Piala Dunia 2014: Filosofi Der Panzer Jerman

Piala Dunia 2014: Filosofi Der Panzer Jerman
(Renungan Motivasi)

der Panzer

der Panzer

Sesudah Kebaktian rumah tangga, seorang bapak bertanya: “Bapak jagokan siapa, Jerman atau Portugal?” Saya menjawab: “entah mengapa, hati ini masih saja setia memilih Jerman”. Sejak tahun 1990, saya selalu jagokan Jerman. Waktu itu, Tv hitam putih, acara Tv hanya TVRI dan RTM (Radio Televisi Malaysia). Belum banyak pilihan hiburan, sehingga sepakbola menjadi tontonan yang sangat berkesan.

Kini, Piala Dunia 2014, kembali hati ini memilih kesebelasan Jerman, der panzer. Pilihan ini harus bermakna bagi kehidupanku, bukan sekedar tontonan hiburan. Perlu rasionalisasi atas pilihan hati. Saya mencoba mencari sesuatu yang dapat saya maknai. Ada dua hal yang dapat saya refleksikan, yaitu untuk renungan teologis: Gereja bagai Kesebelasan Sepakbola, dan renungan motivasi: filosofi Der Panzer. Pada kesempatan ini, saya khusus merefleksikan filosofi der panzer.

Kesebelasan Sepakbola Jerman diberi julukan der panzer, the Tank, kendaraan tempur lapis baja. (waktu kecil, kami menyebutnya “oto teng”). Tim Nasional Jerman mulai disebut der panzer di final Piala Dunia FIFA ke-5 tahun 1954 di Swiss. Waktu itu, Jerman (Barat) harus menghadapi juara Olimpiade 1952, Hongaria. Baru delapan menit, Jerman telah tertinggal 2-0. Timnas Jerman bukannya kecut hati, justru semakin keras berjuang, seluruh jiwa-raga tercurah, terus berupaya mengatasi rintangan, menggempur pertahanan lawan sampai titik darah penghabisan. Akhirnya, Jerman berhasil mengalahkan Hongaria di menit terakhir dengan skor 3-2 sekaligus menjadi hari bersejarah sebagai juara Piala Dunia yang pertama bagi Jerman.

Filosofi der panzer, yang diuraikan berikut ini, dapat menjadi bahan renungan motivasi bagi kita dalam melakukan sesuatu.

Pertama, der panzer atau the tank, merupakan kendaraan tempur berlapis baja yang tidak mudah dilumpuhkan dengan peluru senjata, apalagi dengan bambu runcing atau pedang/parang. Dalam pertempuran, awal Perang Dunia II, Jerman menggunakan taktik perang kilat (Blitzkrieg) dan sejarah mencatat kemenangan demi kemenangan yang tak terlepas dari penggunaan der panzer. Bagai der panzer, kita menjalani hidup ini terkadang mendapat tembakan peluru, sabetan belati atau pedang. Namun tidak mempan, tidak mudah terhenti, bahkan lebih semangat lagi menghadapi pertempuran kehidupan.

Kedua, der panzer menggunakan mesin diesel yang semakin lama semakin baik berfungsi, sekalipun panas namun tidak terbakar. Semangat der panzer tak mudah menyerah dan tak mudah terbakar oleh panjangnya jalan peperangan. Selalu tertantang untuk “berjalan dua mil” melampaui permintaan “berjalan satu mil”. Tak ada kata berhenti di tengah jalan, sebelum mencapai garis kemenangan.

Ketiga, der panzer menggunakan roda besi berbentuk rantai. Ini mengatasi duri, parit-parit alami maupun parit pertahanan lawan, dan dengan mudah melewati pagar kawat berduri. Peraih kemenangan hanya untuk mereka yang berani berputar melintasi duri-duri tajam dan parit pemisah menuju sasaran. Hati tak tawar meski menyadari begitu berat rintangan di jalan yang akan ditempuh. Tak pula berkeluh kesah meski seribu duri bertebar di jalan yang harus dilalui. Prinsipnya, berputar dan maju terus, tempatkan segala rintangan di telapak kakimu.

Keempat, der panzer menggunakan meriam besar dan senapan otomatis berat. Selalu ada kelebihan yang telah diberikan sang pencipta. Setiap manusia sudah diperlengkapi “meriam” dan “senjata otomatis” untuk menghancurkan lawan.

Kelima, der panzer memiliki bobot yang sangat berat untuk membobol dinding pertahanan lawan. Kemauan membentur dinding penghalang, bukan menghindarinya, akan menghancurkan dinding itu. Kemauan berkorban, sengaja membentur dinding, terkadang harus dilakukan jikalau tak ada lagi jalan lain. Umumnya, dinding penghalang ini menandakan semakin dekatnya kita dengan pusat kemenangan. Tak ada kata berpaling ketika tak ada lagi jalan terlihat. Orang yang memiliki semangat der panzer melihat dinding sebagai jalan. Tabrak saja dinding itu, dan lihatlah, ternyata mudah menemukan pusat kemenangan. Jarak menuju kemenangan hanya selebar dinding.

Keenam, der panzer memberi efek mental bagi prajurit Bataliyon Infanteri (Yonif) atau prajurit tempur darat berjalan kaki. Orang yang bersemangat der panzer memberi efek mental bagi orang lain. Kehadirannya sangat dirindukan. Rasanya ada yang kurang jika dia tak ada. Kegiatan tertentu menjadi terasa lebih berbobot, berkualitas, jika dia yang bersemangat der panzer juga hadir dalam kegiatan itu.

Timnas der Panzer Jerman berjuang, berlari, terjatuh, tersungkur, berdiri dan terus bertempur sampai detik terakhir untuk memperoleh gelar “Juara” Piala Dunia 2014. Kita bukan Timnas Jerman, namun semangat der panzer kita butuhkan dalam perjuangan kehidupan.

“…Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (I Kor 9:25).
==================================

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s