Tiga Dimensi Kristologi Hikmat

Tiga dimensi Kristologi Hikmat dapat kita lihat pada gambar berikut ini:

Kristologi Hikmat:

Dimensi Pra-Eksistensi Historis

Dimensi Eksistensi Historis

Dimensi Pasca-Eksistensi Historis

Pada Gambar 1, kita melihat dimensi Kristologi Hikmat mencakup dimensi Pra-Eksistensi Historis (prae existentia), dimensi Eksistensi Historis (Yesus Sejarah), dan dimensi Pasca-Eksistensi Historis (post existentia, Yesus Kepercayaan). Dimensi pra-eksistensi dan pasca-eksistensi masuk dalam kategori “logos endiathetos” (Firman tak tercipta) dan dimensi eksistensi historis (Yesus Sejarah) masuk dalam kategori “logos prophorikos” (Firman yang menjadi daging).

1. Dimensi Pra-Eksistensi Historis

Dimensi Pra-eksistensi historis, prae existentia, menyatakan bahwa Kristus telah hadir dalam tata penciptaan sejarah (Yoh.3:13). Kristologi Hikmat menempatkan keberadaan Kristus tidak hanya pada masa tampil-Nya dimuka bumi. Kristus sebagai “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (1 Kor 2:7). Pertama kali diperkenalkan unsur Kristus dalam Perjanjian Lama, yaitu Kej 1:1-3. Ada Allah, Firman, dan Kuasa. Firman Allah diperkenalkan sebagai pribadi yang mempunyai kuasa mencipta, sekaligus diperkenalkan Roh Allah sebagai pembawa hidup dan ketertiban bagi seluruh ciptaan. Sejak awal penciptaan telah dinyatakan suatu pusat kegiatan dari tiga yang satu seutuhnya. Allah sebagai pencipta membuat alam semesta sebagai karya pikiran-Nya, mengungkapkan pikiran itu dalam wujud Firman, dan Roh-Nya bekerja sebagai asas yang menghidupkan. Kegiatan Allah dalam penciptaan dan pemerintahan-Nya kemudian dihubungkan dengan Firman yang dipersonafikasikan sebagai Hikmat (Ams. 8:22), juga dihubungkan dengan Roh sebagai Pembagi segala berkat dan sumber kekuatan badani, semangat, kebudayaan, dan pemerintahan. Yesus Kristus sebagai pusat teologi Kristen, tidaklah sama dengan anggapan Ernst Kasemann yang menggambarkan Kristologi Firman sebagai naive atau doketisme yang belum mantap (Darmawijaya, 1986:62).

2 . Dimensi Eksistensi Historis

Dimensi eksistensi historis Kristus nyata dalam diri manusia Yesus dari Nazareth. Dimensi Yesus Kristus ini adalah “logos prophorikos”, sebagaimana diberitakan dalam Injil Yohanes. Yesus Historis ini menjadi manusia sejati, dilahirkan, bertumbuh, mengalami rasa haus dan lapar, dan bahkan mengalami suatu kematian. Dimensi eksistensi historis ini mewujudkan setiap rencana hikmat Allah yang tersembunyi. Ia mendemonstrasikan segala kehendak Allah dalam perkataan dan tindakan-Nya. Perkataan-Nya mengandung kuasa hikmat, bahkan sering membuat para ahli agama tercengang. Tindakan-tindakan-Nya senantiasa dalam rangka menciptakan kerajaan Allah. Yesus Sejarah ini dilaporkan dalam kitab-kitab Injil, mengenai kelahiran, pertumbuhan, dan pelayanan-pelayanan yang dilakukan-Nya. Semua kitab Injil Sinoptik menggambarkan Yesus dengan latar kehidupan orang-orang Yahudi. Masa hidup-Nya termasuk dalam kehidupan Palestina pada abad pertama. (mengenai Yesus sebagai manusia, lihat Guthrie, 1993:243 dst). Seluruh bagian kitab mengandung pesan bahwa Yesus Kristus benar-benar hadir dimuka bumi secara historis.

3. Dimensi Pasca-Eksistensi Historis

Dimensi Pasca-eksistensi historis ini biasa disebut sebagai “Yesus Kepercayaan”, “Yesus Iman”, atau “Yesus Pasca-Kebangkitan”. Ungkapan-ungkapan tersebut dapat diterima karena memang benar bahwa pemberitaan mengenai Yesus sebagai Tuhan baru dimulai setelah kebangkitan-Nya. Pengakuan pertama bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah pada saat kebangkitan-Nya, melalui Thomas: ~O ku,rio,j mou kai. o` qeo,j mouÅ ho kurios mou kai ho Theos mou—ya Tuhanku dan ya Allahku”(Yoh. 20:28). Yesus yang telah bangkit ini, senantiasa hidup menyertai manusia, Ia hadir sebagai Roh Kudus (Kis 2:33). Kepercayaan kristiani terhadap dimensi Kristologi hikmat pasca-eksistensi historis ini, mencakup hal sudah, kini, dan masa depan. Hal sudah diyakini dalam hal Yesus Kristus sudah (perfectum, masa lampau) mengalahkan segala kuasa dosa, maut dan Iblis, di dalam kematian-Nya. Hal kini (praesens, masa kini) dimana ada keyakinan bahwa Ia hidup menyertai kita melalui Roh-Nya dan kini Ia duduk disebelah kanan Allah. Hal masa depan (futurum) Ia datang kembali sebagai Hakim dan Raja, dan setiap orang yang ditebusnya akan memperoleh kehidupan yang kekal. (Nifrik & Boland, 1993:310).

2 Tanggapan

  1. umaba opara ya ladi kua la umparokkoi pangngappa’ta tudisanga tallu sangbuabannang misa’ a’ganna.yake denki’ misa’ tau lama’manarangngi’ tu diona to sitongannna undaga’riki’ potto-potto lako te lino….belanna moi umbaladikua umpokadai kumua yatu puang susito sia ten to na inang puang ya tu puang anta tolinokita temai apa o sarota la ungaraga polei lan tangnga’ta kumu yatu puang susi to sia ten to…mbai melo ya ke ta pada – pada ungkaka’kaka’ kaleta kumua to mindariki temai la untassere’ sere’ puang????

  2. thanks ya,,,laur biasa. Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s