TEOLOGI RELIGIONUM HENRI TEISSIER: DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

Teologi Religionum Henri Teissier:

DEMI KESAKSIAN KRISTEN DI TENGAH-TENGAH MEREKA  YANG HENDAK TINGGAL SEBAGAI ‘BUKAN KRISTEN’

             Persoalan penting yang dikemukakan Henri Teissier dalam tulisan ini adalah: bagaimanakah memperdamaikan keyakinan kita bahwa “di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12), dan keinginan kita untuk menghormati keterikatan para pendengar kita yang beragama Islam kepada suatu tradisi keagamaan yang lain?

I. Perkembangan Hubungan

            Teissier berpendapat bahwa perkembangan hubungan antara lingkaran-lingkaran kebudayaan dapat menentukan kelahiran suatu tahap yang baru dalam sejarah kesaksian kristen. Tahap yang baru tersebut adalah:

1. Berkembangnya suatu theologi mission, yang memperhatikan satu tipe gereja-gereja katekumenal. Ini terjadi sebagai konsekuensi pertemuan kekristenan dengan agama-agama lain dalam sejarah. Pada abad 16-19, penginjilan Eropa ditujukan pada bangsa-bangsa lain, dan melahirkan generasi baru Kristen dalam bangsa itu. Kehadiran generasi Kristen baru dalam bangsa non-Eropa ini, dalam lingkungan kebudayaan baru, melahirkan juga theologi mission yang memperhatikan tipe gereja katekumenal. Baca lebih lanjut

Iklan

TEOLOGI BANGUNAN (TEOLOGI AWAM?)

Teologi Bangunan (Teologi Awam?)

“Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah” (Ibrani  3:4).

Gambar 1: Bangunan Teologi Kontekstual-Awam? gambar oleh PM Tangke

Gambar 1: Bangunan Teologi Kontekstual-Awam? by PM Tangke

 Teologi Bangunan merupakan Teologi Kontekstual sebagai refleksi iman atas Firman Allah (Alkitab) dan konteks di mana gereja hadir sebagai suatu keprihatinan tertinggi, akan terus berkembang. Pola berpikir pra-modern yang menerima Injil apa adanya dan pola berpikir modern yang rasional, kritis, dan destruktif terhadap kebenaran Injil yang diterima pra-modern, kini bergeser ke pola berpikir post-modernisme. Pola berpikir post-modern tidak menerima suatu kebenaran apa adanya, namun tidak pula destruktif terhadap kebenaran yang sudah ada. Post-modern memadu anasir pemikiran yang berbeda-beda. Kepelbagaian pemikiran, kebenaran, dan realitas yang ada dirumuskan secara baru, sehingga menjadi suatu kebenaran yang relevan dan aktual.  Menurut Jencks, postmoderisme adalah “campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Postmoderisme adalah kelanjutan moderisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme” (Jencks, 89:7). Baca lebih lanjut

Kilas Reformasi Gereja-Lahirnya Protestan

 Kilas Reformasi Gereja-Lahirnya Protestan

Salah satu pemicu munculnya reformasi gereja adalah adanya ajaran (kertas?) indulgensia. Indulgensia adalah penghapusan (sepenuhnya atau sebagian) dari penghukuman sementara yang masih ada bagi dosa-dosa setelah kesalahan seseorang dihapuskan melalui absolusi (pernyataan oleh imam bahwa dosa seseorang telah dihapuskan). Saat itu terjadi penyalahgunaan indulgensia oleh oknum-oknum gereja, yaitu sebuah indulgensia dapat dibeli seorang umat untuk dirinya sendiri ataupun untuk salah seorang sanak keluarga yang sedang berada di api penyucian. Johann Tetzel, seorang imam Dominikan, ditugasi berkeliling di seluruh wilayah keuskupan Uskup Agung Albert dari Mainz untuk mempromosikan dan menjual indulgensia untuk merenovasi Basilika St. Petrus di Roma. Tetzel sangat berhasil dalam hal ini. Ia menganjurkan: “Begitu mata uang bergemerincing di dalam kotak, jiwa yang sedang menanti di api penyucian pun akan terlepas“.

Baca lebih lanjut

Gereja dan Politik

Politik adalah seni kemungkinan yang bertujuan mengatur negara supaya warganya sejahtera. Pengertian ini saya dasarkan dari istilah Yunani: polites (warga negara/kota), Yer.29:7, dan UU No.2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Politik seringkali bercitra negatif karena dianggap bahwa orientasi politik hanyalah kekuasaan semata, yang ujung-ujungnya duit (uud). Kekuasaan mesti diartikan “mengatur”. Mengatur negara/daerah supaya Baca lebih lanjut