Hikmat sebagai Personafikasi Metaforis

Hikmat sebagai Personafikasi Metaforis

Oleh: Paulus M. Tangke

Berdasarkan hasil penyelidikan ekspositoris terhadap kajian utama kitab Amsal 1:20-33; 4:1-9; 8:1-316, dan kajian pembanding kitab Deuterokanonika Kebijaksanaan Salomo; Deuterokanonika kitab Sirakh, dan kita PB 1 Korintus (khususnya: 1:21, 24, 30; 2:7-8, 16), maka dapatlah digambarkan personafikasi metafora hikmat itu sebagai person dari Perempuan/Seorang Ibu, Nabi Klasik, Allah Pencipta, dan Yesus Kristus.

Dalam perikop-perikop Perjanjian Lama, personifikasi melebihi dari suatu sifat Allah, seperti dilakukan oleh seorang penyair, yang mengacu kepada pribadi di samping Allah—sedikit banyak seperti juga terjadi dengan Firman dan Roh—tetapi monoteisme mutlak dalam kalangan Israel menjadi penghalang amat kuat bagi perkembangan ke arah itu. Benar juga bahwa tidak pernah ada doa kepada Kebijaksanaan, melainkan selalu kepada Allah untuk memperoleh kebijaksanaan. Sama seperti Firman dan Roh, Hikmat merupakan gagasan dinamis yang menggambarkan fungsi-fungsi Allah sendiri, sehingga khususnya dalam Keb 7 timbul kesan bahwa Hikmat mau digambarkan sebagai identik dengan Allah sejauh Ia berkarya di dunia ini. (A. Barucq menggunakan istilah legatus a latere: Kardinal utusan khusus Sri Paus untuk “menghadirkan” Sri Paus di luar Roma pada kesempatan tertentu, lih. Weiden, 1995:97).

5.1 Personafikasi Metafora Hikmat sebagai Perempuan/Seorang Ibu

Dalam kajian mengenai hikmat, kita mendapati personafikasi hikmat sebagai seorang perempuan. Istilah khokhma (maupun sofia) adalah bentuk feminim. Sejalan dengan personafikasi ini, para ahli umumnya telah lazim memandang khokhma sebagai sofia, perempuan. Personafikasi ini dikembangkan dalam kajian pertama Amsal 1. Hikmat bagai seorang ibu yang terus memperhatikan keberadaan anak-anaknya. Ia memiliki sifat kelembutan dan kasih sayang yang tidak terhingga. Ia terus berseru untuk memberikan nasehat kepada anak-anaknya agar memiliki kehidupan yang baik.

Para ahli hikmat dari zaman pasca-pembuangan dan zaman antar-perjanjian, semakin lama semakin melihat hikmat itu sebagai suatu oknum. Hikmat dilihat sebagai seorang Ibu Hikmat. Ibu Hikmat ini mengundang orang untuk duduk di mejanya dan mengajak orang belajar darinya mengenai misteri-misteri penciptaan Allah. Gambaran Ibu Hikmat ini merupakan salah satu ikonografis Yahudi maupun Kristen mengenai hikmat, yang berkembang di dalam kurun waktu yang cukup lama.

Personafikasi metaforis hikmat ini dapat dilihat pada hasil reproduksi sebuah gambar abad kesebelas, dalam Naskah Abad yang terdapat di St. Gallen (Weber, 1997:115). Terdapat gambar Ibu Sapeinta, seperti Gambar 1 berikut ini.

S5001995

Gambar 4. Ibu Sapeinta

Pada Gambar 1. Ibu Sapeinta terlihat sebagai seorang wanita diatas takhta; dalam postur sedang mengajar atau mengundang di depan rumahnya. Ibu Sapeinta terlihat sedang duduk di suatu singgasana dihadapan pilar pusat kuil hikmatnya. Keempat pilar tersebut adalah mewakili ketujuh sifat yang terpuji yaitu: temperantia (menahan diri), prudentia (mengenal diri); fortitudo-keberanian; justitia-keadilan; fides-iman, caritas-kasih, dan spes-harapan. Hikmat itu mengenakan mahkota berbentuk pelangi. Dengan tangan kirinya ia memegang tongkat kekuasaan dari tiga dahan berdaun dan tangan kanannya diangkat dalam posisi sedang mengajar (Weber, 1997:115).

5.2 Personafikasi Metafora Hikmat sebagai Nabi Klasik

Personafikasi berikut dari hikmat adalah sebagai nabi klasik. Hikmat menggambarkan peran dan hakikatnya sebagai nabi. Seorang nabi klasik kuno seringkali harus berada di tempat-tempat keramaian dan lapangan-lapangan umum; ia memanggil orang untuk mendengar kata-katanya dan memperhatikan peringatan-peringatannya tentang akan datangnya bencana dan kedahsyatan atas orang-orang yang mengabaikan nasihatnya. Seorang nabi bisa didefinisikan sebagai orang yang menerima firman dari Allah dan mengumumkannya kepada orang lain. Satu keyakinan dalam Perjanjian Lama ialah Tuhan, Allah Israel, mengutus mereka kepada umat-Nya untuk memberitahukan kehendak-Nya kepada mereka (Robert M. Paterson, 2000:578; bd. H. Rothlisberger, 2002:13-26). Setiap perkataan para nabi berasal dari Allah, sehingga perkataan itu mempunyai kebenaran, daya, dan berkuasa untuk melaksanakan yang dikatakan. Allah menyatakan sesuatu melalui para nabi, yang dikatakan pastilah terjadi (Suharyo, 1993:88). Para nabi klasik dipakai Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Berdasarkan ilham dari Allah, nabi menyampaikan pemberitaannya kepada manusia. Salah satu cara nabi menyampaikan pemberitaannya adalah melalui sastra-sastra puisi. Fungsi para nabi adalah mempelajari apa kehendak Allah bagi umat-Nya, memperingatkan umat, dan mendorong umat Allah untuk selalu mengikuti kehendak-Nya. Mereka menjadi juru-bicara Allah (Hinson, 1993130).

5.3 Personafikasi Metafora Hikmat sebagai Allah Pencipta

Personafikasi metafora hikmat sebagai Allah pencipta terutama kita temui dalam Kajian Amsal 8 dan kitab Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, dan kitab Sirakh. Ia menyatakan segala sifat-sifat Allah. Ia memiliki sifat Mahakuasa. Mahakuasa, berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan sifat-Nya sendiri. Dalam kenyataannya Ia tidak memilih melakukan sesuatu bahkan segala sesuatu yang sesuai dengan diri-Nya karena alasan-alasan yang hanya Dia ketahui sendiri. (Charles C. Ryrie, 1991:53). Ia senantiasa bersama dengan Allah. David Alexander mengatakan “she stands at the head of God’s creation, the very first of all created things” (David Alexander, 1974:357). Dalam kitab Kebijaksanaan Salomo, Jati diri hikmat digambarkan sebagai “pernafasan kekuatan Allah dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa” (7:25), dan “merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya” (7:26). Hikmat merupakan “cermin sempurna” (versi BIS) Allah. Dalam pasal 7:22-27, hikmat ini dinyatakan memiliki sifat-sifat Allah yakni: roh yang arif dan kudus, tunggal, suci, murah hati, sayang semua manusia, unik, puspa ragam, cerdas, gesit, jernih, murni, terang, kuat tegar, mengasihi yang baik, tekun, ramah, kokoh, percaya diri, bebas dari ketakutan, tidak bernoda, maha kuasa, memasuki segalanya, membaharui, tanpa kesusahan, memelihara semuanya, dan dapat hadir di mana-mana (bd. Sifat-sifat Allah dalam, R.C.Sproul, 2001:137-156). Sekalipun ada personafikasi mengenai Allah, namun kita tetap harus memperhatikan pendapat Peter Vardy. Vardy menyatakan bahwa ide tentang Allah sebagai satu keberadaan, dianggap secara agamawi tidak memadai oleh beberapa orang. Vardy menegaskan bahwa Allah bukanlah sesuatu, melainkan “keberadaan itu sendiri”, “kesatuan yang tidak terpecahkan”, “keseluruhan dari semua yang pada-Nya segala sesuatu bergantung”, “yang sebagaimana ada-Nya”, atau mungkin, “dasar dari keberadaan kita”. Di atas semuanya, Allah adalah “lain daripada” kita (Vardy, 1993:122). Allah memang hanya bisa kita nyatakan dalam keyakinan iman, dalam bahasa-bahasa personafikasi metaforis, seperti yang kita jumpai pada unsur-unsur personafikasi Allah dari hikmat.

5.4 Personafikasi Hikmat sebagai Kristus

Personafikasi metafora hikmat Allah sebagai Kristus kita temui dalam kajian pembanding 1 Kor.1:24. Sekalipun ungkapan ini muncul dalam Perjanjian Baru, namun konsep hikmat yang disebut rasul Paulus adalah sama dengan konsep hikmat Ibrani (Perjanjian Lama). Fritsch menyatakan bahwa jika amsal adalah tafsiran yang diperluas atas hukum kasih, kitab ini membantu melancarkan jalan bagi Dia, yang di dalam-Nya kasih yg sebenarnya menjadi manusia (C.T. Fritsch, 1950:169-183). Kristus menggenapi tulisan-tulisan hikmat dengan menyatakan kesempurnaan hikmat Allah (Mat 12:42; 1 Kor 1:24, 30; Kol 2:3). Pada penciptaan, Allah menggunakan Firman sebagai “alat” atau “penengah” di dalam pekerjaan Khalik. Penciptaan dunia dengan perantaraan Firman itu, membuktikan bahwa Firman itu bukannya suatu perkataan atau perintah belaka, melainkan suatu “pribadi” yang berkuasa dan bertindak seperti Allah, namun termasuk “di dalam” Allah sendiri (C. Barth, 2006:33). Firman Allah itu menjadi manusia (sarx, daging) Yesus Kristus, (Yoh.1:1-14). Ungkapan senada: In the NT the Greek word sophia occurs frequently and repeats most of teh OT usages suplemented by the relation which Christ bears to the divine wisdom. Wisdom is an attribute of God (Luke 11:49), the revelation of the divine will to man (1 Cor 2:4-7), a religious and spiritual understanding of the will of God on man’s part (Matt.13:54; James 1:5; and often ascribed to Christ in an absolute sense as perfect humanity), and the human intellectual capacity (Mat 12:24; 11:25). There is also a proud human wisdom which spurns the divine wisdom and which leads only to destruction (1Cor 1:19-20). The distinctive element in NT wisdom is its identification of Jesus Christ as the wisdom of God (1 Cor 1:24), who becames the ultimate source of all the Christian’s wisdom (K.S.Kantzer, 1989:1174). Yesus Kristus merupakan personafikasi hikmat Allah yang tertinggi, yang tersembunyi dalam masa Perjanjian Lama, dan diproklamasikan dalam Perjanjian Baru.

Unsur-unsur Kristologi dari konsep hikmat Perjanjian Lama ini juga ditemukan dalam kitab Kolose 1:15-17; Ibrani 1:1-3; dan Yoh 1:1-18. Dalam perumusan Kolose 1:15-17, terasa pengaruh dari Kebijaksaan Salomo 7 dan Ams 8, khususnya peranan Kristus dalam penciptaan (Arsitek/Kepala Pekerja): kesatuan fungsional dengan Allah dari siapa Ia berasal. Perkembangan ayat selanjutnya diberi unsur baru dari karya penyelamatan Yesus Kristus. Dalam kitab Ibrani 1:1-3, terjemahan akhir ay. 1 bukan “anak-Nya” melainkan “Sang Anak”. Pada ay. 2 ada gema dari Ams 8 (Arsitek/Kepala Pekerja), sedangkan dalam ayat 3 terasa pengaruh kuat dari Keb 7 dalam perumusan yang dilengkapi dengan gambaran tentang karya penyelamatan Kristus. Dalam perikop Yoh 1:1-18, ada kombinasi dengan gagasan Firman dari Perjanjian Lama sangat kuat. Kesatuan dengan Allah ditekankan, kesatuan fungsional. Ams 8 dipakai dalam penggambaran fungsi Firman dalam penciptaan (ay. 3). Sedangkan terang yang tidak dikalahkan oleh kejahatan mengingat Keb 7. Hubungan antara Hikmat dan manusia muncul dalam ketiga perikop PL (mis. “berkemah” seperti Sirakh 24:8), tetapi penjelmaan mengatasi apa yang dibayangkan dalam PL. (bd. Ayb 28; Sirakh 1; Keb 7-9; 1 Kor 1-2; 2 Kor 3-4; Ef 3; Yoh 5-8, lih. Weiden, 1995:97-98). Yesus Kristus sebagai personafikasi metaforis hikmat menambah kekayaan dari sebutan figuratif lainnya kepada gelar-gelar Yesus (lht. Darmawijaya, 1991:1dst).

Catatan: huruf Ibrani dan Yunani tidak akan jelas terbaca/tidak dikenali bila komputer anda belum terinstall huruf Ibrani/Yunani).

2 Tanggapan

  1. Tulisanya sangat memberkati sekaligu mengcerdaskan, tetap maju dalam ayunan pena supaya banyak orang dicerdaskan.http://harunministry.blogspot.com

  2. Tonganmo Sangmane, maju terus. RS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s