Kebutuhan Air Minum dan Air Hidup

Kebutuhan Air Minum dan Air Hidup

Air Minum dri Gunung Batu “Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?  (Keluaran 17:3)

“…tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:14)

 

Reaksi orang ketika mengalami kekurangan menunjukkan kualitas imannya. Kebanyakan orang yang dipimpin (umat) bersungut-sungut dan mempersalahkan sesamanya ketika ia mengalami kekurangan. Namun, seorang yang berjiwa pemimpin (Musa) berseru kepada Tuhan ketika mengalami kekurangan.

Air minum adalah kebutuhan manusia, ternak, dan tanaman. Air minum mewakili apa yang kita butuhkan di dunia ini. Kekurangan sesuatu yang kita butuhkan (seperti: kurang air, kurang makan, kurang sehat, kurang ekonomi, kurang cantik, kurang pujian, dan kekurangan lainnya), adalah perkara jasmani. Hari ini tercukupi, bahkan berlebihan, mungkin esok kekurangan lagi. Kita bersungut lagi. Marah lagi. Bertengkar lagi. Persalahkan orang lain lagi. Di satu sisi, kita berkata bahwa Tuhan yang menuntun kita dalam ziarah kehidupan ini menuju Tanah Kananaan yang berlimpah susu-madu. Tetapi dipihak lain, kekurangan menggoda kita untuk meragukan kehadiran Tuhan yang menuntun itu. Kekurangan yang menimbulkan sungut-sungut, kemarahan, dan mempersalahkan orang lain, menunjukkan kualitas iman kita. Berkata “percaya” memang mudah ketika keperluan tercukupi, apalagi berlebihan. Kualitas Iman teruji melalui kekurangan.

Minggu Sengsara IV ini, kita diajak untuk lebih utama menghayati “Air Hidup” yang telah diberikan Tuhan, melampaui keperluan air minum.  Bermohon, bersabar, dan tetap berharap pada Tuhan dalam segala kekurangan. Tak perlu menunggu kelebihan “air minum” baru menerima “Air Hidup”. Setiap orang yang menerima Yesus Kristus, telah memiliki perkara yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan kekal. Ia memiliki mata air dalam hidupnya, terus memancar, tiada henti, tiada habis, sampai kepada hidup yang kekal.

Mari kita menghayati Minggu Sengsara dengan terus merenungkan: Jika air minum biasa saja sangat kita perlukan untuk bertahan hidup, maka betapa lebih perlu memiliki Air Hidup yang menjadi mata air untuk hidup kekal. Masih banyak orang yang kehausan “Air Hidup”. Izinkan mereka menikmati Air Hidup itu dengan menjadikan diri kita mata air yang menyejukkan kehidupan ini.

Berseru-seru kepada Tuhan, berusaha, bersabar, legowo, dan bersedia menanggung sengsara, adalah cara mengatasi kekurangan.

Selamat Minggu Sengsara IV dan menyambut Ultah Gereja Toraja pada 25 Maret 2014. Tuhan memberkati.

(renungan GT, 23 Maret 2014)

Satu Tanggapan

  1. Syalom Pak Pendeta..
    Maaf sebelumnya apabila mengganggu.
    Saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Dewi Meta Mutiara A. mahasiswi program ekstensi administrasi fiskal di FISIP Universitas Indonesia. Saya sedang mengadakan penelitian tentang “Pengaruh Sosialisasi Pajak Terhadap Tingkat Kepatuhan Pajak Penghasilan Pendeta” untuk syarat kelulusan sarjana strata 1 saya melalui skripsi. Saya tertarik mengambil topik tersebut karena isu yang sedang cukup banyak beredar sekarang ini bahwa pemuka agama memiliki kewajiban perpajakan sama seperti pihak lainnya. Kemudian saya melihat bukti nyata bahwa pernah ada kegiatan sosialisasi perpajakan di gereja melalui website DJP (http://www.pajak.go.id/content/news/sosialisasi-perpajakan-dengan-pendeta-dan-pengurus-gereja-toraja). Sosialisasi yang terjadi pada Senin, 25 Februari 2013 itu terjadi di gereja Toraja dan saya melihat blog Bapak Pendeta, ternyata Bapak pernah mengikuti sosialisasi tersebut. Apabila Bapak berkenan, saya ingin mewawancarai Bapak mengenai pada saat berlangsungnya dan dampak dari kegiatan sosialisasi tersebut. Kiranya melalui wawancara dengan Bapak dalam penelitian saya ini dapat membawa pemahaman baru kepada para pendeta lainnya, yang mungkin belum mendapatkan sosialisasi perpajakan secara langsung di gereja seperti yang sudah Bapak peroleh waktu itu. Terima kasih Pak Pendeta atas perhatiannya.. Tuhan Yesus Memberkati pelayanan Bapak.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s