TEOLOGI BANGUNAN (TEOLOGI AWAM?)

Teologi Bangunan (Teologi Awam?)

“Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah” (Ibrani  3:4).

Gambar 1: Bangunan Teologi Kontekstual-Awam? by PM Tangke

Gambar 1: Bangunan Teologi Kontekstual-Awam? gambar oleh PM Tangke

Gambar 1: Bangunan Teologi Kontekstual-Awam? gambar oleh PM Tangke

Teologi Bangunan merupakan Teologi Kontekstual sebagai refleksi iman atas Firman Allah (Alkitab) dan konteks di mana gereja hadir sebagai suatu keprihatinan tertinggi, akan terus berkembang. Pola berpikir pra-modern yang menerima Injil apa adanya dan pola berpikir modern yang rasional, kritis, dan destruktif terhadap kebenaran Injil yang diterima pra-modern, kini bergeser ke pola berpikir post-modernisme. Pola berpikir post-modern tidak menerima suatu kebenaran apa adanya, namun tidak pula destruktif terhadap kebenaran yang sudah ada. Post-modern memadu anasir pemikiran yang berbeda-beda. Kepelbagaian pemikiran, kebenaran, dan realitas yang ada dirumuskan secara baru, sehingga menjadi suatu kebenaran yang relevan dan aktual.  Menurut Jencks, postmoderisme adalah “campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Postmoderisme adalah kelanjutan moderisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme” (Jencks, 89:7).

Perkembangan teologi kontekstual di era post-modernisme ini mestilah jelas dari segi komponen-komponennya, sehingga layak disebut sebagai bangunan. Kritik Lumintang dan kriteria berteologi Tillich memberi inspirasi menarik untuk memandang bangunan teologi kontekstual yang jelas komponennya, seperti gambar 1 di atas.

Ada tiga komponen utama pada Gambar 1: ada pondasi, dinding, dan atap.

Pondasi, sebagai komponen pertama,  merupakan dasar utama dari suatu bangunan. Pondasi memungkinkan suatu bangunan dapat berdiri tegak dan kuat, sekalipun bangunan itu bertingkat. Jika teologi kontekstual jelas menempatkan Allah yang diberitakan Alkitab menjadi pondasi atau dasar, maka identitas teologi itu akan jelas dan diterima dengan baik. Komponen dinding dan atap akan aman terbentuk dan menjadi bangunan yang indah dan kuat.

Komponen kedua, Dinding atau badan bangunan, mencakup: tiang, dinding, pintu, jendela. Badan dari teologi kontekstual itu adalah konteks, yang menjadi keprihatinan tertinggi disuatu tempat. Konteks ini dapat berupa budaya, pluralisme, kemiskinan, politik, ketidakadilan, teknologi, pengangguran, pendidkan, gender, hukum, hak asasi, lingkungan hidu, dan lain-lain.

Komponen ketiga, Atap, yang mencakup: konstruksi raja, reng, kasau, penutup/atap. Atap bagi teologi kontekstual dapat berupa ilmu sosial, ilmu budaya, ilmu antropologi, ilmu filsafat, ilmu psikologi, ilmu sejarah, kritik teks, kritik narasi, kritik bahasa, dan lain-lain.

Ketiga komponen ini merupakan kriteria utama dalam membangun teologi kontekstual. Kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada suatu bangunan megah, ketika kehilangan salah satu komponennya. Rancang bangun teologi kontekstual dapat diselesaikan dengan baik tergantung dari ketiga komponen ini. Siapapun yang bernaung dalam bangunan ini, akan merasakan manfaat keselamatan.

Secara biblika, Allah senantiasa menyatakan dirinya secara kontekstual. Allah menyatakan dirinya dalam konteks keprihatinan tertinggi para umat. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dengan sebutan “‘ehyeh hy<h.a, Akulah”  dalam Perjanjian Lama (Kel.3:14). Demikian juga dalam Perjanjian Baru, Allah dalam Yesus Kristus senantiasa menyatakan diri-Nya sesuai dengan konteks keprihatinan tertinggi manusia, dengan sebutan “ego eimi VEgw, eivmi Akulah”. Kedua pernyataan dalam Alkitab ini, “‘ehyeh dan ego eimi adalah suatu hal yang penting karena menyatakan keberadaan Allah secara kontekstual dalam pergumulan manusia yang tertinggi. Ketika Yahweh (TUHAN) memperkenalkan namaNya “ehye asyer ehye” kita menyadari itu dinyatakan dalam konteks pergumulan Musa dan umat Israel. Demikian juga ketika Yahweh hadir dalam wujud manusia Yesus, Ia menyatakan diriNya sebagai “ego eimi” untuk menjawab pergumulan manusia dalam konteksnya. Yesus menyatakan dirinya sebagai “air” ketika manusia bergumul akan pentingnya air dalam konteksnya. Yesus menyatakan diri sebagai gembala ketika manusia bergumul akan pentingnya gembala dalam konteksnya. Yesus tidak menyatakan diri sebagai air ketika manusia bergumul akan pentingnya gembala.

            Alasan penting menjadikan pernyataan Allah ini sebagai pondasi teologi kontekstual karena: pertama, ungkapan ‘ehyeh adalah menekankan bahwa Allah adalah Allah yang berbuat apa yang Allah kehendaki; Allah akan hadir dengan aktif seperti yang dipilih sendiri oleh Allah; Allah yang bertindak dan bahwa Ia sendirilah yang memutuskan apa yang harus dikerjakanNya; Allah menyatakan namaNya dan menyatakan janji tentang kuasa Allah dan kehadiranNya yang terus menerus bersama mereka dalam proses pembebasan (Holladay; 1989; Pixley; 1990:9). Kedua, perkataan Aku adalah  menjelaskan peran-peran tertentu dari Yesus, yaitu untuk menguatkan, menyinari, mengakui, memelihara, memberi hidup, membimbing dan membuat produktif (Sutanto; 2004.; Wenham; 1990; Miller; 1988). Ketiga, teologi kontekstual mesti selalu menghadirkan “keberadaan Allah” dalam teologi kontekstual, atau dengan istilah Lumintang, agar tidak menjadi teologi yang kehilangan “theo(Allah)-nya”.

            Komponen bangunan teologi kontekstual untuk “badan” dan “atap” selalu ada tersedia untuk kita pergunakan. Namun komponen “pondasi” sebagai dasar berteologi tidaklah selalu tersedia untuk kita pergunakan. Perlu penggalian teks Alkitab (hermeneutic) secara ketat. Bagaimana Allah yang diberitakan oleh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Alkitab) dapat diramu menjadi pondasi bangunan teologi kontekstual? Ini persoalan yang menarik sekaligus menantang untuk terus diteliti secara biblika, oleh setiap orang percaya.

            Termasuk orang awam? Ya! (Sebenarnya, tidak ada orang awam karena semua orang percaya dapat merefleksikan imannya sebagai suatu teologi). Model rancang bangun teologi kontekstual ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau merefleksikan imannya dalam pergumulan konteks. Mari, refleksikan iman kita. Bayangkan, bangunan apa yg mau dibangun, besar atau kecil, lalu perkuat pondasi. Persoalan factual apa yang mau dinyatakan, lalu buatkan pondasi (ayat Alkitabnya). Bahas menggunakan disiplin ilmu apapun untuk menyelesaikannya.

by. PM Tangke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s