukum dan keberpihakan kepada pelestarian alam. Keadilan bagi gereja haruslah meliputi perjuangan untuk keadilan ekonomi, hak asasi manusia dan keadilan lingkungan.

Keempat, berpartisipasi secara penuh dalam gerakan kebersamaan Celebration of Unity yang akan diselenggarakan 17-18 Mei 2013, sebagai komitmen bersama bagi keutuhan Tubuh Kristus di Indonesia.

Demikianlah pesan dan harapan kami di Bulan Oikoumene 2013 ini. Tuhan kiranya memberkati segala upaya kita di dalam mewujudkan keesaan gereja-gereja Tuhan di Indonesia

Akhirnya marilah kita mengamini Firman Tuhan melalui pemberitaan Yesaya:

 Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damaisejahtera,

dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman

untuk selama-lamanya(Yesaya 32:17)

 Selamat merayakan Bulan Oikoumene!

Jakarta, Mei 2013

Atas Nama,

MAJELIS PEKERJA HARIAN PGI

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe         Pdt. Gomar Gultom, M.Th

                                Ketua Umum                                         Sekretaris Umum

Sumber: http://www.pgi.or.id/index.php/agenda-pgi/item/66-bulan-oikoumene-2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s