PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

PEMIKIRAN TH SUMARTANA TENTANG RE-KRISTOLOGI UNTUK MENYONGSONG DIALOG KRISTEN-ISLAM DI INDONESIA

 (Th. Sumartana: Direktur Institut Dian/Interfidei, Yogyakarta. Praktisi Dialog Antar-umat Beragama)

I. Pendahuluan

            Sumartana berpendapat bahwa  pemikiran keagamaan di Indonesia sedang mencari formatnya yang lebih memadai untuk menjawab tantangan-tantangan yang spesifik. Konteks kehidupan masyarakat Indonesia merupakan konteks di mana Kristen dan Islam mempertaruhkan inti-inti ajarannya untuk hadir secara utuh dan menyeluruh dalam gerak hidup yang secara khusus memberi corak kepada interaksi kedua agama tersebut di tengah masyarakat.

Sumartana menyebutkan dua ciri yang setidak-tidaknya akan selalu memberi warna: pergulatan dengan masalah pembangunan, dan pluralisme budaya dan agama. Pertama, Persoalan dengan masalah pembangunan adalah bagaimana tempat dan sumbangan agama Kristen-Islam dalam konteks kolektif yang besar untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan? Konteks kolektif tersebut, yaitu: kemiskinan, tidak berpengharapan, kerusakan lingkungan, ketidakadilan, marjinalisasi dan diskriminasi hak asasi dalam kehidupan budaya, politik, ekonomi, sosial dan agama. Kedua, Persoalan  Pluralisme – keanekaragaman yang masih dalam proses integrasi selaku masyarakat masih dalam tahap formatif.

II. Kristus dan Muhammad

Yesus dan Muhammad merupakan tokoh yang melahirkan agama besar di dunia, Kristen dan Islam. Keberhasilan kedua tokoh ini dalam merumuskan dan mengarahkan pemahaman kehidupan yang benar-benar mendasar bagi manusia. Baca lebih lanjut

Iklan

Gereja Melawan Korupsi: Tema Paskah 2012

Gereja Melawan Korupsi

Suatu Komitmen Operatif atau Fatamorgana-Utopis (?)

GEREJA MELAWAN KORUPSI:  Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

Suatu Komitmen atau Fatamorgana-Utopis (?)

 Tema Paskah 2012 dari PGI/KWI:

“Kebangkitan-Nya Menyingkapkan Integritas Allah dalam Wajah Kemanusiaan: Gereja Melawan Korupsi” (bdk. Efesus 5:8-11).

Corruption makes fools of sensible people, and bribes can ruin you (Pengkhotbah  7:7).

Tema Paskah PGI-KWI seharusnya bersifat operatif-operasional, bukan sekedar konsepsional. Materi berikut ini tentang Pokok Pikiran Peran Gereja Memberantas Korupsi dan Pesan Paskah 2012, dapat membantu kita menerapkan tema Paskah kita. Baca lebih lanjut

TRINITAS

picture45

Oleh: Paulus M. Tangke

Kata trinitas berasal dari bahasa Latin, yang berarti “ketigaan” (trinus-tiga-tiga), yang dipahami sebagai ajaran keesaan: Bapa-Putra-Roh Kudus. Istilah Trinitas atau tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab. Sejarah Trinitas atau tritunggal telah mulai dipergunakan oleh Tertullianus (abad 2 M: 120-225). Istilah substansi (zat) dan persona (pribadi) berasal darinya. Tertullianus merumuskan bahwa Tuhan Allah adalah satu dalam pribadiNya/zatNya dan tiga dalam personaNya/pribadiNya/oknumNya (una substantia, tres personae). tetapi barulah pada abad ke-4 kata Tritunggal mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen (melalui konsili Nicea 325 dan Konsili Konstantinopel—menyusul konsili Teledo [589 M] Baca lebih lanjut

KRISTOLOGI HIKMAT MENERANGI YESUOLOGI (YESUS SEJARAH)

KRISTOLOGI HIKMAT MENERANGI YESUOLOGI (YESUS SEJARAH)

by.paulusmtangke

Pengkajian Yesus Sejarah yang telah berkembang semakin kuat dikalangan para teolog, pada satu sisi sangat menolong kita memahami Yesus Sejarah, namun dipihak lain pengkajian tersebut justru menggoyahkan suatu keyakinan. Ada dua hasil dari pengkajian Yesus Sejarah yang dapat kita perhatikan yakni: Yesus Sejarah Alkitabiah dan Yesus Sejarah Sekuler. Yesus Sejarah Alkitabiah Dalam bagian tulisan ini, yang dimaksud dengan Yesus Sejarah Alkitabiah adalah hasil-hasil pengakajian Yesus sejarah yang tetap mengakui kebenaran Alkitab, khususnya kitab-kitab Perjanjian Baru yang memberitakan Yesus. Upaya mengkaji Yesus sejarah sebenarnya berlaku juga dalam Alkitab. Kitab-kitab Injil jelas merupakan rekonstruksi tentang Yesus sejarah dari penulis Injil. Misalnya kitab Injil Lukas yang ditulis Baca lebih lanjut

TIGA MODEL PANDANGAN TEOLOGI AGAMA-AGAMA

Ada tiga pandangan teologi agama-agama atau teologi religionum, yaitu:

1. Eksklusivisme

Pertama, pandangan eksklusivisme memiliki pandangan eksklusif mengenai keselamatan. Eksklusivisme menegaskan bahwa hanya di dalam agama Kristen ada kebenaran dan keselamatan, sedangkan diluar agama Kristen sama sekali tidak ada keselamatan. Ayat yang digunakan umumnya adalah kitab Kis 4:12 dan Yoh 14:6. Dalam Gereja Katolik, Paus Bonifasius VIII merumuskan pandangan ini dalam semboyan “Extra ecclesia nulla salus” yang berarti “diluar gereja tidak ada keselamatan”. Teolog yang mewakili pandangan eksklusif adalah Karl Barth dan Hendrik Kraemer. Barth berpendapat bahwa agama adalah ketidakpercayaan. Agama-agama merupakan upaya manusia yang sia-sia untuk mengenal Allah. Allah hanya bisa dikenal kalau Allah sendiri yang memperkenalkan DiriNya. Allah sudah memperkenalkan diriNya didalam dan melalui Yesus Kristus. Injil adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, sedangkan agama-agama adalah upaya manusia yang sia-sia. Sebab itu, tidak ada hubungan antara Injil dengan agama-agama. Tidak ada hubungan antara anugerah Allah di dalam Yesus Kristus dengan upaya sia-sia manusia. Ini juga berlaku bagi agama Kristen. Tetapi agama Kristen dibenarkan karena Injil anugerah yang dipegangnya. Hal senada, namun beda argumen disampaikan Kraemer, yang Baca lebih lanjut