Personafikasi Hikmat dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo dan Sirakh

Personafikasi Hikmat dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo dan Sirakh

Oleh: Paulus M. Tangke

1. Deuterokanonika: Kitab Kebijaksanaan Salomo Personafikasi metaforis hikmat semakin berkembang dalam kitab Hikmat / Kebijaksanaan Salomo, dari zaman antar-perjanjian menjelang zaman Yesus (sesudah tahun 150 sM, lht. Weiden, 1995:326). Kitab ini, Kebijaksanaan Salomo, bagi gereja Protestan masuk kategori Apokrifa (Deuterokanonika), bagi Roma Katolik dan tradisi-tradisi Ortodoks kedua kitab tersebut bersifat kanonik (menjadi bagian dari kanon Kitab Suci, atau dipandang berwibawa ilahi, sehingga dapat menjadi ukuran atau norma bagi ajaran dan iman gereja). Istilah Apokrifa berarti “terselubung atau tersembunyi” dari kata Yunani apokruphos. Pada abad keempat Jerome adalah orang pertama yang menyebut kelompok literatur itu “Apokrifa.” Apokrifa terdiri dari kitab-kitab yang ditambahkan pada Perjanjian Lama oleh gereja Katolik, sementara kaum Protestan berpendapat bahwa kitab-kitab itu tidak kanonik. (Borg, 1997:112; Greatcom, 2007:1). Hikmat Salomo (sekitar 40 M.) ditulis untuk memelihara agar orang-orang Yahudi tidak jatuh ke dalam sikap skeptis, materialistis, dan menyembah berhala. Seperti halnya dalam Amsal, Hikmat dipersonifikasikan. Ada banyak perasaan yang demikian mulia yang diungkapkan dalam buku ini. (Greatcom , 2007:2). Jati diri hikmat digambarkan sebagai “pernafasan kekuatan Allah dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa” (7:25), dan “merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya” (7:26). Hikmat merupakan “cermin sempurna” (versi BIS) Allah. Dalam pasal 7:22-27, hikmat ini dinyatakan memiliki sifat-sifat Allah: roh yang arif dan kudus, tunggal, suci, murah hati, sayang semua manusia, unik, puspa ragam, cerdas, gesit, jernih, murni, terang, kuat tegar, mengasihi yang baik, tekun, ramah, kokoh, percaya diri, bebas dari ketakutan, tidak bernoda, maha kuasa, memasuki segalanya, membaharui, tanpa kesusahan, memelihara semuanya, dan dapat hadir di mana-mana. Hikmat ini selalu menyertai Allah dan mengenal perbuatan-perbuatan Allah. Ia mengetahui keajaiban-keajaiban yang akan dilakukan Allah dan bagaimana sejarah akan berkembang (8:8). Hikmat dinyatakan hadir waktu Allah menciptakan dunia (9:9). Ia mengetahui apa yang berkenan kepada Allah, apa yang benar dan sesuai perintah Allah. Ini semua menyatakan keberadaan hikmat yang tidak terpisahkan dari diri Allah. Hikmat yang tidak terpisah dari Allah ini menjadi sarana membentuk (BIS: menjadikan) manusia, dan “sarana” ini menguasai segala makhluk yang Allah ciptakan (9:2). Hikmat ini selanjutnya sangat berperan dalam sejarah umat Allah, Israel. Allah yang membawa Israel keluar dari Mesir, dalam kitab Kebijaksanaan Salomo, digambarkan bahwa hikmatlah yang menjadi pembebas Israel. Dalam pasal 10:15-19, dinyatakan bahwa Hikmat membebaskan suatu bangsa yang kudus dari suatu bangsa penjajah; Hikmat itu telah membawa mereka melintasi Laut Merah; menuntun mereka melewati lautan dalam; menenggelamkan musuh-musuh mereka; mengangkat mereka dari kedalaman samudera; hikmat itu masuk ke dalam jiwa seseorang yang mengabdi kepada Tuhan yang menghadapi raja-raja dengan pelbagai mujizat dan tanda; hikmat itu menjadi naungan pada siang hari dan cahaya bintang sepanjang malam. Peran-peran hikmat atas bangsa Israel ini terlihat tidak dapat dilepaskan dari peran Allah atas bangsa Israel. Sulit membedakan fungsi dan sifat hikmat dengan Allah. Kita bisa menarik kesimpulan adanya fungsi dan sifat yang sama antara hikmat dan Allah. Hikmat disini bukanlah suatu makhluk lain dari Allah. Hikmat menjadi personafikasi metaforis dari Allah sendiri. Selanjutnya, kitab ini menyatakan segi-segi manfaat dari memiliki hikmat. Dalam pasal 8:17, dinyatakan bahwa hidup akrab dengan hikmat berarti memiliki kehidupan kekal. Manfaat utama memiliki hikmat adalah berhubungan dengan hal pokok yang sering dicari dan dirindukan setiap insan, yakni: hidup kekal. Hal lain yang akan didapatkan dari hikmat adalah kehormatan dan penghargaan (8:10); hikmat memberi ketentraman, kegembiraan, dan kebahagiaan (8:16); memberikan petunjuk jalan, menampakkan Pemerintahan Allah, memperkenalkan hal-hal suci, membuat sejahtera dan berhasil dalam segala jerih payah (10:10). Unsur-unsur personafikasi hikmat ini dikemukakan juga oleh Wim van der Weiden. Weiden secara khusus memberi pendapatnya pada Keb 7:25-8:1. ia menyatakan bahwa Personifikasi kebijaksanaan amat kentara; tidak bicara sendiri, tetapi dibicarakan. Hubungan hikmat dengan Allah dilihat melalui sederetan kiasan dalam ay. 25-26, digambarkan kesamaan yang maksimal dengan Allah sambil mempertahankan juga perbedaan: pernafasan dari Allah yang kuat, pancaran murni dari Allah yang mulia, pantulan, cermin, gambar (= cap) dari Allah yang baik: jati diri hikmat tidak dari dirinya, melainkan dari Allah. Hubungan hikmat dengan manusia: Pasal 7:27-28, menjadikan manusia sahabat Allah, syarat mutlak bagi manusia untuk dikasihi Allah (fungsi rahmat dalam teologi Kristen). Fungsi hikmat adalah membaharui segala sesuatu, melaksanakan karya penyucian di dunia ini (ay. 27); tidak bisa dikalahkan kejahatan (ay. 29); bertindak sebagai penyelenggara ilahi (ay. 1). Dalam kesatuan yang amat erat dengan Allah, hikmat melaksanakan sejumlah fungsi ilahi (Weiden, 96-97).

2. Deuterokanonika: Kitab Sirakh

Personafikasi metaforis hikmat dan dikaitkannya sifat-sifat ilahi kepadanya, semakin berkembang dalam kitab-kitab dari zaman antar-perjanjian. Kitab Sirakh, ditulis sekitar tahun 180 sM, diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani tahun 132 sM (Weiden, 1995:297), disebut juga “Kebijaksanaan Ben Sura”, dan “Kebijaksanaan Yesus ben Sirakh”, biasanya kitab ini disingkat “Sir” atau “Ecclus” (Ecclesiasticus = Kitab Khas dari gereja). Kitab ini, Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo, bagi gereja Protestan masuk kategori Apokrifa, bagi Roma Katolik dan tradisi-tradisi Ortodoks kedua kitab tersebut bersifat kanonik (menjadi bagian dari kanon Kitab Suci, atau dipandang berwibawa ilahi, sehingga dapat menjadi ukuran atau norma bagi ajaran dan iman gereja (Borg, 1997:112). Jati diri hikmat dinyatakan oleh kitab Sirakh sudah ada “sebelum segala-galanya” (1:4). Hikmat ini terbit dari “mulut Yang Mahatinggi aku sudah terbit dan bumi kuliputi bagaikan kabut” (24:3). Keberadaan hikmat ini kembali disebutkan dalam pasal 24:9, yang menyatakan bahwa hikmat itu “Sebelum masa purba sejak awal mula aku telah diciptakan-Nya, dan sampai selama-lamanya aku tidak akan lenyap”. Pada pasal 24:8-12, hikmat dinyatakan menetap di kemah Yakub dan Israel menjadi milik pusakanya. Ini ketetapan dari Yang Mahatinggi. Hikmat itu menetap di Zion, dalam Kemah yang kudus, dan di Yerusalem kekuasannya beristirahat. Ini menyatakan hikmat sama dengan Shekinah (Kehadiran Allah). Peran Hikmat dinyatakan sebagai “Pengatur” dari ciptaan. Hal itu dapat kita lihat dalam pasal 42:21: “Ciptaan besar dari kebijaksanaan-Nya rapih diatur oleh-Nya, dari kekal sampai kekal Ia ada. Tidak ada sesuatu pun yang dapat ditambahkan atau diambil dari padanya dan Ia tidak membutuhkan seorangpun sebagai penasihat”. BIS menerjemahkan “Dunia yang rapi teratur menampakkan kebijaksanaan-Nya yang besar; Dia yang esa dari kekal sampai kekal. Tak ada yang dapat ditambahkan atau dikurangi daripada-Nya, Ia tidak membutuhkan siapa pun sebagai penasihat”. Hikmat dinyatakan sebagai “Pengatur” yang bekerja secara otomatis, tanpa pertimbangan dari siapapun. Disini kita melihat adanya unsur kesatuan antara hikmat dan Allah. Allah menciptakan dunia melalui hikmat-Nya. Tanpa hikmat Allah, penciptaan tidak akan mengalami keteraturan. Selanjutnya, dalam pasal 24:19-21, hikmat juga mengundang orang keperjamuannya, sama seperti undangan perjamuan hikmat dalam kitab Amsal. Hikmat itu berseru untuk mengajak orang ke perjamuannya, katanya: “Datanglah, siapa saja yang menginginkan aku, makanlah buah-buahku sampai kenyang. Kenanganku lebih manis dari madu, milikku lebih manis dari sarang lebah. Yang makan aku masih lapar juga dan yang minum aku masih haus. Orang yang taat kepadaku takkan kecewa dan yang bekerja dengan bimbinganku takkan berdosa.” (Sirakh 19-22, versi BIS, bd. Undangan Yesus dalam Matius 11:28; Yoh 4:14; Yoh 6:35). Personafikasi hikmat dalam kitab Sirakh ini dinyatakan juga oleh Weiden (1995:96). Menurutnya, dalam Sirakh, hikmat juga dipribadikan dan berbicara sendiri. Hubungan hikmat dengan Allah: “terbit dari mulut Yang Mahatinggi” (ay. 3), sebelum masa purba ia diciptakan oleh Tuhan dan untuk selama-lamanya tidak akan lenyap (ay. 9); oleh pencipta diberi tugas untuk menetap di Israhel (ay. 8); kebaktian khusus dalam kemah = Kenisah Yerusalem; diidentikkan dengan Taurat (ay. 23). Hubungan hikmat dengan manusia: hikmat berkuasa atas kosmon (ay.6) dan atas bangsa Israel (ay. 11); berakar dalam bangsa Israel (ay. 12); hikmat mengundang orang untuk mendekati dia (ay. 19-21); barangsiapa mendengarkan kebijaksanaan tidak akan berdosa (ay.22); diidentikan dengan Taurat yang diberikan Musa kepada Israel (ay.23). Fungsi hikmat adalah berkuasa atas kosmos dan umat manusia, secara khusus atas Israel oleh keputusan Sang Pencipta, dan melindungi manusia melawan dosa.

Satu Tanggapan

  1. terima kasih ya atas infonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s